Dipastikan, masing-masing telah mempersiapkan skuadnya dengan sangat baik guna menyongsong partai melawan tim yang mungkin saja baru tampil habis-habisan di kancah Eropa.”
Penulis :Â Iwan Ahmad Sudirwan, mantan Producer/Penyiar BBC World Service, London
Bergairahnya Supporter, Klub-klub Mulai Full Gear
JAKARTA, REPORTASE – Liga Primer Inggris kembali ke kalender rutin pada akhir pekan ini usai digelarnya partai-partai kejuaraan level benua biru yaitu Champions League dan Europa League. Now, business is back to normal.
Tetapi, jangan salah, klub maupun fans di Inggris biasanya jadi sangat bergairah begitu kompetisi liga kasta tertinggi ini bergulir kembali. Ada berbagai alasan di balik ini. Pertama, sejumlah klub memang sudah sangat menantikan pertandingan pada akhir pekan ini. Mereka, tentu saja, adalah tim-tim yang tidak bertanding di Eropa, termasuk Chelsea sang penguasa klasemen sementara.
Dipastikan, masing-masing telah mempersiapkan skuadnya dengan sangat baik guna menyongsong partai melawan tim yang mungkin saja baru tampil habis-habisan di kancah Eropa seperti Manchester United, Manchester City, Arsenal, serta Totenham Hotspur yang kalah dan tersingkir di Liga Champions. Klub-klub lainnya akan tampil full gear pada pekan ini demi ambisi mereka memastikan posisi di puncak, atau, terus memberikan pressure terhadap tim-tim yang tengah unggul di klasemen sementara.
Di Tengah Partai-partai Keras, “the London Derby” Paling Panas
Ya, sepuluh pertandingan pada pekan ke-13 Liga Primer pada hari Sabtu dan Minggu ini, termasuk partai yang mempertemukan Chelsea dan Tottenham Hotspur di Stadion Stamford Bridge, akan berlangsung keras dan sengit. Inilah London derby! Inilah partai yang paling banyak menyita perhatian.
Chelsea mungkin lebih diunggulkan. Klub asuhan Antonio Conte, allenatore asal Italia, kini memuncaki klasemen lewat performa mengesankan, mencatat kemenangan beruntun dalam enam partai terakhir dan tanpa kebobolan. Klub asal London bagian barat ini, kawasan elit di ibukota Inggris, sudah meraup 28 poin. Produktivitas Chelsea juga luar biasa, sudah 27 kali menjebol gawang lawan dan kebobolan hanya 9 gol. Strikernya, Diego Costa, tampil ganas dengan torehan sepuluh gol dan nangkring di puncak daftar top scorer Liga Primer.
Kunci sukses the Blues hingga pekan ke-12 lalu tak lain keputusan Antonio Conte untuk mengubah sistim permainan Chelsea berdasarkan pola 3-4-3. Setelah sulit menang di awal musim, bahkan sempat menyerah 0-3 pada Arsenal, asuhan Conte tak pernah berhenti meraih hasil positif begitu mereka mulai memakai sistim 3-4-3!
Kepada BBC Sport, awal pekan ini, Conte mengakui absennya Chelsea dari pentas Eropa telah membantu skuadnya menemukan dan memantapkan sistim baru yang pas. “Sesudah perubahan sistim kami jadi memiliki lebih banyak keseimbangan. Penting sekali kami terus bekerja. Saya lihat para pemain sangat bahagia,†kata Conte. Dia juga sangat sadar timnya memiliki catatan yang lebih unggul dibanding Spurs.
Namun, statistik tak selalu identik dengan hasil ciamik!
Ini partai derby, kontra Tottenham Hotspur pula lagi. Kalau menyoroti statistik belaka maka Spurs dipastikan (lagi!) bakal merana. Mengapa? Spurs tak pernah lagi bisa mengalahkan Chelsea di Stamford Bridge sejak tahun 1990. Itu terjadi pada periode keemasan Spurs yang dimotori striker tajam Gary Lineker, salah satu legenda Inggris, dengan kreator lapangan tengah si jenius Paul Gascoigne. Sebaliknya, pada masa itu, Chelsea belum menjelma menjadi klub tangguh.
Tottenham Hotspur dipastikan datang menyambangi Stamford Bridge berbekal dendam membara, sekaligus tekad untuk menjaga kehormatan mereka. Klub asal London bagian utara ini juga sedang terluka karena mereka baru tersingkir dari kancah Liga Champions. Asuhan coach Mauricio Pochettino ini boleh jadi masih kelelahan, tetapi sebuah partai derby yang sarat gengsi biasanya selalu bisa memompa energi dan melecut semangat para pemain.
Secara teknis, Harry Kane dan rekan-rekannya tak kalah dibanding Eden Hazard cs. Untuk mencetak gol ke gawang lawan yang punya pertahanan solid, Spurs akan menempatkan Delle Alli untuk mendukung Harry Kane. Supply bola untuk mereka diharapkan datang dari barisan gelandang serang agresif yang dimotori Moussa Dembele dan Christian Eriksen serta Victor Wanyama yang akan berperan sebagai defensive midfielder yang juga siap mendukung serangan.
