Lampung, reportasenews.com – Restoran Toha di Jalan R. A. Kartini, Bandar Lampung Jumat malam (12/5) itu tampak lebih ramai dari bisanya. Jarum jam sudah menunjuk angka delapan lebih sekian. Namun, para pengunjung agaknya masih menikmati hidangan nasi uduk, satu-satunya menu favorit di rumah makan yang terletak tak jauh dari dekat jembatan penyeberangan Jalan Agus Salim itu. Restoran ini memang terbilang tempat makan paling laris di Lampung.
Di salah satu sudut ruangan, seorang jenderal polisi bintang dua tengah asyik berbincang dengan beberapa kolegannya. Dialah Inspektur Jenderal Polisi Ike Edwin, mantan Kapolda Lampung yang kini menjadi salah satu Staf Ahli Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Seragam cokelat lengkap dengan tanda kepangkatan dan baret biru yang dikenakannya membuatnya tampak gagah penuh wibawa. Maklum, malam itu sang jenderal baru saja usai mengisi sebuah acara reuni Resimen Mahasiswa (Menwa) di Universitas Malahayati Bandar Lampung.
Dengan penampilan seformal itu, bisa dipastikan orang yang tak mengenal akan segan untuk mendekati sosok perwira tinggi polisi itu. Nyatanya tidak demikian. Paling tidak, hal itu terbukti ketika mendadak ada seorang bocah tiba-tiba menyeruak masuk dan tanpa ragu-ragu mendekati Irjen Ike Edwin yang tengah asyik berbincang.
Bocah berkaos pink itu mengenakan rok merah yang agaknya seragam sekolah dasar. Wajahnya cantik, tapi terlihat sangat letih. Rambutnya lurus sebahu. Usianya kira-kira baru sembilan tahun. Di pundak kiri bocah itu tergantung sebuah keranjang plastik menyerupai ember. Bibir keranjang itu nyaris tak membentuk lingkaran sempurna lagi karena telah retak di tiap sisi. Di pundak kanan bocah itu juga tergantung tas dekil warna merah yang entah apa isisnya, sementara tangan kanannya menenteng sebuah plastik transparan berisi sesuatu.
“Pak, mau beli otak-otak?” tanya si gadis itu kepada sang jenderal dengan polosnya sembari menyorongkan bungkusan di tangannya. Tak terlihat keraguan sedikit pun dari wajah bocah itu. Serta merta, Irjen Ike Edwin menoleh ke arah datangnya sumber suara. Melihat gadis itu, Irjen Ike Edwin sedikit mencondongkan kepalanya ke arah si bocah layaknya kesabaran seorang ayah yang sedang mendengarkan rengekan putrinya. Sejenak sang jenderal memandangi bungkusan di tangan si bocah.
“Kamu jualan otak-otak?” tanya Ike Edwin sembari mengedarkan pandangannya pada keranjang dan tentengan si bocah. Sekilas, wajah pria 52 tahun ini tampak terharu. “Sini, duduk dulu,” perintah pria yang akrab dipanggil Dang Gusti itu lembut sambil menggeser posisi duduknya untuk memberi ruang kepada si bocah. Gadis kecil itu mengangguk, lalu dengan polosnya duduk di sebelah Irjen Ike Edwin tanpa canggung.
“Siapa namamu? Kamu masih sekolah?” tanya Ike Edwin lagi.
“Nama saya Tia, Pak, saya masih kelas tiga SD. Jualan untuk membantu orang tua biayain sekolah,” jawab bocah itu. Tia bercerita, setiap pulang sekolah ia terbiasa jualan otak-otak di sekitar tempat tinggalnya. Ia baru pulang sekitar jam sembilan malam atau jika dagangannya sudah habis terjual. Sang Jenderal pun tak bertanya lagi, diperintahkan pada ajudannya untuk mengambil sebungkus otak-otak di tangan bocah itu dan dua bungkus yang masih tersisa di keranjang. Dikeluarkannya selembar uang pecahan seratus ribuan. “Ini, Bapak beli semuanya. Kembaliannya untuk beli buku ya. belajarlah yang rajin agar jadi orang pintar,” kata Ike Edwin.
Bukan main berserinya wajah si bocah malam itu. Dagangannya habis terjual dan mendapat uang saku untuk membeli buku. Ia tinggalkan tempat itu diiringi dengan pandangan sang jenderal hingga tubuhnya lenyap di balik pintu.
“Luar biasa sekali kegigihan anak itu. Sekolah sambil membantu orang tua. Jika diberi kesempatan, dan dibina dengan baik, ia akan menjadi aset berharga bagi bangsa ini ,” gumam Ike Edwin. “Pemerintah harus bisa hadir membina generasi muda seperti itu karena seharusnya tugas anak hanya belajar, bukan bekerja,” imbuhnya.
Tia sudah pasti hanyalah satu dari sekian banyak potret buram ketimpangan sosial di negeri ini. Seperti kata Irjen Ike Edwin, negara punya andil besar dalam menentukan masa depan yang kelak membentuk putra-putra pertiwi. Sebab, bocah adalah ibarat sebidang kanvas kosong yang menunggu dilukis menjadi sebuah karakter. Apakah kelak akan menjadi copet atau begal motor yang nasibnya berakhir di ujung peluru atau penjara, atau menjadi remaja berprestasi gemilang, orang-orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaanlah yang memiliki potensi membentuk mereka.
Malam semakin rambat, diiringi para stafnya sang jenderal keluar dari rumah makan itu. Di luar, beberapa tukang parkir yang sudah tampak mengenal Ike Edwin menyalami dengan hangat, tanpa canggung sedikit pun. “Kapan kembali bertugas di Lampung, Dang Gusti Ike?” tanya meraka. Yang ditanya hanya tersenyum menepuk-nepuk bahu para tukang parkir itu dan menuju mobilnya. (tan/han)
