Jakarta, reportasenews.com-Bergerak diam-diam dengan motivasi tinggi membantu sekolah-sekolah tidak mampu di Indonesia, Van Empel Goldman Foundation menyiapkan dana bantuan bagi sekolah yang membutuhkan.
Lembaga donor yang dimotori oleh anak-anak setingkat SMA di Belanda itu, mengirimkan Casper Goldman (17) dan Isabelle van Empel (17) selama seminggu di Indonesia. Mereka berkeliling dari Bogor, Depok hingga ke Jakarta Utara melakukan survey sekolah-sekolah inisiatif yang dibangun oleh perseorangan, untuk menentukan berapa dana bantuan yang dibutuhkan dan jenis bantuan yang diperlukan.
“Yayasan ini baru saja didirikan untuk meningkatkan standar kehidupan anak-anak kurang beruntung di Indonesia. Kami memang ingin membantu sekolah-sekolah yang kurang biaya, terutama yang dibangun oleh perorangan,” jelas Casper, ketika mengunjungi Sekolah Master di samping Terminal Depok, Jawa Barat, yang dibangun dari peti container bekas.
Kedua remaja ini, awalnya hanya ingin menghabiskan liburannya di Indonesia melihat kampung halaman keluarga besarnya. Nenek moyang Casper adalah orang Belanda yang lahir dan besar di Pulau Jawa, dan bermukim sejak zaman kolonial Belanda. “Keluarga kami baru tinggal di Belanda pada tahun 1950, selebihnya semuanya lahir dan mati di Indonesia,” kata Sander Goldman, orang tua Casper, dalam suatu pertemuan dengan Hendrata Yudha dari reportasenews.com.
Mengingatkan kembali tali silaturahmi dengan negeri nenek moyangnya itu, maka para Wong Londo ini membentuk yayasan pendidikan.
“Kepikiran daripada jalan-jalan saja, mengapa kami tidak menyumbang bagi anak-anak sekolah. Kami sudah berbicara dengan banyak orang di Belanda dan mereka tertarik dengan ide kami memberikan sumbangan pada anak sekolah di Indonesia,” jelas Casper.
Pada tahap awal ini, mereka telah menerina donasi sekitar 5000 EURO. Dengan hasil survey ke lokasi sekolah yang membutuhkan, mereka berharap mendapat bantuan donasi dari pemerintah Belanda, perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia.
“Kami didukung oleh Kedubes Belanda di sini, juga sudah bicara dengan beberapa perusahaan Belanda yang ada di Indonesia. Mudah-mudahan, mereka akan membantu donasi,” tukas Casper.
Ini bukan sekedar proyek sekali jalan, namun berkelanjutan hingga bertahan bertahun-tahun kemudian.
Mereka sempat berdikusi dengan aktivis sekolah luar ruang, Veyda Ristiana di Bogor, yang memberikan informasi daerah-daerah yang paling membutuhkan donasi di Indonesia.
“Sebetulnya, sekolah di Indonesia Timur itu paling membutuhkan dana operasioanal karena mereka tidak banyak diperhatikan dan subsudi dari pemerintah. Kemiskinan juga tampak di depan mata,” jelas Vedya. (tat)
