Search

Udara Kota Pontianak Sangat Tidak Sehat, Walikota Pontianak Tegas Bekukan Lahan Terbakar

Pemadaman api di lahan gambut dengan helikopter. (foto:das)
Pemadaman api di lahan gambut dengan helikopter. (foto:das)
Pontianak, reportasenews.com – Kebakaran hutan dan lahan yang belum teratasi hingga saat ini menyebabkan menurunnya kualitas udara di kota Pontianak, Kalimantan Barat. Bahkan kualitas udara kota Pontianak sudah masuk ke level tidak sehat atau berbahaya bagi kesehatan.
Informasi kualitas udara yang dianalisis berdasarkan pantauan alat kualitas udara Particulate Matter (PM10) di Stasiun Klimatologi Mempawah tanggal 11 Agustus 2019 dilakukan pada pukul 00.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB secara umum berada dalam kategori sedang. Namun konsentrasi PM10 tertinggi sebesar 257.14 µg/m3 terjadi pada pukul 07.00 WIB, masuk dalam kategori sangat tidak sehat.
Menurunnya kualitas udara ini akibat pembakaran lahan gambut dan hutan yang masif terjadi. Berdasarkan informasi peta  sebaran hotspot di Kalimantan Barat berdasarkan pengolahan datanya oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) tanggal 11 Agustus 2019 pada pukul 07.00 WIB sampai 12 Agustus 2019 pukul 07.00 WIB, jumlah titik hotspot dari 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat mencapai 1.124 titik api.
Sebaran titik api yang terpantau satelit terbanyak di Kabupaten Sanggau sebanyak 308 titik, disusul Kabupaten Kapuas Hulu sebanyak 171 titik, Kabupaten Ketapang sebanyak 144 titik, Kabupaten Landak sebanyak 104 titik, Kabupaten Kubu Raya sebanyak 90 titik api, dan Kabupaten Mempawah sebanyak 65 titik.
Sampai saat ini penanggulangan kebakaran lahan gambut dan hutan di wilayah Kalimantan Barat terus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur lintas organisasi pemerintah maupun swasta dan relawan. Pemadaman dilakukan di darat dan udara.
Di darat petugas menurunkan armada pemadam kebakaran termasuk kendaraan roda dua untuk menjangkau kawasan yang sulit terjangkau selang dan mobil pemadam kebakaran, sementara pemadaman melalui udara dilakukan dengan bom air atau waterbombing menggunakan empat helikopter.
Namun lahan yang kering dan mudah tersulut api, menyebabkan kebakaran sulit dikendalikan dan terus menyebar hingga mendekati bangunan sekolah dan pemukiman warga. Dampaknya kualitas udara di kota Pontianak memburuk dan jarak pandang menurun.
Bahkan areal kawasan Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya, juga ikut terbakar. Kawasan steril dari aktvitas warga ini ikut terbakar dan kebakaran sangat dekat dengan landasan pacu  pada 7 Agustus 2019. Namun kebakaran ini segera teratasi. Dampak kebakaran lahan gambut juga berpengaruh terhadap aktivitas penerbangan di bandara Internasional Supadio akibat jarak pandang yang berkurang terhalang kabut asap.
 Pemerintah kota Pontianak menancapkan plang penegakan Perwa nomor 55 tahun 2018 tentang larangan membakar. (foto:das)


Pemerintah kota Pontianak menancapkan plang penegakan Perwa nomor 55 tahun 2018 tentang larangan membakar. (foto:das)

Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara Internasional Supadio menyebutkan jarak pandang mendatar di Bandara Supadio Pontianak secara umum lebih dari 1000 meter pada tanggal 6, 7 dan 8, 11 Agustus 2019 jarak pandang terendah masing-masing sejauh 700, 800, 700 meter disebabkan oleh kabut asap.

Dampak karhutla juga membuat petugas kewalahan memadamkan api dengan sebaran yang begitu banyak. Menipisnya sumber air  dan kedalaman gambut,  dirasakan pemadaman api melalui darat sehingga memerlukan tandon air  dan ekscavator agar selang terjangkau pada sebaran titik api. Sementara pemadaman melalui uidara menggunakan helikopter terganggu aktivitas warga yang bermain layangan. Rotor baling-baling heli MI CMX yang sedang melakukan pemadaman api melalui udara tersangkut tali layang-layang. Hal ini jelas menganggu misi waterboombing dalam operasi penanganan karhutla dari Satgas udara.
Aktivitas warga bermain layang-layang ini terlihat banyak berada di jalan Perdana dua Dalam. Bahkan mereka tak terlihat canggung saat melihat aparat bolak balik memantau dan memadamkan sebaran titik api di lahan gambut yang masih terbakar hingga ke kawasan desa Punggur kecil.
Mencegah kebakaran lahan gambut yang semakin luas dan berdampak bagi kesehatan warga, Pemerintah kota Pontianak berencana menindak tegas pembakar lahan melalui peraturan Walikota Pontianak  Nomor 55 tahun 2018 tentang larangan pembakaran lahan. Larangan ini bertujuan menjerat pelaku pembakar lahan di wilayah kota Pontianak.
“Jadi pada hari ini kita menyaksikan lahan gambut yang terbakar, dan kita lihat ini lokasi ini berada di daerah pemukiman, dan disebelah ada bangunan perumahan. Lahan ini pasti milik pengembang atau perorangan, yang jelas ini terbukti terbakar. dan kita saat ini sedang melakukan pemadaman. Tindakan pembakaran lahan seperti ini dapat dikenakan sanksi Perwa Nomor 55 tahun 2018 tentang larangan pembakaran lahan,” kata Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, kepada wartawan, Senin (12 Agustus 2019) sore tadi.
Edi menegaskan penerapan Perwa ini nantinya akan berlaku pada lahan yang dipasang plang ini sehingga segala aktivitas di lahan ini mendapat pengawasan selama lima tahun, dan lahan ini dibekukan selama kurun waktu tersebut tidak boleh difungsikan jika pembakaran lahan ini terbukti sengaja, dan sanksi dibekukan selama tiga tahun apabila terbakarnya lahan ini tidak sengaja.
“Saat ini sudah ada beberapa lahan yang telah diberi plang dalam penerapan Perwa larangan membakar lahan ini, seperti di jalan Purnama II, dan semua ini telah didokumentasikan oleh Humas Pemkota Pontianak, dan bahkan kita akan class action juga karena ini bisa masuk kategori pidana, tentunya dalam hal ini kita bekerjasama dengan TNI/Polri,” tegasnya.
Dalam tahap ini, pemerintah kota Pontianak telah memasang 4 plang terkait Perwa Nomor 55 tahun 2018 di lahan gambut yang terbakar milik pengembang perumahan. Pemerintah kota Pontianak mengajak masayarakat dan pihak pengembang perumahan tidak menggunakan cara membersihkan lahan dengan cara membakar, apalagi lahan gambut yang terbakar sulit dipadamkan di tengah cuaca yang panas dan kering seperti sekarang ini. Tercatat sudah 5 sampai 10 hektar lahan gambut di kota Pontianak yang terbakar. (das)



Loading Facebook Comments ...