Search

Surat Terbuka Untuk Ketua Umum PSSI – Iwan Bule (Bagian 2)

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan. (foto. Ist)

GUNAKAN CIMENG

Penulis : Cocomeo

Ada omongan yang keluar dari mulut Iwan Bule. Kalau, mBah Coco itu tukang nyimeng. Ketika kuping semakin tipis dan marah. Ketum PSSI sempat bilang, “Saya tau dia doyan ganja, kalau mau saya menggunakan kekuasaan, mudah melaporkan dan menangkap mBah Coco,” demikian yang didengar mBah Coco. Katanya, sampai har ini, masih doyan “daun surga”.

Pertanyaannya, siapa yang jadi pembisik berat Iwan bule, tentang kelakuan mBah Coco? Siapa yang memberi informasi apa saja tentang mBah Coco, soal dunia narkoba? Apa motifnya para pembisik? Harusnya, sejak awal Iwan Bule, bisa langsung selidiki dan investigasi. Bukan, malahan nguping dan ditelan mentah-mentah. Buat apa pernah jadi polisi?

Ada ceita nostalgia. mBah Coco, mau cerita yang dulu-dulu. Ketika tahun awal 90-an. Setiap Muchlis Hasyim, cuti pulang ke Jakarta, dari tugasnya sebagai koresponden di Washington DC, Amerika Serikat. Maka, salah satu orang yang dihubungi Muchlis, adalah mBah Coco. Tujuan utamanya, apakah mBah Coco, punya stok ganja?

Di jaman itu, stok mBah Coco, selalu ada. Maklum, sebagai pengguna wajib punya stok. Dunia ganja jaman itu, stok dari para bandar, naik turun. Tergantung, bulannya. Jika menjelang Lebaran dan Tahun Baru, stoknya terbatas, harganya mahal. Makanya, jika ada kesempatan nye-tok, ya beli yang banyak, bli !!!

Tapi, kalau saat ini, mBah Coco masih dituduh pengguna ganja. Iwan Bule dan bekas jajaran anak buahnya di kepolisian, sangat gampang melaporkan, dipersilahkan tangkap saja mBah Coco. Silahkan tes urin dan tes darah. Atau apa saja caranya. Tapi, kalau tidak terbukti, dan negatif. Berani nggak dituntut balik mBah Coco? Khususnya para pembisik Iwan Bule.

Ilustrasi (foto.Ist)

Ilustrasi (foto.Ist)

KAKI-TANGAN CUCU SOMANTRI

Ada kata-kata dari mulut Iwan Bule, bahwa selama ini, mBah Coco di-back-up, dan dijadikan kaki-tangan, Wakil Ketua Umum PSSI, Mayjen TNI (Purn) Cucu Somantri. Pertanyaannya, sebagai mantan jenderal polisi, mampukah Iwan Bule membuktikan? Tapi, sebaliknya, Iwan Bule sengaja menyuruh Umuh Michtar, manajer Persib Bandung, untuk menteror dan menggertak mBah Coco.

Tahun 2016, sebelum Edy Rahmayadi, dijagokan sebagai kandidat Ketua Umum PSSI, sehabis organisasi sepakbola ini dibekukan dihukum pemerintah dan FIFA. Ada seorang jenderal bintang satu saat itu, bernama Cucu Somantri. Jabatannya, sebagai Kepala Staff Kostrad. Sedangkan Edy Rahmayadi, Pangkostrad. Mereka sama-sama satu angkatan di Akmil 1984.

Entah dari mana informasinya, Cucu Somantri ditugaskan, untuk mencari informasi, sekaligus “second opinion”, tentang situasi organisasi PSSI. Apa saja kesulitan dan kekisruhan tentang PSSI.  Atas kebaikan Letkol Agus Bhakti, yang saat itu sebagai As-press. Cucu Somantri, diminta bertemu dengan mBah Coco. Dan, mBah Coco mengajak Yon Moies, Akmal Marhali dan Llano Mahardika, untuk ngopi-ngopi di kawasan Sarinah Thamrin.

Seminggu, sebelum kick off  Liga 1 Indonesia, 29 Februari 2020, atas kebaikan Tebe Adhi dan Ary Julianto, dua wartawan veteran, mempertemukan kembali, mBah Coco dan Cucu Somantri, di Hotel Fairmont, Senayan.

Katanya, hanya ingin silahturahmi. Namun, yang tersirat dari Cucu Somantri, sebagai wakilnya Iwan Bule, tujuannya menyelidiki, serta mengetahui motif mBah Coco, selama menulis, tentang sepak bola nasional. Artinya, saat itu, Iwan Bule dan Cucu Somantri, sedang akrab-akrabnya.