“Battle in Midfield is Decisive”
Ya, pertarungan di lini tengahlah yang akan menentukan! Di sektor ini, persaingan antara para gelandang Spurs kontra barisan gelandang the Blues akan menghasilkan aksi-aksi panas, sekaligus menentukan, walaupun tak selalu mereka yang dapat sorotan. Chelsea menyiapkan gelandang-gelandang tangguh bermental petarung yang punya mobilitas tinggi.
Conte sangat puas dengan kontribusi duo gelandang tengah N’Golo Kante yang padu dengan Nemanja Matic. Kombinasi gelandang bertipe destroyer dan ball winner.
Kante dan Matic tak pernah lelah merebut bola seraya terus merusak permainan tim lawan. Keduanya bak tembok kokoh dan tinggi yang, seakan-akan, berpindah-pindah secara konsisten untuk menutup wilayah pertahanan Chelsea dari terobosan lawan. Kedua pemain ini bahu membahu bersama Moses dan Marcos Alonso. Conte semakin mengandalkan keempatnya menyusul kinerja apik mereka.
Performa luar biasa para gelandang the Blues inilah yang memungkinkan trio penyerang Eden Hazard, Pedro dan Diego Costa tampil percaya diri dan fokus untuk menyerang, membongkar pertahanan lawan dan mencetak gol. Ketiganya tengah on fire. Mereka terbukti prolific, para penyerang yang subur! Bahkan, Eden Hazard sejauh ini telah mencetak tujuh gol. Fans Chelsea pasti tak sabar untuk menyaksikan mereka menebar teror ke gawang Tottenham Hotspur dan membobol gawang Hugo Lloris.
Skenario normal mestinya demikian. Tetapi, faktor kreativitas dan mentalitas bisa saja menghadirkan cerita berbeda. Chelsea memang tangguh, terutama di midfield, tetapi Spurs punya sedikit keunggulan dalam aspek kreativitas. Dembele, Eriksen dan Alli kerap melahirkan kejutan lewat umpan-umpan tak terduga, tusukan-tusukan ke jantung pertahanan lawan, serta terobosan tajam yang dibarengi akselerasi tinggi Kane dan Heung Min. Bahkan, pada momen terbaiknya, Eriksen atau Alli pun bisa sangat berbahaya jika sedikit saja diberi ruang untuk melakukan dribble dan shooting.
Performa Para Gelandang Sangat Dipengaruhi Barisan BelakangÂ
Tetapi, para gelandang Tottenham Hotspur ini bukan tanpa kelemahan. Paling mencolok adalah mental mereka yang gampang rapuh bila lawan memberikan tekanan yang physical secara konstan.
Coach Mauricio Pochettino paham akan problem mental anak buahnya itu. Begitu kesalnya Pochettino sehingga dia pernah mengeluarkan komentar yang justru menggambarkan betapa dia sendiri tak habis pikir dengan kendala mental pasukannya.
Kelemahan lain, barisan tengah pertahanan yang dikawal duet palang pintu Eric Dier dan Kevin Wimmer yang, sekalipun tangguh untuk urusan menghalau bola udara, terkadang mudah dilewati penyerang lawan yang memiliki pace terobosan yang vertical. Sektor belakang kiri yang menjadi tanggung jawab Jan Vertonghen juga sering dieksploitasi lawan, apalagi jika tim lawan punya penyerang sayap yang super lincah, licin, dan berani adu lari. Sayap Chelsea, Pedro dan Eden Hazard, bakal menimbulkan masalah besar di sektor ini.
Kelengahan Tottenhham Hotspur di menit-menit crucial, khususnya di awal dan menjelang akhir babak pun terkadang kambuh, dan menggagalkan harapan untuk mencapai hasil positif. Nah, semua faktor yang mungkin menyebabkan kekalahan Spurs ini, justru merupakan kekuatan pasukan Conte.
Permainan lugas, bahkan cenderung phisycal, jelas melekat pada Kante dan Matic duet gelandang Chelsea. Keduanya sekaligus membuat tugas menjadi lebih ringan bagi trio bek tengah Gary Cahill, David Luiz dan Cesar Azplicueta. Sehingga penjaga gawang Courtois tak perlu sering bekerja keras, dan bisa menikmati streak (rentetan) clean sheet dalam enam partai terakhir Liga Primer.
Bagi Chelsea menang dalam London derby ini berarti mengamankan posisi puncak, sedangkan, bagi Tottenham Hotspur kekalahan berarti mulai terancam oleh Manchester United, bahkan oleh Everton, yang berambisi masuk lima besar klasemen.
Peringkat di Klasemen Bukan Jaminan Permanen
Inilah menariknya Liga Primer! Siapapun yang saat ini berada dalam kelompok tujuh teratas pada klasemen berpeluang untuk merangkak naik hingga puncak klasemen hanya dalam tujuh partai ke depan. Salip menyalip diprediksi akan terus berlangsung untuk posisi top three, juga untuk lima besar, bahkan tujuh teratas. Pada saat bersamaan, situasi tak kalah sengit juga tersaji di sisi lain klasemen yaitu papan bawah, tepatnya zona degradasi.
