Search

Gaya Preman: Utusan AS Mengancam Anggota PBB Jika Menentang Trump

Nikki Haley dubes AS di PBB balik menebar ancaman kepada semua negara yang berani menentang Trump/ Twitter

Amerika, reportasenews.com – Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley mengirim sebuah surat yang mengancam ke negara anggota Majelis Umum, menjelang pemungutan suara atas keputusan sepihak Presiden Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel, lapor Haaretz.

“Presiden akan mengawasi pemungutan suara ini dengan hati-hati dan meminta saya melaporkan kembali kepada mereka yang telah memilih untuk melawan kami,” tulis Haley.

“Terima kasih atas pertimbangan Anda, dan jangan ragu untuk menghubungi tim saya dengan pertanyaan atau masalah apa pun.”

Surat tersebut melanjutkan, “Seperti yang Anda tahu, Majelis Umum sedang mempertimbangkan sebuah resolusi tentang keputusan Presiden Trump yang baru-baru ini mengenai Yerusalem. Sewaktu Anda mempertimbangkan suara Anda, saya mendorong Anda untuk mengetahui presiden dan AS akan mencatat pemungutan suara ini secara pribadi.”

Majelis Umum PBB akan melakukan pemungutan suara untuk sebuah diskusi darurat mengenai Yerusalem. Turki dan Yaman meminta pertemuan tersebut setelah AS memveto sebuah rancangan resolusi yang disponsori Mesir di Dewan Keamanan PBB, yang didukung oleh semua 14 anggota dewan lainnya.

Dalam surat tersebut, Haley berusaha meremehkan pentingnya pergeseran kebijakan AS.

“Dua puluh dua tahun yang lalu, kongres AS menyatakan bahwa Yerusalem harus diakui sebagai ibu kota Israel, dan bahwa kedutaan AS harus dipindahkan ke Yerusalem. Presiden Trump menegaskan bahwa deklarasi tersebut dengan secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. “

Dia menambahkan: “Namun, pengumuman Presiden tersebut tidak mempengaruhi negosiasi status akhir dengan cara apapun, termasuk batas-batas spesifik kedaulatan Israel di Yerusalem. Presiden juga memastikan untuk mendukung status quo di tempat-tempat suci Yerusalem, dan tidak menganjurkan perubahan pengaturan di Bukit Bait Suci atau Haram Al-Sharif. “

“Pengumuman AS adalah sebuah pengakuan bahwa perdamaian paling maju, tidak diatur kembali. Yerusalem telah menjadi ibu kota Israel sejak negara tersebut didirikan hampir tujuh puluh tahun yang lalu. Presiden dengan jelas menyuarakan dukungan untuk solusi dua negara jika itu apa yang disepakati oleh tim. “

Haley mendesak negara-negara anggota untuk mempertimbangkan apakah resolusi tersebut dapat memicu “retorika dan kekerasan yang memanas”.

Haley juga melempar tweet kemarin bahwa AS akan “mencatat nama” dari mereka yang mengkritik keputusan AS untuk memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Di PBB kami selalu diminta untuk berbuat lebih banyak dan memberi lebih banyak. Jadi, ketika kita membuat keputusan, atas kehendak rakyat Amerika, di mana menemukan kedutaan AS, kami tidak mengharapkan yang telah kami bantu untuk menargetkan kami. Di sini akan ada suara yang mengkritik pilihan kita. AS akan mencatat nama (negara yang menentang kami). pic.twitter.com/ZsusB8Hqt4
– Nikki Haley (@nikkihaley) 19 Desember 2017

Di Tweet diatas ini tampaknya Nikki Haley mengalami ‘pikun parah’. Faktanya, negara mayoritas didunia tidak setuju AS membuat keputusan sepihak seenaknya menyerahkan Yerusalem ke Israel tanpa melewati PBB.

Lantas kenapa Nikki malahan meributkan soal “AS berhak memindahkan kedutaan kami ke Yerusalem”?, ini bukan soal cuma memindahkan kedubes mereka, ini soal pengakuan Yerusalem diserahkan kepada Israel seenaknya.

Ibarat meletakan sepiring pizza dimeja perundingan, tapi yang boleh memakan pizza itu hanya Israel, sedangkan Palestina diikat dikursinya tidak boleh makan. Ini jelas bukan perundingan yang fair.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Israel mendesak para diplomatnya ke seluruh dunia untuk melobi negara-negara tuan rumah mereka untuk menentang resolusi Majelis Umum, atau setidaknya untuk tidak memberikan dukungan secara terbuka kepada publik.

Trump tampaknya terserang penyakit “megalomaniak”. Dia berpikir dirinya kaya dan berkuasa maka semua negara harus tunduk kedia. Dia pikir AS adalah super power dengan uang melimpah, maka negara lain adalah diperlakukan seperti “pembantu dia”. Trump seolah mengatakan dirinya adalah “super boss” semua negara harus tunduk pada dia. Dan jika ada negara yang membantah kemauan dia, maka negara itu dicatat namanya,  dikejar dan ditekan habis.

Gaya ini bukan diplomasi elegan atas prinsip “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah”, ini mirip cara memeras dengn pisau terhunus ala “preman dipasar senggol”, dimana kekuatan senjata dan uang mengendalikan segalanya. (Hsg)




Loading Facebook Comments ...