Menu

Mode Gelap

Daerah · 30 Jan 2018 12:15 WIB ·

BBM Satu Harga di Papua Belum Terlaksana, Premium Capai Rp 70 Ribu Perliter


					foto ilustrasi (istimewa) Perbesar

foto ilustrasi (istimewa)

Jayapura, reportasenews.com – Program penyetaraan BBM satu harga yang dicanangkan  oleh Presiden Joko Widodo untuk seluruh daerah yang ada di Indonesia, sejauh ini belum dirasakan, termasuk oleh  sebagian besar masyarakat yang ada di Kabupaten Asmat dan Kabupaten Tolikara.

Harga eceran BBM jenis Premium dan solar di wilayah ini mencapai Rp.30 ribu sampai dengan Rp.70 Ribu perliternya.

Kabag Humas Kabupaten Tolikara, Derwes Yikwa mengungkapkan, Kabupaten Tolikara hanya memiliki dua APMS yang menyalurkan BBM kemasyarakat, namun APMS tersebut tidak pernah memenuhi tingginya kebutuhan masyarakat, sehingga untuk harga BBM di Tolikara mencapai hingga Rp.30 sampai dengan Rp.70 Ribu perliternya.

“Belum lagi kalau cuaca tidak bagus, risiko sangat tinggi. Apalagi, penerbangan juga rute  juga jarang,  sehingga dalam satu minggu APMS hanya melayani 1 kali. Lembaga penyalur resmi Pertamina jumlah stok BBM-nya sangat terbatas dan tak menjangkau semua wilayah. Akibatnya, masyarakat tetap harus membeli BBM melalui pengecer yang harganya tinggi,”jelasnya.Senin (29/1) malam.

Seperti halnya titik lain di Papua, lembaga penyalur BBM Satu Harga yang dioperasikan Pertamina memang menjual dengan harga sama yaitu Rp 6.450 untuk premium dan Rp 5.150 untuk solar. Jika ada yang menjual lebih tinggi, kata Derwes, dilakukan di luar lembaga resmi yang dioperasikan Pertamina.

Sementara Masyarakat dipedalaman Kabupaten Asmat sangat memerlukan bahan bakar bersubsidi khususnya premium. Sebab,  harga premium eceran di Kabupaten Asamt mencapai di atas dua kali lipat. Mengingat ada 219 kampung yang dihuni 80 persen dari 114.000 penduduk Asmat harus ditempuh dengan menggunakan perahu motor.

Kepala Kampung Atat, Markus Timur mengungkapkan,  penjualan  bensin secara eceran  di wilayahnya yang masuk Distrik Pulau Tiga bisa mencapai Rp 20.000 hingga Rp 50.000 per liter.

“Masyarakat di Atat kebanyakan hanya meramu dari hasil hutan dengan  penghasilan  yang sangat kecil dan tidak tetap.  Maksimal Rp 50.000 per bulan.  Tak mungkin mereka bisa membeli bensin eceran dengan harga setinggi itu, ” ungkapnya.

Salah satu warga, Marthen Bericema,  menuturkan  banyak warga yang memilih tidak berobat ke puskesmas di pusat distrik yang hanya diakses dengan menggunakan perahu motor.

“Mereka hanya berada di hutan  Ketika sakit.  Sebab,  biaya penyewaan  perahu motor ke puskesmas bisa mencapai jutaan rupiah, ” tuturnya.

Sementara itu Bupati Asmat Elisa Kambu mengatakan,  program BBM Satu Harga baru menjangkau dua kampung di Distrik Pantai Kasuari dan Distrik Safan.

Sementara fasilitas Agen Penyalur Minyak dan Solar baru terdapat di sejumlah distrik saja seperti Atsy,  Suator,  Agats dan Sawa Erma.

“Diperlukan minimal 12 titik pelaksanaan program tersebut agar warga di pedalaman Asmat bisa menikmati BBM Bersubsidi.  Kami berharap pihak Pertama adalah bisa merealisasikannya secara bertahap,” kata Elisa (riy)

Komentar

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

LBH Mitra Santri, Gugat Bupati Karna Suswandi ke PN Situbondo

22 Juni 2024 - 20:25 WIB

Viral di Medsos, Siswa SDN 1 Cottok Juara 1 Kid Atletik O2N Situbondo Gagal ke Provinsi

22 Juni 2024 - 18:51 WIB

Dinilai Tuntutannya Rendah, Kuasa Hukum Korban Ancam Laporkan JPU ke Jamwas

21 Juni 2024 - 18:53 WIB

Satu Jamaah Haji Asal Batanghari Meninggal di Mekkah

21 Juni 2024 - 18:46 WIB

PPDB SMPN 8 Kota Madiun Terima Titipan Siswa, Tolak Peserta Luar Kota?

21 Juni 2024 - 16:38 WIB

Dalam Kasus Bank Centris Kemenkeu Menjadi “Pengecut”

21 Juni 2024 - 15:22 WIB

Trending di Hukum