Beberapa partai lain yang bakal seru, melibatkan duel sesama klub papan bawah, laga sesama klub papan tengah, dan partai antara klub papan atas kontra penghuni papan bawah. Crystal Palace, satu lagi klub asal London, meladeni tuan rumah Swansea yang tengah terpuruk di dasar klasemen. Palace yang kini berada di peringkat ke-16 perlu poin untuk menjauh dari zona degradasi. Sementara, bagi Swansea, inilah partai yang mereka jadikan pijakan start off baru yakni meninggalkan zona degradasi.
Partai keras dan ketat akan berlangsung antara juara bertahan Leicester City melawan tamunya Middlesbrough. Leicester City , yang baru mencatat rekor sebagai debutan Liga Champions yang telah memastikan lolos ke-16 besar, sekarang bertekad untuk kembali fokus di Liga Primer. Ini kesempatan terbaik pertama bagi pasukan Claudio Ranieri untuk beranjak naik dari posisi 14 klasemen. Seharusnya, dengan fokus yang benar dibarengi motivasi tinggi, tak sulit bagi Leicester City untuk menundukkan Middlesbrough, penghuni peringkat ke-15.
Laga-laga lainnya juga bakal tak kalah sengit!
Peringkat empat klasemen, Arsenal, akan menjamu Bournemouth. Peringkat tiga Manchester City berhadapan dengan tuan rumah Burnley. Kemenangan bagi Manchester City akan memberi peluang untuk menggeser Chelsea (bila Chelsea ditahan imbang oleh Spurs). Bagi Arsenal, poin maksimal di kandang, penting untuk tetap berada, setidaknya, dalam kelompok empat besar.
Jangan lewatkan pula laga Manchester United yang menjamu West Ham, klub asal London bagian timur yang, surprisingly, kini cuma 1 poin dari zona degradasi. Sementara, Man U akan kembali diperkuat Zlatan Ibrahimovic.
Klopp Siapkan Strategi Jitu Agar “the Reds” Berjaya di “the Kopp”
Sunderland, peringkat nomor dua buncit, menjalani laga berat di Stadion Anfield, kandang Liverpool yang sedang on fire dan kini menempati posisi dua klasemen. Mengumpulkan 27 poin, Liverpool hanya terpaut satu angka dari Chelsea yang bertengger di puncak.
Pastilah Liverpool menginginkan posisi puncak! Peluang untuk meraih kembali posisi tersebut pun terbuka bagi Liverpool saat menjamu Sunderland di the Kopp. Coach Juergen Klopp meminta para pemain the Reds untuk tetap memainkan gaya permainan gegenpressing ala Jerman atau, lebih tepat, gaya khas Klopp sejak menukangi Borussia Dortmund klub Bundesliga Jerman dulu. Â Namun, kali ini Klopp menuntut pemain-pemainnya, terutama para penyerang dan gelandang Liverpool lebih tajam dalam menyelesaikan peluang di depan gawang lawan.
Pelatih berjulukan Rock n Roll ini menyayangkan banyaknya kans gol yang terbuang saat Liverpool ditahan imbang 0-0 oleh tuan rumah Southampton pada pekan ke-12 lalu. Akibatnya, karena cuma dapat poin satu, maka Liverpool digeser Chelsea dari posisi teratas.
Para penyerang Liverpool terutama Roberto Firmino, Countinho, dan Sadio Mane harus clinical sekaligus kembali efektif dalam menuntaskan peluang gol. Klopp berkepentingan ‘laga mudah’ lawan Sunderland ini dimaksimalkan oleh para pemainnya. Liverpool perlu poin dan banyak gol. Sekalipun Klopp menegaskan Liverpool tidak akan memandang remeh Sunderland.
“Kompetisi semakin ketat dan berat karena ada banyak laga sepanjang Desember. Namun, kini kami fokus menghadapi laga yang terdekat, menghadapi Sunderland,†ujar Klopp.
Klopp menyadari timnya menghadapi periode berat yaitu tujuh pertandingan hingga akhir Desember 2016. Itu termasuk satu partai di Piala Liga, melawan Leeds. Seterusnya, berturut-turut, Liverpool akan ditantang beberapa klub tangguh termasuk Everton dalam Derby of Merseyside, dan puncaknya menjamu Manchester City pada malam Tahun Baru!
Ya, Liga Primer, sebagaimana diakui klub-klub besar, semakin ketat dari pekan ke pekan. Persaingan sengit akan menyebabkan saling geser di papan atas dan papan bawah. Klub-klub elit akan terus memacu diri untuk menguasai klasemen.
Ini akan berlangsung sepanjang lima hingga tujuh laga ke depan atau hingga pertengahan musim kompetisi Liga Primer 2016/2017. Selama periode itu akan tersaji sejumlah partai derby yang panas dengan nuansa menyengat! Sengit dan ketat di klasemen…tapi belum permanen!
