Search

Tramp Mengawal Ekspedisi Bhinneka Tunggal Ika ke Tanah Tertinggi NKRI

Dua pendaki Tramp, Asep Sumantri (kiri) dan Syatiri Ahmad (kanan) bersama pendaki tuna daksa Sabar Gorky di Puncak Carstensz pyramid, Jaya Wijaya, Papua.
Dua pendaki Tramp, Asep Sumantri (kiri) dan Syatiri Ahmad (kanan) bersama pendaki tuna daksa Sabar Gorky di Puncak Carstensz pyramid, Jaya Wijaya, Papua.

Timika,reportasenews.com – Ekspedis Bhineka Tunggal Ika yang diselenggarakan oleh TNI, jurnalis, pelajar dan mahasiswa seluruh Indonesia ke Puncak Soekarno dan cartenz Pyramid tidak terlepas dari peran organisasi pencinta alam Tramp.

Tramp merancang dan memimpin ekspedisi ini dengan mengirimkan 2 orang pendaki senior dan berpengalaman di pegunungan tinggi yaitu Asep Sumantri dan Syatiri Ahmad.

Kedua pendaki yang pernah mencapai Gn. Kilimanjaro, Afrika dan Gn. Aconcagua, Argentina tersebut memimpin perjalanan dengan teknik pendakian gunung tinggi. Salah satu teknik yang diberikan kepada para pendaki adalah melakukan perjalanannya secara perlahan aklimatisasi yang sesuai dengan kondisi alam.

“Kami meminta para pendaki ekspedisi berjalan secara perlahan dan menghirup nafas agar kemampuan paru-paru menghisap oksigen secara maksimal Selain itu tahapan ekspedisi berupa aklimatisasi menjadi penting,” kata Syatiri, pelatih fisik.

Kedua pendaki itu setiap hari melakukan evaluasi kebugaran fisik. Kondisi alam di pegunungan Jayawijaya yang selalu hujan selama 22 jam menjadi tantangan penting hingga semuanya mendapatkan kondisi fisik dan mental yang prima.

“Alam memiliki hukum sendiri, manusia harus mampu beradaptasi dengan pengetahuannya bukan dengan egonya,” tutur Asep Sumantri alias Tole, yang dua tahun lalu juga menjadi technical advisor pendakian Korps Marinir ke Carstensz Pyramid.

Ketua Ekspedisi Bhinneka Tunggal Ika Hendrata Yudha yang mengikuti pendakian itu menyebutkan,  sangat dibantu dengan informasi hasil pemantauan kesehatan fisik dan mental yang dilakukan kedua pendaki Tramp, ketika memutuskan siapa-siapa dari 17 orang pendaki yang paling siap mencapai titik tertinggi NKRI.

“Perencanaan pendakian yang matang menghindari resiko kecelakaan, karena titik krusial menghadapi kondisi alam yang kejam dapat diprediksi tiap hari. Asep Sumantri dan Syatiri memberikan evaluasi objektif berdasarkan keilmuan. Saya menghimbau para pendaki gunung membuang ego pribadi ketika mengikuti pendakian gunung tinggi, karena resikonya nyawa manusia,”  ujar Hendrata Yudha, yang juga ketua umum Tramp kepada reportertasenews.com di Base camp Lembah Danau-Danau (4300 mdpl) Pegunungan Jayawijaya, Papua.

Tramp organisasi pendaki gunung tertua 1970, didirikan di Bandung. Pengalaman Tramp dalam pendakian gunung gunung tinggi dan penjelajahan Rimba membuat ekspedisi ini berhasil mencapai tujuan menjajakan kaki di tanah tertinggi NKRI. (Tata)




Loading Facebook Comments ...