Menu

Mode Gelap

Investigasi · 19 Agu 2016 19:39 WIB ·

Hati-hati: Susu Urea, Mata Rantai Perdagangan Beredar Di Masyarakat


					Foto Ilustrasi Perbesar

Foto Ilustrasi

REPORTASENEWS INVESTIGASI :

JAKARTA – RN.COM, Meski tak sesempurna dan seideal Air Susu Ibu (ASI), produk susu formula masih menjadi kebutuhan dasar  yang tak tergantikan sekaligus menjadi makanan utama bagi balita. Masih  ingat dengan kasus susu yang mengandung melamine beberapa tahun lalu?

Zat kimia yang biasa digunakan untuk membuat plastik, lem, dan pembersih ini ditambahkan untuk mengelabuhi kadar protein susu sehingga tampak lebih tinggi. Kecurangan ini pernah dilakukan oleh produsen susu terbesar di china.

Bagaimana dengan produk susu formula di Indonesia?. Kasus susu mengandung melamine memang tak lagi ditemukan, tapi bukan berarti seluruh susu formula yang beredar di indonesia terbebas dari masalah.

Dari penelusuran ReportaseNews.com ke beberapa sentra produksi susu di pulau jawa, menemukan fakta beredarnya susu bercampur pupuk Urea. Sama seperti melamine, mencampurkan urea ke dalam susu bertujuan mendongkrak kadar protein.

Menurut pakar teknologi pangan Universitas Sebelas Maret, Asri Nursiwi, Urea  tidak boleh digunakan dalam pengolahan susu atau makanan lainnya karena  sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia. Sifatnya yang toksit akan mengganggu pecernaan dan memperberat kerja ginjal dan hati. “ Susu segar kalau sudah ditambahkan urea, namanya bukan susu segar lagi. Urea tidak diperuntukan campuran makanan dan pengolahannya.” Ungkapnya lagi.

Pengoplosan urea ke dalam susu ini dilakukan oleh para pengepul susu cair yang berkedok koperasi. Mereka melakukan kecurangan untuk mengakali kualitas susu agar diterima pabrik. Selain konsumen yang dirugikan,  para peternak susu juga menjadi korbannya.

Meski harga pembelian susu dari pabrik sudah cukup bagus, tapi harga ini jauh menurun saat sampai ke tangan peternak. Tingginya sellisih harga ini tak terkait dengan kualitas susu yang dihasilkan peternak, melainkan karena mata rantai perdagangan yang panjang dan adanya oknum yang mempermainkan harga ditingkat peternak.

Selain membuat selisih harga yang merugikan petani, mata rantai perdagangan yang  panjang  juga bisa membuat kualitas susu menjadi buruk. Sisitem kerja jemput bola yang dilakukan loper atau pengepul  untuk mengambil susu dari peternak hanyalah kedok. dengan mempersempit ruang gerak antara koperasi dan pabrik susu, oknum loper akan bisa memainkan harga susu sesuai keinginan mereka//

Menurut Sosiolog dari Univertas sebelas Maret,  dra. lv. Ratna Devi s.m.si,  semrawutnya bisnis susu di indonesia adalah akibat dari sistem ekonomi yang diterapkan pemerintah tak berpihak pada peternak yang  berakibat pada munculnya berbagai kecurangan. “ dengan masuknya IMF ada poin poin yang harus dilaksanakan pemerintah salah satunya menghapus subsidi, agar susu bisa masuk pasar bebas”, ujar Ratna.

Penghapusan subsidi dan rendahnya bea masuk susu impor, membuat para pengusaha susu beralih ke susu impor. Dengan harga yang jauh lebih murah dan kualitas  terjamin,  para pengusaha tak lagi mengutamakan  susu produksi lokal.

Butuh keseriusan pemerintah dalam mengurai buruknya bisnis susu di indonesia. Hal ini tentu demi menjaga stabilitas harga  dan kesejahteraan para peternak. Kesejahteraan peternak akan  berpengaruh pada penanganan sapi dan kualitas produk susu yang dihasilkan, bukan susu urea yang masih beredar luas saat ini. (Tim RN)

 

Komentar

Baca Lainnya

Hindari Tabrakan, Truck Box Terguling di Jalur Pantura Situbondo

12 Juni 2024 - 21:13 WIB

18 Ruko di Pasar Sambas Terbakar Hebat

12 Juni 2024 - 20:43 WIB

Tak Bayar Uang Sewa 6 Unit Mobil Rental Rp133 juta, Kades Bungatan Situbondo Dipolisikan

12 Juni 2024 - 19:48 WIB

Banting Setir Bakul Wedus Idul Adha, Dulu Wartawan Media Online di Madiun

12 Juni 2024 - 19:44 WIB

Bandar Narkoba Diciduk di Penginapan Mekar Sari

12 Juni 2024 - 18:48 WIB

Satgas Pamtas RI-Malaysia Gagalkan Penyelundupan Sisik Trenggiling

12 Juni 2024 - 18:41 WIB

Trending di Daerah