Search

Siluet Serigala di Jalan Antar Negara Lintas Schengen

Kami melintasi lima negara Eropah mulai dari Denmark, Jerman, Polandia, Ceko, Slowakia dan masuk lagi ke Polandia sejauh 1000 km,  mencakup banyak negara yang berbeda tingkat kemakmuran, bahasa, suku hingga budayanya. (foto-foto: Hendrata Yudha)
Kami melintasi lima negara Eropah mulai dari Denmark, Jerman, Polandia, Ceko, Slowakia dan masuk lagi ke Polandia sejauh 1000 km, mencakup banyak negara yang berbeda tingkat kemakmuran, bahasa, suku hingga budayanya. (foto-foto: Hendrata Yudha)

Krakow, Polandia, reportasenews.com-Witamy w Rzeczypospolitej Polskiej” (Selamat datang di Republik Poland) demikian diucapkan Dariusz Stanislaw, pengendara sedan Toyota Avius yang kami tumpangi ketika melintas dari perbatasan Jerman-Polandia, di kota kecil Olzyna Forst, Polandia.

Tanda lainnya memasuki bekas negara komunis ini, jalannya tidak rata. Mobil kami naik turun, grajak-grujuk kata orang Betawi karena jalan betonnya yang kami lintas tidak rata dan banyak pecahan.  Bendera Polandia Putih Merah, beda tipis lah dengan Merah Putih kebanggaan NKRI. Kesamaan ini, walau kecut juga hampir mirip kualitas infrastrukturnya.

Jerman yang kaya, kualitasnya bagus dan rata, tanpa speed limits kendaraan dapat melaju sekencang-kencangnya di jalur U Bahn yang terkenal itu.

Di Polandia, ya itu tadi, begitu jalan jelek dan nah itu kita memasuki wilayahnya.

Malam sebelumnya, kami memutuskan menginap di motel kecil di pinggir jalan bebas hambatan Polandia. Kalau di Indonesia, motel ini memang khusus pelancong dan sopir-sopir truk antar negara.  Kamarnya ada yang untuk sendiri hingga berempat, mau pilih kamar mandi di luar atau di dalam. Ruangan kamarnya bersih dan bagus, wangi lah. Kami memilih kamar dengan empat tempat tidur, harganya pun tidak terlalu mahal 250 zloty atau Rp 930.000, (kurs 1 zloty = Rp 3720) per malam.

Motel pengembara di Polandia, murah dan bersih cocok untuk pengendara antas lintas negara-negara Schengen.

Motel pengembara di Polandia, murah dan bersih cocok untuk pengendara antas lintas negara-negara Schengen.

Mengikuti jalur mudik Dariusz ke rumahnya di Desa Tylmanowa, Polandia Selatan, memang cukup melelahkan.

Seharian kemarin, kami melintasi lima negara Eropah mulai dari Denmark, Jerman, Polandia, Ceko, Slowakia dan masuk lagi ke Polandia. Negara-negara di Eropah memang tidak terlalu jauh, kira-kira dari Provinsi Banten hingga Jawa Tengah namun mencakup banyak negara yang berbeda tingkat kemakmuran, bahasa, suku hingga budayanya.

Sepanjang hari, Dariusz yang karakternya menyupirnya mirip sopir-sopir bis ALS (Antar Lintas Sumatera) kencang, jarang istirahat dan pandai mengontrol kendaraannya, tetap menginjak gasnya hingga pol. Rata-rata mobilnya dibawa hingga kecepatan 130 km per jam. Bagawanti Esti Suyoto yang menjadi navigatornya tetap was-was, karena suaminya itu jarang mau makan padahal jarak istirahat paling jauh tiap empat jam.

“Dariusz ini senang nyupir gak mau digantiin orang lain kalau jalan, begitu juga kalau ke Indonesia maunya nyupir sendiri ke Purwokerto,” ujar Bugi, wong Purwokerto yang telah bermukim lebih dari 30 tahun di Norway.

Jalan Komunis

Bosan melewati jalan bebas hambatan, Dariusz menawarkan pindah ke kota Ostrava, Ceko. Wah kami melewati jalan komunis lagi, namun rasa penasaran dalam traveling ini tak bisa dituntaskan. Maka, dengan anggukan kepala kami menerima tawarannya ke jalan biasa menuju Ceko.

Ceko, adalah sebuah negara di Eropa Tengah yang berdiri dari 1918 hingga 1992. Pada 1 Januari 1993, negara ini pecah secara damai menjadi Ceko dan Slowakia, yang tadinya dikenal dengan Perceraian Beludru. Ceko dikenal sebagai daerah industri senjata, semenjara Slowakia daerah pertanian.

Seniman Vasclav Havel, Presiden Cekoslowakia yang “mendorong” perceraian dua negara berbeda suku ini pada 1993 lalu.

Kota Ostrava yang menjadi tujuan kami adalah salah satu pusat industri senjata Ceko.

