Search

Walau Daerah Terpencil, 90 Persen Warga Rote Ndao Gunakan Hak Pilih

Kapolres Rote Ndao AKBP Bambang Hari Wibowo membantu seorang wanita lansia yang menggunakan hak pilihnya pada Pilpres dan Pileg 2019, Rabu (17/4/2019). (Ist)
Kapolres Rote Ndao AKBP Bambang Hari Wibowo membantu seorang wanita lansia yang menggunakan hak pilihnya pada Pilpres dan Pileg 2019, Rabu (17/4/2019). (Ist)

Rote Ndao, reportasenews.com – Partisipasi politik masyarakat Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), layak diacungi jempol. Kondisi medan yang berat menuju tempat pemungutan suara (TPS) tak menghalangi mereka untuk menggunakan hak suaranya. Terbukti, 90 persen warga Rote Ndao mencoblos pada Pilpres dan Pileg 2019, Rabu (17/4/2019) lalu.

Semangat warga dalam memilih para calon pemimpin bangsa inilah yang membuat takjub Kapolres Rote Ndao AKBP Bambang Hari Wibowo. “90 persen mereka (warga Rote Ndao) menggunakan hak pilihnya,” katanya kepada reportasenews.com, Kamis (18/4/2019).

Bertugas di kabupaten yang terletak di beranda paling selatan Indonesia ini membuat AKBP Bambang Hari Wibowo belajar bersyukur. Sebab, setiap hari dia melihat kehidupan rakyat di kabupaten ini masih jauh dari kata layak.

Rumah-rumah penduduk masih berlantai tanah. Pada malam hari, lampu penerangan pun masih terbatas. Namun, kata Bambang, warga Rote Ndao tetap ceria dan bahagia. Bahkan, tingkat toleransi mereka terhadap orang yang berbeda keyakinan terbilang tinggi.

BACA JUGA:

“Walau mereka berbeda keyakinan dengan saya, mereka menghargai saya yang minoritas di sini. Lantas, mengapa kita tidak mau belajar bersyukur dan bersabar seperti di Pulau Rote yang indah ini?” tutur Bambang.

Kapolres Rote Ndao AKBP Bambang Hari Wibowo bersama anak-anak Pulau Rote, NTT. (Ist)

Kapolres Rote Ndao AKBP Bambang Hari Wibowo bersama anak-anak Pulau Rote, NTT. (Ist)

Selama masa kampanye Pemilu 2019, Bambang mengaku tidak pernah melihat warga Rote Ndao kampanye di jalan-jalan hingga bikin macet dan mengganggu aktivitas warga. Walau hidup dalam kemiskinan, kata Bambang,  mereka tidak heboh seperti lazimnya warga yang tinggal di kota.

“Bahkan, ketika mencoblos mereka harus rela naik perahu mengarungi samudera,” ungkapnya.

Warga yang sudah lanjut usia pun tetap semangat mendatangi TPS walau menggunakan mobil tua yang mesinnya sering rusak dan mogok di lokasi TPS.  “Saya yang langsung antar mereka pulang, karena kasihan melihat mereka,” kata Bambang. (Tjg/Sir)




Loading Facebook Comments ...