Menu

Mode Gelap

Daerah · 28 Mei 2024 15:48 WIB ·

Dugaan Pungli, Kepala Puskesmas Oepoi Kupang Sudah Dilaporkan ke Inspektorat


					Kepala Puskesmas Oepoi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang NTT diduga melakukan pungutan liar dengan meminta staf dan nakes menyetor lima persen setiap melakukan perjalanan dinas. Upeti tersebut sebagai imbalan menandatangani surat perjalanan dinas. Perbesar

Kepala Puskesmas Oepoi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang NTT diduga melakukan pungutan liar dengan meminta staf dan nakes menyetor lima persen setiap melakukan perjalanan dinas. Upeti tersebut sebagai imbalan menandatangani surat perjalanan dinas.

Kupang, Reportasenews.com – Dugaan permintaan pungutan liar (pungli) yang dilakukan Kepala Puskesmas Oepoi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang  NTT, drg. Elfride Ruth terhadap staf dan tenaga kesehatan (nakes) telah dilaporkan ke Inspektorat Daerah Kota Kupang. 

Informasi yang dihimpun menyebutkan laporan ke Inspektorat Daerah tersebut disampaikan beberapa tenaga kesehatan melalui surat kepada Penjabat Walikota Kupang, Fahrensy Funay sejak bulan Februari 2024 lalu. 

“Suratnya ke Pj. Walikota pada Bulan Februari,” kata seorang nakes Selasa (28/5). 

Dari Penjabat Walikota Kupang lalu memberikan Inspektorat Daerah Kota Kupang untuk melakukan pemeriksaan terhadap kasus dugaan pungli tersebut. 

Namun kata beberapa tenaga kesehatan hingga saat ini belum diketahui tindak lanjut dari laporan tersebut. 

Beberapa tenaga kesehatan mengatakan telah dimintai keterangan oleh pemeriksa di kantor inspektorat. 

“Kita sudah pernah diperiksa,  dimintai klarifikasi oleh inspektorat, tapi belum tahu hasilnya seperti apa,” kata seorang tenaga kesehatan yang tidak bersedia namanya disebutkan.

Proses dugaan pungli  yang berlangsung di Inspektorat Daerah Kota Kipang itu dibenarkan oleh Kepala Puskesmas Oepoi, drg. Elfride Ruth saat dikonfirmasi wartawan Senin (27/5). 

Dia mengatakan kasus dugaan pungli yang menyeretnya bersama Kepala Tata Usaha (KTU), Eflin Sina, dan dua bendahara Puskesmas Oepoi yakni Maria Korohama dan Rovenolia Ngongo sedang berproses di inspektorat. 

“Saya tidak omong banyak-banyak tentang (dugaan pungli) ini sedang berproses,” kata Efrlin. 

Dia menyampaikan sangat menghormati proses yang sedang berlangsung. 

Efline pun mengaku telah dipanggil oleh inspektorat untuk menjalani pemeriksaan terkait laporan dugaan pungli yang dilakukannya. 

“Sudah, sidah (diperiksa), di inspektorat,” ujarnya. 

Eflin pun tidak membantah tentang dugaan pungli tersebut. “Mohon maaf saya tidak mau menjawab apapun,” kata Efline. 

Sementara itu kepala Inspektorat Daerah Kota Kupang, Frenki Amalo yang dikonfirmasi terpisah belum memberikan keterangan terkait proses pemeriksaan atas dugaan pungli Kepala Puskesmas Oepoi tersebut. 

“Mohon maaf ya, saat ini kita lagi kegiatan dengan KPK RI. Terimakasih,” kata Frengki melalui pesan tertulis yang diterima reportasenews.com, Selasa (28/5) saat dikonfirmasi. 

Sebelumnya diberitakan, sejumlah staf dan tenaga kesehatan Puskesmas Oepoi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, NTT mengeluhkan dugaan praktek pungutan liar yang dilakukan Kepala Puskesmas Oepoi, drg. Efline Ruth bersama KTU,  Eflin Sina, dan dua bendahara Puskesmas Oepoi yakni Maria Korohama dan Rovenolia Ngongo. 

Para nakes dan staf diwajibkan menyetor uang sebesar lima persen dari uang perjalanan dinas yang diterima oleh staf dan para nakes Puskesmas Oepoi sebagai imbalan menandatangani surat perjalanan dinas. 

Menurut beberapa tenaga kesehatan  yang bertugas di Puskesmas Oepoi menjelaskan praktek pungutan liar yang dilakukan oleh kepala puskesmas, KTU dan Bendahara tersebut sudah terjadi sejak 2019 lali. 

“Sudah dari 2019, kita (yang melakukan perjalanan dinas) diwajibkan menyetor uang lima persen dari besarnya uang jalan, yanh diterima” kata seorang nakes yang tidak mau namanya disebutkan. 

Uang tersebut diduga masuk ke kantong pribadi keempat orang tersebut sebagai upah menandatangani surat perjalanan dinas yang nilainya diduga telah mencapai puluhan juta rupiah. 

“Itu benar, setiap kali saya diminta menyetor uang lima persen dari uang perjalanan dinas dan bukan hanya saya tapi seluruh nakes mengalaminya,” kata seorang nakes yang tidak bersedia namanya disebutkan. 

Disampaikan bahwa uang tersebut ditagih oleh bendahara setiap kali usai nakes menjalankan tugas dengan alasan uang capek bagi Kepala Puskesmas, KTU dan bendahara yang menandatangani surat perjalanan dinas. 

“Bendahara sudah ada daftar nama nakes yang melakukan perjalanan dinas, jadi setiap kali pulang langsung ditagih tanpa memberika bukti pembayaran,” kata nakes tersebut. 

Mereka megatakan uang perjalanan dinas tersebut ada yang bersumber dari Dana Alokasi Umum Spesifik Grand (DAU SG) dan Biaya Operasional Kesehatan yang dikelola oleh Puskesmas. 

“Dana perjalanan itu bersumber dari DAU SG dan BOK,” kata seorang nakes. 

Disampaikan para nakes praktek pungli tersebut sudah dilaporkan ke Penjabat Walikota Kupang dan juga Inspektorat Daerah Kota Kupang.

“Sudah kita laporkan, tapi tidak tahu prosesnya sudah sejauh mana,”. 

Para nakes berhadap agar praktek pungli tersebut segera dihentikan karena sangat merugikan para nakes yang melaksanakan dinas luar dan melakukan pekerjaan diluar kantor. 

Sementara itu Kepala Puskesmas Oepoi Kota Kupang, dtg. Elfride Ruth yang dikonfirmasi Senin (27/5) tidak membantah dan juga tidak mengiyakan dugaan praktek pungli dana perjalanan dinas terhadap anak buahnya. (eba)

Komentar

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Hindari Tabrakan, Truck Box Terguling di Jalur Pantura Situbondo

12 Juni 2024 - 21:13 WIB

18 Ruko di Pasar Sambas Terbakar Hebat

12 Juni 2024 - 20:43 WIB

Tak Bayar Uang Sewa 6 Unit Mobil Rental Rp133 juta, Kades Bungatan Situbondo Dipolisikan

12 Juni 2024 - 19:48 WIB

Banting Setir Bakul Wedus Idul Adha, Dulu Wartawan Media Online di Madiun

12 Juni 2024 - 19:44 WIB

Bandar Narkoba Diciduk di Penginapan Mekar Sari

12 Juni 2024 - 18:48 WIB

Satgas Pamtas RI-Malaysia Gagalkan Penyelundupan Sisik Trenggiling

12 Juni 2024 - 18:41 WIB

Trending di Daerah