Satu sudut Kota Ostrava, Ceko yang dingin dan kaku dengan peninggalan patung zaman komunisme.

Satu sudut Kota Ostrava, Ceko yang dingin dan kaku dengan peninggalan patung zaman komunisme. Ari, Bugi dan Dariusz.

Sisa jalan komunis masih terasa di wilayah ini, walau sekarang mereka sudah masuk dalam Uni Eropa. Bekas pos pemeriksaan di wilayah perbatasan juga sudah dibongkar, sehingga ketika masuk ke wilayah Ceko ini kami hanya melihat tanda lalu lintas biasa dengan bendera Uni Eropah berupa lingkaran bintang dengan warna dasar biru.

Jalan utama di Ostrava yang sepi dan dingin. Kami datang hari Minggu ketika kebanyakan toko dan mall juga tutup di kota ini.

Jalan utama di Ostrava yang sepi dan dingin. Kami datang hari Minggu ketika kebanyakan toko dan mall juga tutup di kota ini.

Bekas-bekas pabrik masih terlihat utuh di kota ini. Lokasi pabrik senjata ini sengaja dibiarkan dan sekarang dikembangkan menjadi lokasi syuting maupun konser-konser musik jazz.  Bahwa kota ini masih jauh tertinggal, tampak dari cat bangunan yang berwana kusam kebanyakan abu-abu.

Kapitalisme hadir dalam bentuk yang kentara sekali, dengan berdirinya kasino besar di jalan utama Ostrava, Ceko, dengan mencolok di bekas negara komunis ini.

Kapitalisme hadir dalam bentuk yang kentara sekali, dengan berdirinya kasino besar di jalan utama Ostrava, Ceko, dengan mencolok di bekas negara komunis ini.

“Sopir” Antar Lintas Schengen (ALS) Dariusz Stanislaw kemudian membawa kami turun ke selatan melintasi Kota Novitark di Slowakia.

“Biar sekalian merasakan Ceko dan Slowakia, walau sekarang sudah berpisah tapi masih menjadi satu,” kata Dariuzs dalam bahasa Norway, yang diterjemahkan oleh Bugi.

Sepanjang perjalanan melintas Pegunungan Turzovka antara Ceko dan Slowakia,  gelap dan seram. Hujan salju dan es yang menghantam sepanjang perjalanan bertambah ngeri-ngeri sedap, soalnya hutan pinus yang lebat di pinggir jalan dengan munculnya bulan purnama dengan kabut tipis memaksa kami membayangkan romansa pegunungan abad pertengahan, yakni penampakan siluet serigala di atas batu. Hanya suara lolongannya saja yang belum kedengaran.

“Iya nih, gue agak spooky dengan daerah ini,” jujur Bugi.

Ari yang duduk di sebelah saya juga tak henti-hentinya berdoa sepanjang perjalanan selama 4 jam itu. Ngantuk tak bisa merem, tapi hati tak tenang memikirkan jika terjadi kondisi darurat di tengah hutan khas daratan Eropah Tengah ini.

Kami membayangkan romansa pegunungan abad pertengahan, yakni penampulan siluet serigala di atas batu. Hanya suara lolongannya saja yang belum kedengaran. (Ist)

Kami membayangkan romansa pegunungan abad pertengahan, yakni penampakan siluet serigala di atas batu. Hanya suara lolongannya saja yang belum kedengaran. (Ist)

Jalan perbatasan Slowakia ini agar terbelakang. Rumah-rumah petani di pinggir jalan tiada penerangan listrik yang cukup, mirip-mirip lagi kebagian pemutusan PLN di Indonesia. Di beberapa desa terlihat kerlap-kerip lampu keci di lereng gunung.

“Itu lampu-lampu di kuburan, kebiasaan masyarakat kampung di sini,” tukas Dariusz. Wah, bulu kuduk di tengkuk makin berdiri membayangkan munculnya monster berjas di malam “jahanam” ini.

Ari baru bisa bicara setelah kendaraan  melintasi Kota Liepnica Wielka menuju Nowy Targ di Polandia yang bermandikan cahaya lampu listrik.

“Ampun deh, gue gak nyaman melintasi Slowakia ini. Kirain daerah angker cuma ada di Indonesia aja, gak taunya di sini lebih serem,” ujarnya.

Dariusz si sopir Antar Lintas Schengen juga baru bisa tertawa-tawa, sebab sebentar lagi masuk ke kampung halamanya di Tylmanowa, jauh di udik bagian selatan Polandia. Padahal sejak masuk dari Slowakia, dia juga gak kalah diamnya mungkin juga membayangkan lolongan serigala berbulu abu-abu.

Kalau saya, akhirnya tertidur pulas saja. Males banget melihat kuburan berlampu kerlap-kerlip di lereng gunung terus terbayang-bayang di depan mata. (Hendrata Yudha, Krakow, Polandia)




Loading Facebook Comments ...