Search

Translokasi Orangutan Baru Perlu Segera Dicari, untuk Kelangsungan Hidup Orangutan

Translokasi orang utan yang berhasil diselamatkan dari kebakaran lahan dan hutan. (foto:ist)
Translokasi orang utan yang berhasil diselamatkan dari kebakaran lahan dan hutan. (foto:ist)

Ketapang, reportasenews.com – Tujuh individu orangutan yang kehilangan hutan menjadi habitatnya berhasil diselamatkan dan telah dilepasliarkan kembali di Taman Nasional Gunung Palung, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung,  Ari M. Wibawanto menjelaskan saat ini karateristik Taman Nasional Gunung Palung memiliki 3 alternatif tempat translokasi yang sudah di survei daya dukungnya yaitu Riam Bekinjil, Bukit Kubang dan Bukit Daun Sandar.

“Kami sudah menerima 7 individu Orangutan yang ditranslokasikan ke kawasan kami, 5 diantaranya ke Bukit Kubang. Langkah kami ke depan bersama para pihak terkait yaitu BKSDA Kalbar dan IAR Indonesia akan melakukan survei lokasi-lokasi lain yang cocok untuk dijadikan tempat translokasi agar populasi Orangutan tidak menumpuk di satu tempat saja,”kata Ari, Sabtu (28/09/2019)

Ari mengatakan lokasi baru untuk translokasi orangutan sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup Orangutan.

“Apabila tempat translokasi hanya terbatas di 3 tempat tadi, kami khawatir justru akan menimbulkan masalah di kemudian hari,” ujarnya.

Menurut Ari, translokasi sebenarnya adalah solusi terakhir dalam upaya penyelamatan Orangutan. Seharusnya yang harus dilakukan adalah adalah menjaga habitat Orangutan yang tersisa sekarang.

 Rescue Orangutan yang terjebak kebakaran hutan dan laha. (Fhoto :istimewa) :

Rescue Orangutan yang terjebak kebakaran hutan dan laha. (Fhoto :istimewa) :

“Arang, Bara dan Jerit adalah contoh bahwa Orangutan benar-benar berada di dalam ancaman. Oleh karena itu saya mengajak semua masyarakat dan juga semua pihak untuk tidak melakukan pembakaran hutan,  tidak menebang hutan dan juga tidak melakukan perburuan liar,” imbuhnya.

Di tempat terpisah, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor mengatakan keberhasilan BKSDA Kalbar bersama mitra YIARI telah melakukan penyelamatan satwa liar, khususnya orangutan, dari lokasi lahan/hutan yg terbakar kali ini, di satu sisi merupakan sebuah capaian, tetapi di sisi lain menggambarkan sebuah keprihatinan yang mendalam.

“Kegiatan penyelamatan tersebut hanyalah sebuah tindakan kecil, bahkan sangat kecil, dibandingkan dengan langkah-langkah dan kebijakan yg seharusnya diambil untuk menghentikan dan mencegah bencana yg berkelanjutan dan berulang ini. Sebuah bencana yg berdampak luas dan mematikan bagi kehidupan,” tegasnya.

Rasa keprihatinan juga ditegaskan Direktur IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez. Karmele yang telah lama menjadi salahsatu pemerhati konservasi dan ekosistem  orangutan dan primata lainnya endemik Kalimantan seperti Kukang, sangat sangat mengapresiasi upaya dari Taman Nasional Gunung Palung untuk menjaga biodiversity dan habitat orangutan.

“Landskap Taman Nasional Gunung Palung dan Sungai Putri merupakan suatu metapopulasi orangutan yang cukup penting dengan jumlah yang diperkirakan 3,280 (PHVA 2016) dengan viabilitas cukup tinggi,” beber Karmele.

Karmele menyebutkan Orangutan ini berasal dari metapopulasi tersebut dari lokasi di pinggir habitat yang sedang dibawah tekanan dari gangguan kebakaran dan konflik.

Oleh karena itu tempat yang paling tepat untuk translokasi orangutan ini adalah di  Taman Nasional Gunung Palung, lokasi yang masih aman dan berada dalam metapopulasi yang sama.

“Orangutan ini jadi korban kebakaran, tetapi sangat beruntung sekali karena tim dari BKSDA dan IAR bisa menyelamatkan mereka, dan bisa dikembalikan ke hutan yang aman di Taman Nasional Gunung Palung. Kami senang sekali karena 3 orangutan ini bisa selamat dan bisa kembali ke alam untuk melanjutkan hidupnya,” pungkasnya. (das)




Loading Facebook Comments ...