Menu

Mode Gelap

Internasional · 1 Nov 2021 10:41 WIB ·

Guru Bantu Bahasa Indonesia di Australia akan Diperluas


					Mukhamad Najib
Atase Pendidikan dan Kebudayaan
KBRI Canberra dalam acara Penutupan periode ke-II Perbesar

Mukhamad Najib Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra dalam acara Penutupan periode ke-II "Program Guru Bantu" yang dilakukan secara daring dari Victoria, Australia pada hari jumat, tanggal 29 Oktober 2021. (foto:istimewa)

 

Jakarta,reportasenews.com  Daya tarik kelas bahasa Indonesia di Australia seringkali terletak pada pengajarnya. Oleh karena itu guru tidak cukup hanya memiliki kemampuan menyampaikan substansi materi bahasa, tapi juga mampu menciptakan proses pembelajaran yang menarik bagi siswa asing. Sebaiknya Guru Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) tidak hanya dapat mengajar bahasa, tapi juga dapat mengenalkan budaya Indonesia. Karena budaya dapat menjadi pintu gerbang kertertarikan siswa untuk belajar bahasa.

Hal ini diungkapkan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan (ATDIKBUD) KBRI Canberra dalam acara Penutupan periode ke-II “Program Guru Bantu” yang dilakukan secara daring dari Victoria, Australia pada hari jumat, tanggal 29 Oktober 2021.

Pengiriman guru bantu merupakan program kerjasama antara VILTA (Victoria Indonesian Language Teacher Association) dengan beberapa Universitas di Indonesia dengan tujuan untuk menyediakan penutur asli Bahasa Indonesia yang terampil. Pada periode Agustus-Oktober ini VILTA bekerjasama dengan Universitas Negeri Padang. Sebanyak 20 orang guru bantu yang teridiri dari mahasiswa tingkat akhir yang sedang melakukan KKN didistribusikan ke 15 sekolah di Victoria.

Menurut presiden VILTA, Sylvia Wantania, para guru bantu tersebut bertugas untuk membantu  para guru dan dosen bahasa Indonesia di Victoria, Australia dalam menyampaikan program-program budaya, menyiapkan bahan pengajaran dan membantu para siswa untuk berlatih percakapan secara daring.  Sebelum diberi penugasan, para calon guru bantu dipersiapkan dan dilatih secara intensif oleh VILTA untuk menyesuaikan pada kondisi pengajaran di Australia, meliputi pelatihan guru, pengenalan kurikulum Australia dan pelatihan metode BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing – Bahasa Indonesia untuk Orang Asing).

Dalam kesempatan tersebut Najib, atas nama Kantor Atdikbud di Canberra mengucapkan terimakasih atas inisiasi VILTA dalam memperkuat promosi bahasa Indonesia di Victoria dan Universitas Negeri Padang yang telah bersedia mengirimkan mahasiswanya untuk membantu mengajar di sekolah-sekolah Australia. Program semacam ini menurut Najib perlu dikembangkan lebih luas lagi kedepannya.

Pengiriman mahasiswa KKN ke Victoria selain dapat membantu mempromosikan bahasa dan budaya Indonesia di kalangan siswa-siswa Australia, tentunya juga bermanfaat bagi mahasiswa sendiri untuk memperoleh pengalaman internasional. Hal ini sesuai dengan spirit merdeka belajar dan kampus merdeka.

Najib juga berpendapat bahwa mahasiswa yang sedang KKN memiliki kelebihan jika membantu mengajar di sekolah-sekolah Australia. “Mahasiswa KKN memiliki rentang usia yang tidak terlalu jauh dari siswa-siswa SMA, mereka relatif berada dalam rentang generasi yang sama, sehingga kemungkinan akan lebih mudah mendekat dengan siswa dan bisa membuat siswa menjadi lebih tertarik”, jelas Najib.

Keberadaan guru bantu di sekolah-sekolah Victoria dirasakan sangat bermanfaat baik oleh guru, siswa maupun orang tua. Misalnya Sasha-Lee Lanyon, salah seorang guru bahasa Indonesia di Victoria menyebutkan bahwa keberadaan guru bantu dapat memberi kesempatan siswa-siswanya untuk bicara langsung dengan native, sehingga perkembangan siswa menjadi lebih cepat. Sementara guru lainnya, Julia Hall mengungkapkan bahwa siswanya menjadi lebih percaya diri untuk bicara bahasa Indonesia setelah berinteraksi dengan guru bantu.

Selama ini, menurut Sylvia, jika diajar oleh guru dari Australia, siswa-siswa cenderung mau cepat, sehingga seringkali dikelas tetap menggunakan bahasa Inggris dalam pengajaran. Dengan adanya guru bantu dari Indonesia yang adalah asli orang Indonesia, maka siswa-siswa dipaksa untuk bicara bahasa Indonesia. Hal ini menurutnya dapat mempercepat kemampuan siswa dalam mempelajari bahasa Indonesia. Senada dengan guru-guru sekolah lainnya, Hayley Whelan selaku guru bahasa juga sangat berterimakasih atas kehadiran guru bantu dari Universitas Negeri Padang, dan berharap suatu hari nanti setelah border antar negera dibuka bisa mengirim siswa-siswanya untuk datang ke Indonesia.

Dalam penutupan sambutannya, Najib juga menyampaikan bahwa program pengiriman guru bantu yang berasal dari mahasiswa tingkat akhir yang sedang melaksanakan KKN ini perlu diperluas ke daerah-daerah lain di Australia. “Program merdeka belajar yang dikaitkan dengan promosi bahasa dan budaya akan sangat menarik, karena memiliki multi manfaat, baik untuk mahasiswa, kampus maupun sekolah di Australia, oleh karena itu kantor Atdikbud di Canberra berencana akan memperluas program semacam ini ke negara-negara bagian lainnya di Australia”, tutup Najib. (*)

Komentar
Artikel ini telah dibaca 50 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Kajati Banten Geledah Kantor Ditjen Bea Cukai Bandara Soekarno Hatta, Petugas Sita  Rp 1,1 Miliar

27 Januari 2022 - 18:00 WIB

Masyarakat Adat Dayak Kalbar Laporkan Edy Mulyadi ke Polisi

27 Januari 2022 - 12:40 WIB

ASN Pelempar Bom Molotov Saat Pelantikan Pejabat Pemkab Ketapang Diamankan Polisi

27 Januari 2022 - 11:43 WIB

15 Siswa dan Guru di Pontianak Terpapar Covid 19, Sekolah Diliburkan

21 Januari 2022 - 19:13 WIB

Tak Setuju Ibu Kota Dipindah, Din Syamsuddin akan Gugat UU IKN ke MK

21 Januari 2022 - 16:35 WIB

Menkes: Rendah Resiko Masuk Rumah Sakit Kasus Varian Omicron

21 Januari 2022 - 15:40 WIB

Trending di Kesehatan