Sebelum pulang, setelah ngobrol selama 3 jam di Fairmont, Cucu Somantri menawarkan diri, kepada mBah Coco, Yon Moeis, Tebe Adhi dan Ary Julianto. Jika ingin nonton pembukaan Liga 1 Indonesia, antara Persebaya Surabaya vs Persik Kediai, 29 Februari 2020, jangan sungkan-sungkan. “Kalau mau berangkat, saya minta nama-namanya, biar dipesankan tiket Jakarta – Surabaya – Jakarta,” tegasnya.

Namanya, jurnalis sepak bola. Diajak nonton bola, jalan-jalan, piknik ketemu teman-teman di Surabaya, mosok ditolak. Dan, malam itu, Cucu Somantri terkesan nyaman dan rela mengajak kita berempat.

Kira-kira pertengahan bulan Puasa, lagi-lagi atas kebaikan Tebe Adhi dan Ary Jualianto, mengundang mBah Coco dan Yon Moeis, untuk bisa bertemu dengan Cucu Somantri. Kali ini, di rumah kediaman Cucu Somantri, di kawasan Cempaka Putih. Sambil buka puasa. Dan kata Tebe Adhi, Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Cucu Somantri, ingin diskusi dan konsultasi, tentang permasalahan yang sedang terjadi di LIB dan PSSI.

Habis buka puasa, dengan sunguhan nasi bungkus masakan Padang. Cucu Somantri memberi informasi, serta cerita-cerita yang disiapkan oleh Iwan Bule, dan anak buahnya di PT LIB, salah satunya Rudy Kangdra, yang kepalanya pitak itu. Bahwa, Cucu Somantri, akan dilengserkan. Hanya gara-gara anaknya, masuk dalam struktur organisasi PT LIB, yang belum diputuskan (baru draft struktur).

mBah Coco, mencoba meminta semua data yang ada di Cucu Somantri. Juga, minta cerita-cerita yang jujur dari Cucu Somantri, tentang perkembangan terkini di lingkungan PSSI dan PT LIB. Seolah-olah mBah Coco, sebagai “lawyer”.

Malam itu, disaksikan Tebe Adhi, Ary Julianto dan Yon Moeis, sang mantan Panglima Bukit Barisan itu, diminta oleh mBah Coco. Disarankan, mengundurkan diri sesegera mungkin, dari jabatan PT LIB, dari jabatan manajer tim nasional U-20, yang disiapkan ke Piala Dunia U-20 tahun 2021, serta mundur dari anggota EXCO. Biasa, bro…ekstrem, provokator…banget sarannya.

Diam-diam, Cucu Somantri, ternyata sudah membuat draft surat pengunduran diri, sebagai Dirut PT LIB. mBah Coco, sebagai jurnalis veteran, mendesak, mengapa sudah membuat draft surat mundur? Apa alasannya?

“Istri, anak saya semua sedih, karena bapaknya ditulis negatif di koran dan medsos. Dulu janji saya kepada keluarga, di PSSI nanti mau nikmati hari tua, bang,” demikian jawab Cucu Somantri. Jenderal bintang dua itu, manggil mBah Coco, sebagai “abang”. Maklum, kalau mBah Coco saat itu lolos di Akademi Militer di Magelang, bisa jadi sudah KSAD, atau Panglima TNI. Sumpeh…!!!!

Menjelang pulang dari rumah Cucu Somantri, kita berempat dikasih amplop, isinya Rp 750 ribu untuk setiap orang. mBah Coco nyeletuk, ‘Jenderal, besok-besok kalau ingin ketemu lagi, nggak usah pake amplop uang. Kita berteman, dan kita satu perguruan,” kata mBah Coco. Dan, langsung dijawab oleh Cucu, “Ini uang saya sendiri, bukan uang LIB,” tegasnya.

Satu jam, menjelang RUPS Luar Biasa, PT LIB, Senin, 18 Mei 2020, Cucu Somantri telepon mBah Coco. “Bang, bagaimana caranya, kalau saya mundur sebelum RUPS. Sesuai aturan notaris badan usaha, maka RUPS dianggap nggak sah dan batal?’ demikain tanya Cucu.

mBah Coco, dengan cueknya bilang, “Kalau bener-bener niat mau mundur dari dirut LIB, gampang jenderal.  Ada jedah waktu, dirut LIB membuka rapat RUPS Luar Biasa. Setelah dibuka dengan bahasa pembukaan, untuk RUPS. Jenderal, langsung bilang, sehabis RUPS Ini, saya mengundurkan diri. Sambil menunjukkan suratnya, di layar virtual.”

“Okey, bang. Saya akan jalankan strategi itu,” demikain dari balik handphonenya. Dan, sorenya, mBah Coco, sudah membaca berita dimana-mana, bahwa RUPS Luar Biasa PT LIB sudah selesai, dan Cucu Somantri mengundurkan diri.

mBah Coco, teringat kembali kelakuan wartawan jaman 80-an. Saat Letjen TNI (Purn) Acub Zainal, merasa dihina dan dizholimi oleh Ketua Umum PSSI, Kardono. mBah Coco, Suryopratomo, Eddy Lahengko, Asro Kamal, Barce Nazar, Yon Moeis, Lutfi Sukri, memprovokasi Acub Zainal, agar segera buat surat pengunduran diri, malam itu juga. Biar beritanya besok paginya terbit di semua koran, dibaca Kardono.

