Search

Angga Adalah Salah Satu Contoh Ironi di Sekitar Kita

Angga, bocah piatu warga desa Selat Punai kecamatan Gandus, palembang yang ditelantarkan ayah kandungnya.

Sungai Musi, Reportasenews – Apalah arti mudik bagi seorang Angga. Remaja 15 tahun itu, duduk sendiri di tangga, yang terbuat dari potongan dahan kayu. Beberapa meter di depannya, mengalir Sungai Musi, yang menurut Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Sumatera Selatan, kedalamannya berkisar antara 10-12 meter. Kedalaman hidup seperti apa yang bisa kita selami dari Angga?

Lebar Sungai Musi antara 250-504 meter, dengan panjang aliran sungai mencapai 750 kilometer. Di sungai besar yang melintasi Kota Palembang itu, saban hari berseliweran sejumlah tongkang dengan muatan batubara. Muatan tongkang tersebut penuh membubung, membentuk gunungan. Penuh, sangat penuh.


AKP Kusyanto, Kapolsek Gandus saat mengunjungi Angga di rumahnya di
Desa Selat Punai, Kelurahan Pulokarto, Palembang.

Sebuah tongkang bisa memuat  8 ribu ton batubara untuk sekali jalan. Bisa juga lebih. Tiap hari, ada banyak tongkang yang melintasi Sungai Musi. Ada puluhan, bahkan ratusan ton batubara yang diangkut tiap hari. Nilainya tentulah miliaran rupiah. Remaja 15 tahun bernama Angga itu, hanya bisa memandangi saja.

Sorotan matanya, seakan mewakili ratusan pasang mata warga yang mendiami Selat Punai, yang dilintasi oleh puluhan tongkang batubara tersebut. Apalah arti mudik bagi seorang Angga? Ibunya sudah wafat beberapa tahun lalu. Ayahnya pergi entah ke mana dan tak pernah kembali.

Dua kakaknya dan dua adiknya kadang pulang, kadang tidak. Sejak kematian sang ibu dan ditinggalkan sang ayah, mereka hidup tak menentu di Selat Punai. Numpang tinggal dan numpang makan di tetangga. Padahal, kondisi kehidupan warga sekitarnya, juga serba kekurangan. Sekitar 300 penduduk di Desa Selat Punai, mengandalkan kerja serabutan.

Tepian sungai Musi tak jauh dari tempat tinggal Angga.

Desa tersebut merupakan desa yang nyaris terisolir, tergolong desa tertinggal. Mencermati kehidupan keseharian warga Selat Punai, dan membandingkannya dengan seliweran tongkang batubara, sungguh suatu ironi.

Ada yang bergelimang miliaran rupiah. Ada yang bahkan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari saja, tak sanggup. Secara fisik, jarak antara yang berkelebihan dengan yang serba kekurangan itu, hanya dalam hitungan meter. Masih dalam batas pandang.

Angga hanyalah salah satu potret dari Desa Selat Punai, desa tertinggal di tepian Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Warga desa itu sesungguhnya tiada henti berjuang untuk memperbaiki taraf kehidupan. Namun, mereka dikepung oleh beragam persoalan, yang untuk mengatasinya mereka tak cukup punya daya.


Kapolsek Gandus, AKP Kusyanto, Aiptu Jumani, selaku Babinkamtibmas Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus dan Mazmur, Ketua RW 06 Selat Punai usai mengunjungi tempat tinggal Angga.

Mazmur, Ketua RW 06 Selat Punai, bercerita, Sungai Musi sudah tercemar sampah dan limbah sehingga menghambat ikan-ikan untuk berkembang biak. Artinya, mengandalkan hidup sebagai nelayan ikan tangkap di perairan Sungai Musi, tidak lagi kondusif.

Untuk membuat keramba sebagai usaha perikanan budidaya, perairan Sungai Musi di sekitar Selat Punai, sudah tidak layak. Airnya kotor dan tercemar. Demikian pula dengan usaha pertanian padi di areal persawahan di sana. Penduduk setempat hanya bisa bergantung pada sistem sawah tadah hujan. Untuk menyedot air dari Sungai Musi demi mengairi persawahan, juga bukan hal mudah.

Secara teknis, mereka tidak memiliki mesin sedot air. Kalaupun air sungai disedot kemudian dialirkan ke persawahan, kualitas air sungai tersebut tidak cukup layak untuk pertanian padi.

Berbagai kondisi di atas, membuat warga Selat Punai selama bertahun-tahun terpuruk menjadi warga miskin, menjadi desa tertinggal, sekaligus tergolong warga terisolir. Padahal, jarak tempuh dengan perahu mesin yang disebut getek, dari dermaga PT Laut menuju Selat Punai, hanya memakan waktu sekitar 30 menit pelayaran.

Realitas itulah yang terus diupayakan untuk diatasi oleh AKP Kusyanto, selaku Kapolsek Gandus Polrestabes Palembang, oleh Aiptu Jumani, selaku Babinkamtibmas Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus, Palembang, dan oleh Mazmur, selaku Ketua RW 06 Selat Punai. Mereka tanpa henti berupaya mencarikan solusi, demi meningkatkan taraf hidup penduduk Selat Punai.

Karena, kemiskinan dan rendahnya taraf hidup, otomatis menciptakan gangguan Kamtibmas. Itu akan berdampak secara luas. Karena itulah, AKP Kusyanto dan Aiptu Jumani terus berupaya mencarikan solusi bagi warga Selat Punai, Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus, Palembang, Sumatera Selatan.(IK)




Loading Facebook Comments ...