Menu

Mode Gelap
Arus Mudik Lebaran di Pelabuhan Dwikora Pontianak Mulai Padat

Daerah · 7 Sep 2022 20:56 WIB ·

Bupati Alor Buka Suara Soal Kasus Pencabulan oleh Vikaris Terhadap Enam Anak di Alor


					Bupati Alor Buka Suara Soal Kasus Pencabulan oleh Vikaris Terhadap Enam Anak di Alor Perbesar

Bupati Alor Amon Djobo.

 

 

Kupang, Reportasenews.com – 
Pemerintah Kabupaten Alor, buka suara soal kasus pencabulan yang dilakukan seorang vikaris atau calon pendeta GMIT bernama Sepriyanto Ayub Snae (36) terhadap enam orang anak usia belasan di salah satu kompleks gereja Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Pemerintah Kabupaten Alor menyesalkan peristiwa pencabulan yang dilakukan oleh SAS, seorang vikaris atau calon pendeta GMIT yang melakukan pencabulan terhadap enam orang anak di Desa Waisika, Kecamatan Alor Timur Laut, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

“Sebagai pimpinan daerah (Alor) tentunya sangat menyesalkan peristiwa (pencabulan) tersebut. Hal-hal semacam itu harusnya tidak terjadi,” kata Bupati Alor, Amon Djobo saat dihubungi reportasenews.com Rabu (7/9) siang.

Menurut Amon Djobo, sebagai pemerintah, sangat menyesalkan peristiwa pencabulan yang dilakukan SAS terhadap enam orang anak di Desa Waisika, Kecamatan Alor Timur Laut, Kabupaten Alor.

Dia menjelaskan, apa yang dilakukan tersangka SAS mestinya tidak terjadi dan dilakukan. Apalagi itu berlangsung di lingkungan atau kompleks gereja. “Itu yang sangat disesalkan,” ujarnya.

Tapi Amon Djobo menjelaskan agar kasus tersebut harus bisa dipilah antara pribadi yang melakukan dan organisasi dalam hal ini GMIT yang menempatkan tersangka SAS untuk menjalankan praktek pelayanan di Gereja Siloam Nailang sebagai vikaris.

Dijelaskan Amon Djobo, kasus tersebut harus ditempatkan dalam dua sisi yakni sisi pribadi dan sisi organisasi. Dan organisasi menempatkan orang disitu bukan untuk melakukan hal-hal tercela.

“Harus diingat bahwa organisasi (GMIT) menempatkan orang di suatu tempat untuk melayani bukan untuk melakukan hal-hal tercela, sehingga harus dipahami bahwa perilaku pribadi jangan disangkutpautkan dengan organisasi,” kata Amon Djobo.

Sehingga tegas Amon, apa yang dilakukan oleh SAS adalah sebuah kesalahan pribadi bukan mengatasnamakan organisasi GMIT.

Dia menolak jika kasus pencabulan yang dilakukan SAS dikaitkan dengan organisasi gereja atau GMIT. Karena organisasi menempatkan seseorang untuk melayani di gereja dengan tujuan memberikan pelayanan. Dan apa yang dilakukan SAS adalah persoalan pribadi.

“Jangan sampai digiring ke organisasi ini, organisasi itu, itu tidak baik. Organisasi menempatkan (SAS) disitu untuk melayani, berbuat baik, cinta kasih, tapi kalau dia (SAS) membuat hal-hal tercela itu adalah urusan pribadi, itu diluar tata aturan organisasi,” tegasnya.

Karena itu kata Amon sebuah kesalahan pribadi maka tidak ada satupun warga negara yang kebal hukum. “Untuk itu pihak korban sudah lapor di pihak penegak hukum biarlah penegak hukum mengambil alih sesuai aturan hukum,” kata Amon.

Pemerintah Daerah kata Amon sangat mendukung proses penegakan hukum terhadap SAS. Dia juga meminta agar semua pihak bisa menghargai proses hukum yang sedang berjalan saat ini.

“Saya minta untuk semua pihak tenang, tidak usah kita buat hal-hal diluar ketentuan dan serahkan semua pada penegak hukum dan jangan main hakim sendiri,” ujarnya.

Amon juga mengharapkan agar masyarakat dan semua pihak tidak menggiring opini buruk ke organisasi tertentu yang berkaitan dengan kasus pencabulan yang dilakukan vikaris SAS. “Tidak boleh ada esensi jelek kepada siapun juga apalagi terhadap organisasi tertentu,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Merry Kolimon belum merespon permintaan konfirmasi dari reportasenews.com Hingga berita ini ditulis pesan singkat dan panggilan belum mendapat respon dari Merry Kolimon.