Tapi, cerita yang masuk ke telingga mBah Coco, bahwa komentar-komentar dari Iwan Bule, mBah Coco dibayar dan dijadikan kaki-tangan Cucu Somantri.

Pertanyaannya, benarkah Cucu Somantri membayar jasa mBah Coco? Benarkah ada deal-deal, antara Cucu Somantri dan mBah Coco, untuk kudeta Iwan Bule? Benarkah mBah Coco disuruh Cucu Somantri? Mampukah Cucu membayar mBah Coco?

Tahun 2005, saat mBah Coco, menjadi pencipta, penggagas dan konsultan Copa DjiSamSoe (Piala Indonesia), diberi penghargaan berpenghasilan Rp 100 juta, per bulan, selama lima tahun. Mana mungkin Cucu Somantri, dan semua orang PSSI mampu bayar mBah Coco?

Tanggal 3 Juni 2020, Rabu pagi kemarin, 3 Juni 2020, saat buka handphone, ada kiriman berbentuk tulisan, lumayan panjang. Intinya, pengirim artikel  menulis tentang mBah Coco.  Nomer HP-nya 0815 5663 0471. Entah siapa dia, nggak terlalu penting? Entah diutus oleh Iwan Bule, juga tak penting?

Intinya, mBah Coco, adalah wartawan yang doyan palakin sumber beritanya. Menulis terus menerus Iwan Bule itu, motifnya ingin memeras Iwan Bule. Pertanyaannya, siapa di republik “sontoloyo” ini, yang bisa membuktikan, bahwa ,mBah Coco itu tukang peras sumber beritanya? Kalau ada yang bisa membuktikan, dapat hadiah Rp 1 miliar.

bandicam 2020-08-05 01-08-27-282

Lalu, siapa para pembisik Iwan Bule, yang selalu salah memberi info tentang mBah Coco?

Sampai-sampai Umuh Mochtar, telepon mBah Coco dua kali, dengan suara nada tinggi, menggertak dan mengancam, agar jangan lagi menulis, adanya perang “baju coklat” versus “baju hijau”. Bahkan, Umuh Mochtar dengan bangganya bilang, bahwa yang membawa Iwan Bule ke PSSI itu, gagasan dan idenya.

Karena, mBah Coco jengkel, nggak dikasih kesempatan bicara. Saat Umuh Mochtar telepon mBah Coco, kebetulan didengar Yon Moeis dan Mimi Alqamar, CEO Persis Solo. Saking keselnya, mBah Coco gantian membentak dengan nada tinggi, “Anda jangan bicara terus menerus, kasih saya kesempatan ngomong.”

Akhirnya, dikasih kesempatan bicara. “Hai…Umuh Mochtar masih ingat, tergopoh-gopoh ke bandara, memberi uang Rp 500 juta, kepada Iwan Budianto dan Haruna Sumitro, agar Persib Bandung tidak kalah main di Sriwijaya FC?” kata mBah Coco. “Iya itu dulu, tahun 2012,”  jawaban Umuh Mochtar, yang nada suara langsung nge-drop. Dan, telepon, mBah Cco langsung matiin. Walaupun, Umuh telepon kembali terus-terusan, dan nggak diangkat. Emang, elu siap, bro?

Bisa dibayangkan, orang-orang yang mendukung Iwan Bule, masuk ke PSSI, ternyata manusia jumawa dan pongah seperti Umuh Mochtar. Doyan menyuap dan minta diatur pertandingganya oleh pengurus PSSI, Iwan Budianto dan Haruna Sumitro. Bahkan, kini keduanya, menjadi gerbong penting di samping Iwan Bule, sesama anggota EXCO. Apa nggak memalukan?

Bisa dibayangkan, jika para jurnalis veteran, seperti M. Nigara, Akmal Marhali, Muchlis Hasyim dan Alief Syachviar, yang ada di sekitar Iwan Bule. Ternyata, mereka-mereka sama mirip seperti Umuh Mochtar dan para anggota EXCO PSSI. Yaitu pembisik yang busuk sekali dan bau amis.

mBah Coco, tidak menyebut Eko Rachmanto dan Jojo Raharjo. Karena, tujuannya dari sejak awal berkawan, tak ada niat melakukan pembusukan terhadap mBah Coco. Entah kalau sekarang?

Karena, menjelang Jojo ingin jadi ofisial medianya Iwan Bule, sowan ke “Kandang Ayam”, untuk minta restu. Dan, mBah Coco berpesan, “Kasih tau ke Iwan Bule, disekitar Iwan Bule, semua bandit-bandit kartel, jangan sampai Ibul kecebur dan tenggelam,” itu pesan mBah Coco, kepada Jojo Raharjo.

Bersambung….




Loading Facebook Comments ...