Jakarta, reportasenews.com-Sekitar 50 juta pengguna Facebook digunakan oleh perusahaan bernama Cambridge Analytica untuk memenangkan kampanye Donald Trump pada Pilpres Amerika Serikat.
Cambridge Analytica adalah perusahaan yang menjalankan operasi pengolahan data untuk kampanye Donald Trump pada Pilpres AS 2016. Mereka mendapat banyak pujian karena sukses mengarahkan kampanye Trump pada pemilihnya secara efektif, lebih efektif ketimbang pesaingnya yaitu Hillary Clinton.
Adalah Robert Mercer, mantan pegawai Cambridge Analytica.yang mengatakan bahwa jutaan data individual user Facebook dikoleksi melalui aplikasi thisisyourdigitalife, buatan akademisi Cambridge University bernama Aleksandr Kogan.
Melalui perusahaan bernama Global Science Research yang bekerjasama dengan Cambridge Analytica, awalnya menggunakan ratusan ribu user yang dibayar untuk melakukan tes kepribadian di Facebook para pemilik akun ini setuju dan data mereka dikumpulkan guna kepentingan akademis.
Namun aplikasi itu ternyata juga mengambil data teman-teman Facebook dari peserta tes itu, sehingga mencapai puluhan juta data, yang kemudian terkuak tujuannya bukan untuk akademis melainkan sebuah sistem yang bisa mengenali profil individual pemilih capres Amerika Serikat 2016, dan membangun iklan politik yang diinginkan Trump.
Terkuaknya skandal ini berimbas pada harga saham Facebook yang terjun bebas dan anjlok drastis pada kisaran 35 miliar Dolar US, begitupun kekayaan Mark sudah terpangkas ratusan triliun. Dikutip dari CNBC, harta Mark terpangkas sekitar USD 9,1 miliar atau di kisaran Rp 123 triliun dalam kurun waktu 48 jam saja.
Facebook sebenarnya sedang mengalami berbagai tantangan. Dikutip dari Reuters, Kamis (22/3/2018), orang semakin sedikit menghabiskan waktunya di sana.
Mark sendiri yang mengatakan kalau jumlah waktu user mengakses Facebook turun 50 jam per hari. Pada laporan kuartal IV 2017,
Adapun di Eropa, pertumbuhan jumlah user Facebook melambat secara signifikan. Padahal wilayah itu menghasilkan sampai 75% pendapatan Facebook. Meskipun pengguna aktif harian meningkat 14% menjadi 1,4 miliar dibanding tahun sebelumnya, ada fakta kurang mengenakkan di beberapa negara. Di kandangnya Amerika Serikat serta Kanada, jumlah pengguna Facebook anjlok 1 juta di kuartal itu.
“Seperti MySpace sebelumnya, dominasi jangka panjang Facebook tidaklah terjamin. Serangan gencar soal privasi mungkin akan mempercepat kemundurannya,” tulis Reuters.
Riset baru dari eMarketer mengestimasi, pangsa pasar Facebook di periklanan digital Amerika Serikat akan menurun dalam dua tahun ke depan terkait perlambatan pertumbuhan user serta harga iklan sudah tak bisa ditinggikan.
Skandal baru terkait kebocoran data 50 juta user yang masih panas, di mana otoritas ingin meminta pertanggungjawaban Facebook serta tentunya Zuckerberg. Jika skandal ini tak mampu di jawab oleh Mark Zuckerberg dijamin popularitas Facebook makin merosot. (tat/cel)