Sebelumnya, Aparat Polres Alor, pada Senin (5/9) menangkap dan menahan Sepriyanto Ayub Snae atau SAS, seorang vikaris atau calon pendeta GMIT di Alor, Nusa Tenggara Timur yang diduga melakukan pencabulan terhadap enam orang anak yang berstatus pelajar.

Keenam korban pencabulan tersebut antara lain HBM (15), SM (14), EIL (14), NAL (14), SOM (13) dan TMK (15). Keenam korban tersebut adalah warga Desa Waisika, Kecamatan Alor Timur Laut, Kabupaten Alor, NTT.

Kapolres Alor, AKBP Ari Satmoko menjelaskan terbongkarnya kasus pencabulan oleh SAS setelah dilaporkan oleh salah satu orangtua korban yakni Aner Musa Lakatai ke Polres Alor dengan Laporan Polisi nomor LP-B/277/IX/2022/SPKT /Polres Alor/Polda NTT tanggal 1 September 2022 tentang dugaan pencabulan dengan tersangka SAS.

Dalam kasus tersebut, polisi telah memeriksa 17 orang saksi termasuk enam saksi korban dan keluarga para korban. Polisi juga mengungkap motif vikaris atau calon pendeta GMIT asal Kupang yakni Sepritanto Ayub Snae (36) atau SAS yang mencabuli enam anak di Kabupaten Alor, NTT karena tidak bisa menahan hasrat seksualnya.

“Dari hasil pemeriksaan, tersangka tidak bisa menahan hasrat napsu seksualnya sehingga dia (tersangka) terpicu melakukan pencabulan,” kata Kapolres Alor, AKBP Ari Satmoko kepada CNN Indonesia, Selasa (6/9) malam.

Menurut Ari, tersangka Sepriyanto Ayub Snae (36) atau SAS warga Jalan Perintis Kemerdekaan, RT 16, RW 05, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Oebobo tersebut melakukan pencabulan terhadap enam anak saat menjalankan tugas sebagai calon pendeta GMIT di Gereja GMIT (Gereja Injili di Timor) Siloam Nailalang, Desa Waisika, Kecamatan Alor Timur Laut, Kabupaten Alor, NTT.

Disampaikan Ari, pencabulan hingga persetubuhan yang dilakukan SAS kepada enam korban, dilakukan dalam kompleks gereja tempat tersangka SAS melaksanakan tugas pelayanan sebagai calon pendeta.

Dan itu dilakukan dalam kurun waktu satu tahun sejak Mei 2021 hingga Mei 2022.”Dia memperdayai dan mengancam para korban akan menyebarkan video asusila yang direkamnya,” ujarnya.

Sehingga lanjut Ari perbuatan tersangka bukan hanya dilakukan sekali tetapi berulangkali melakukan pencabulan dan persetubuhan kepada para korban yang rata-rata masih berusia 13 tahun hingga 15 tahun.

Pencabulan dan persetubuhan tersebut dilakukan tersangka SAS kepada para korban berulangkali, tapi para korban takut melapor karena diancam oleh tersangka SAS akan menyebarkan video asusila yang direkamnya dengan para korban.

Tersangka SAS adalah seorang vikaris atau calon pendeta GMIT yang sedang menjalankan tugas praktek pelayanan jemaat di Gereja GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) Siloam, Nailalang Desa Waisika, Kecamatan Alor Timur Laut, Kabupaten Alor, NTT.

Tersangka SAS, dijerat dengan pasal Pasal 81 ayat 5 Juncto pasal 76D Undang-undang RI Nomor 35 tahun 2014 tetang perubahan atas undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, sebagaimana diubah dengan undang-undang RI nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas undang-undang RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi undang-undang, Jo pasal 65 ayat 1 KUHPidana dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup atau maksimal 20 tahun penjara dan minimal 10 tahun penjara. (eba)

Komentar
Artikel ini telah dibaca 362 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Liburan Lebaran, Polres Situbondo Siagakan Kapal Patroli di Wisata Pantai

13 April 2024 - 14:10 WIB

Nelayan Hamili Anak Kandung Dilaporkan ke Polisi

12 April 2024 - 21:05 WIB

Dua Rumah Milik Bapak dan Anak di Situbondo Ludes Terbakar

12 April 2024 - 19:09 WIB

Kapal Klotok Tenggelam di Sungai Kapuas,  Enam Penumpang Selamat

12 April 2024 - 13:19 WIB

Roda Depan Bermasalah, Bus Masuk Saluran Irigasi di Jalur Pantura Situbondo

11 April 2024 - 17:45 WIB

Suasana Sholat Idulfitri di Lapangan Merdeka Terbaru

11 April 2024 - 16:34 WIB

Trending di Daerah