Menu

Mode Gelap

Jelajah · 10 Apr 2017 10:31 WIB ·

Isi Waktu Liburan dengan Kursus Jungle Survival di Gn. Gede-Pangrango


					Kursus Jungle Survival mengajari anda bertahan hidup di hutan dan gunung. Perbesar

Kursus Jungle Survival mengajari anda bertahan hidup di hutan dan gunung.

Jakarta, reportasenews.com-Ilmu bertahan hidup di hutan (jungle survival) menjadi seni yang harus dipelajari bagi penggiat alam bebas yang senang naik gunung, terutama yang senang ngapyak, melewati jalur-jalur yang baru.

Kemampuan jungle survival ini, memberikan contoh banyaknya kasus pendaki gunung yang tersesat dan masih mampu bertahan hidup dan menyelematakan nyawanya. Sebaliknya, tidak memahami jungle survival membuat rentan dan sering berakhir dengan kematian bagi pendaki gunung yang hilang dikerimbunan hutan tropis di Indonesia.

Menurut seorang trainer jungle survival Endang Herman, survival adalah keadaan dimana diperlukan perjuangan untuk bertahan hidup. Menyelamatkan nyawa pada waktu mendesak dan melakukan improvisasi yang memungkinkan.

“Kuncinya adalah menggunakan otak untuk improvisasi, karena kita dianugerahi kemampuan adaptasi yang bagus. Namun semua itu harus dilatih dengan standar kompetensi yang baik,” jelas Herman, ahli jungle survival yang kerap dipanggil Emon Maga (Macan Gunung).

Pada musim liburan bulan April ini, Emon membuka kursus jungle survival secara privat dengan Yayasan Next Trip Jelajah. Lokasinya di Kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrago, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Jakarta namun masih memiliki ekosistem hutan hujan tropis yang beragam. Kursus itu sendiri didesain menyerupai kondisi darurat sebenarnya, namun dengan dukungan fasilitas kelas satu.

Pria berambut gondrong dan murah senyum ini menyebutkan, survival berasal dari kata survive yang berarti mampu mempertahankan diri dari keadaan tertentu. Dalam hal ini mampu mempertahankan diri dari keadaan yang buruk dan kritis. Sedangkan Survivor adalah orang yang sedang mempertahankan diri dari keadaan yang buruk.

Statistik membuktikan hampir semua situasi survival mempunyai batasan waktu yang singkat hanya 3 hari atau 72 jam bagi orang hilang, dan yang mampu bertahan cukup lama tercatat sangat sedikit sekitar 5 persen itupun karena pengetahuan dan pengalamannya.

Di Gunung Gede-Pangrango termasuk kawasan yang sering mengalami darurat orang tersesat, kemudian tewas karena si korban tidak menunjukkan tanda-tanda berusaha bertahan hidup dengan kemapuan jungle survival.

“Biasanya korban tewas hanya berdiam diri, tidak berusaha bertahan hidup di hutan. Padahal hutan hujan tropis menyimpan keanekaragaman hayati yang memungkinkan kita bisa bertahan hidup,” ungkap Emon.

Dalam situasi survival janganlah tergesa-gesa menentukan prioritas survival karena dapat berakibat salah, gagasan kaku yang tidak boleh ditawar-tawar juga akan berakibat fatal. Ketepatan memutuskan dengan didukung pengalaman dan hasil diskusi dapat menguntungkan karena situasi darurat perlu pertimbangan dan sikap tegas dalam mencapai tujuan akhir.

Emon adalah pelatih jungle survival yang banyak menimba ilmu dari pakar jungle survival Indonesia almarhum Herry Macan, juga otodidak dari pengalamannya keluar masih hutan tropis di Kawasan Gunung Gede-Pangrango. Ia hapal luar kepala jenis-jenis tumbuhan yang bisa dimakan manusia beserta nama latinnya.

IMG-20170410-WA0018E Emon Magun (Macan Gunung) ahli pelatihan Jungle Survival di hutan hujan tropis, mewarisi keahlian bertahan hidup dari sekolah pendaki gunung dan pengalaman bertualang.

Dalam latihan yang didesain itu, Emon menjelaskan bahwa dalam keadaan survival diperlukan pengetahuan terhadap kondisi dan kebutuhan tubuh, bukan mutlak mengerti secara fisik tetapi memahami reaksi atau dampak akibat pengaruh lingkungan. menggunakan pengetahuan dalam usaha mengatur diri saat keadaan darurat.

“Pengaturan disini adalah memelihara ketrampilan dan kemampuan untuk mengontrol sumber daya di dalam diri dan kemampuan memecahkan persoalan, bila pengaturan keliru, tidak hanya badan terganggu akan tetapi dapat langsung berdampak terhadap kemampuan untuk tetap hidup,” tukasnya.

Dalam kondisi survival tantangan yang sangat dominan adalah sikap mental atau psikologis untuk mencari kebutuhan tubuh dan melakukan adaptasi bertahan hidup seadaanya.

Berdasarkan pengalamanna, kebutuhan dasar alami tubuh yang dibutuhkan adalah mencari air.

Seseorang dalam keadaan normal dan sehat dapat bertahan sekitar 20 – 30 hari tanpa makan, tapi orang tersebut hanya dapat bertahan hidup 3 – 5 hari saja tanpa air.

Ada tips Survival yang harus dimiliki seorang survivor adalah :

1. Sikap mental ; Semangat untuk tetap hidup, Kepercayaan diri, Akal sehat, Disiplin dan rencana matang serta Kemampuan belajar dari pengalaman.
2. Pengetahuan ; Cara membuat bivak, Cara memperoleh air, Cara mendapatkan makanan, Cara membuat api, Pengetahuan orientasi medan, Cara mengatasi gangguan binatang, Cara mencari pertolongan
3. Pengalaman dan latihan ; Latihan mengidentifikasikan tanaman, Latihan membuat trap, dll
4. Peralatan ; Kotak survival, Pisau jungle , dll.

Jika Anda ingin mengikuti kursus jungle survival ini, hubungi Emon Magun: 085723205179. (tat)

 

 

Komentar

Baca Lainnya

Tertimpa Pohon Tumbang, 2 Rumah Kakak Beradik di Situbondo Rusak Berat

14 Juli 2024 - 21:18 WIB

DuaGudang Terbakar di Situbondo, Kerugian Materi Mencapai 45 juta

14 Juli 2024 - 21:14 WIB

Ae Mutu Air Tiga Rasa, Nikmati Keindahan Alam dan Budaya di Gunung Kelimutu

14 Juli 2024 - 21:08 WIB

Masa Jabatan Kades Jadi 8 Tahun, Apdesi Situbondo Gelar Syukuran

13 Juli 2024 - 16:23 WIB

Keroyok Seorang Perempuan, Bapak dan Anak di Situbondo Dipolisikan

12 Juli 2024 - 22:10 WIB

Bawa Sajam Saat Konvoi, Puluhan Anggota PSHT Diamankan

12 Juli 2024 - 17:16 WIB

Trending di Daerah