Search

Wanita-wanita Cantik Asal Suku Uighur, Tiongkok

Perempuan asal Suku Uighur yang dikenal cantik dan beda dengan para perempuan di Tiongkok. (foto: keepome)
Perempuan asal Suku Uighur yang dikenal cantik dan beda dengan para perempuan di Tiongkok. (foto: keepome)

Uighur, reportasenews.com – Ada ribuan suku yang tersebar di seluruh dunia. Setiap suku tentu memiliki karakteristik yang berbeda-beda, mulai dari agamanya, adat istiadatnya, makanan khasnya, dan juga penampilannya.

Salah satu suku yang cukup menarik untuk dibahas adalah Suku Uighur. Meski keberadaan tentang suku ini masih belum jelas, tapi ada satu fakta yang menyebutkan kalau wanita di suku ini memiliki paras cantik jelita.

Benarkah anggapan itu? Mari kita simak fakta-fakta tentang Suku Uighur yang disebut-sebut sebagai suku penghasil wanita tercantik di dunia.

Perempuan Suku Uighur mempunyai kulit putih,mata coklat dan rambut pirang. (foto: duniabrilian)

Wanita Suku Uighur mempunyai kulit putih,mata coklat dan rambut pirang. (foto: duniabrilian)

Suku Uighur tinggal di Xianjing, wilayah paling utara Tiongkok. Meski pada dasarnya mereka tinggal di Tiongkok, tapi budaya mereka tidak sama dengan Tiongkok. Mereka hidup berdampingan dengan suku-suku lain, dan juga mereka mempunyai KTP sebagai warga Tiongkok. Namun mereka tidak memiliki fisik seperti orang Tiongkok pada umumnya.

Hidup Tertekan Pemerintah

Inilah alasan kenapa budaya Suku Uighur berbeda dengan Tiongkok. Sebab mayoritas penduduknya adalah beragama Islam. Sebenarnya mereka hidup di bawah tekanan karena pemerintah Tiongkok memperlakukan umat Muslim dengan kurang baik. Beberapa pembatasan beribadah di berlakukan bagi warga Muslim di Tiongkok.

Wanita Suku Uighur dikenal cantik-cantik tapi mereka berbeda dengan wanita-wanita Tiongkok pada umumnya. Rata-rata perempuannya memiliki wajah khas Timur Tengah dan Eropa. Warna mata kehijauan dan sebagian lagi memiliki rambut pirang.

Para gadis Uighur sedang beraktivitas. (foto: kaskus)

Para gadis Uighur sedang beraktivitas. (foto: kaskus)

Sebenernya Suku Uighur itu keturunan Turki yang tinggal di asia tengah. Namun, sejarah etnis Uighur bilang kalau daerah itu adalah Uighuristan atau Turkestan Timur.

Menurut sejarah, bangsa Uighur yang merdeka tinggal di Uighuristan lebih dari 2.000 tahun. Tapi Tiongkok malah mengklaim daerah itu sebagai warisan sejarahnya, dan oleh karenanya enggak bisa dipisahkan dari Tiongkok.

Orang Uighur percaya, fakta sejarah menunjukkan klaim Tiongkok tidak berdasar dan memang sengaja menginterpretasikan sejarah secara salah, supaya wilayah Tiongkok makin luas.

Kalau belajar tentang persebaran ras, terus datang ke tempat ini, maka akan terlihat kalau orang-orang Uighur itu berbeda dengan orang Tiongkok.

Mayoritas Islam

Mereka malah menjurus ke orang Turki jadi gak heran kalau warga Uighur mayoritas beragama Islam. Kalau menengok sejarah, sebelum masuknya Islam, Uighur menganut Shamanian, Budha dan Manicheism. Bisa dilihat dari candi yang dikenal sebagai Ming Oy (Seribu Budha) di Ughuristan. Reruntuhannya bisa ditemukan di kota Kucha, Turfan dan Dunhuang, dulunya tempat ini adalah tempat tinggal orang Kanchou-Uighur.

Orang-orang Uighur masuk Islam sejak 934 Masehi, waktu pemerintahannya Satuk Bughra Khan, pengusaha Kharanid. Saat itu, 300 masjid megah didirikan di kota Kashgar. Islam kemudian berkembangan dan menjadi satu-satunya agama orang Uighur di Uighuristan.

Suku Uighur hidup dibawah tekanan Pemerintah Tiongkok. (foto: keepome)

Suku Uighur hidup dibawah tekanan Pemerintah Tiongkok. (foto: keepome)

Masjid-masjid yang megah bikinan Bangsa Uighur contohnya adalah Azna (dibangun abad ke-12), Idgah (abad ke-15) dan Affaq Khoja (abad ke-18). Pada masa kejayaan itu di Kashgar saja telah ada 18 madrasah besar dengan lebih 2.000 siswa baru yang masuk pertahunnya.

Selain agama, di madrasah-madrasah anak-anak Uighur belajar membaca, menulis, logika, aritmatik, geometri, etik, astronomy, tibb (pengobatan), pertanian.

Pada abad ke-15 di kota ini sudah punya perpustakaan dengan koleksi 200.000 buku. Orang Uighur juga telah mengenal pertanian semiintensif sejak 200 SM. Pada abat ke-7 pertanian mereka makin berkembang dengan menaman jagung, gandum, kentang, kacang tanah, anggut, melon dan kapas.

Mereka juga mengembangkan sistem irigasi (kariz). Satu sistem irigasi kuno ini masih bisa dilihat di Kota Turfan. Boleh dikatakan, kebudayaan Uighur mendominasi Asia Tengah sepanjang 1.000 tahun sebelum bangsa ini ditaklukkan penguasa Manchu yang memerintah di Tiongkok.

Salah satu masjid di Uighur yakni Masjid Affaq Khoja. (foto: keepome)

Salah satu masjid di Uighur yakni Masjid Affaq Khoja. (foto: keepome)

Walaupun dibanggakan sebagai penghasil perempuan cantik, namun Suku Uighur berada pada kondisi yang berbanding terbalik. Mereka kerap kali menerima perlakuan tidak baik oleh pemerintah setempat. Terutama yang menganut agama Islam, pemerintah kerap melarang suku ini untuk merayakan ibadah.

Bahkan di saat bulan ramadhan, banyak aturan-aturan yang dibuat pejabat supaya ibadah puasa dihilangkan. Mereka membuat suatu kebijakan yang mengharuskan warga muslim Xinjiang makan siang di depan para nonmuslim.

Jika mereka berkilah sudah makan atau menolaknya, maka mereka akan tetap dipaksa makan dihadapan orang-orang tersebut. Jika muslim tersebut tetap bersikukuh, dia bisa diseret ke kantor keamanan.
Alhasil, terjadilah banyak demonstrasi dari warga muslim sini mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah.(ham/dari berbagai sumber)




Loading Facebook Comments ...