Chelsea Mulai Pamer, Man U Mungkin Tercecer. Pekan ke-15 pada weekend ini layak disebut pekan yang mengawali penentuan posisi akhir untuk paruh awal musim kompetisi Liga Primer Inggris 2016/17.”
Oleh: Iwan Ahmad Sudirwan, mantan Producer/Penyiar BBC World Service, London
Jika klub-klub elite lainnya yang kini berada dalam kelompok lima teratas gagal memberikan tekanan lewat raihan poin-poin maksimal dari setiap laga hingga partai ke-18 nanti, maka Chelsea dengan mudah akan meng-klaim diri mereka sebagai juara paruh musim.
Chelsea kini bertengger cukup nyaman di puncak klasemen dengan 34 poin, usai menang atas tuan rumah Manchester City pekan lalu. Sekarang, rival terdekat di klasemen adalah Arsenal yang menggasak West Ham di kandang lawan. Arsenal kini berselisih hanya satu poin dengan Chelsea. Sedangkan Liverpool, satu lagi penantang serius gelar juara, justru tergelincir di kandang Bournemouth.
Peringkat lima, Tottenham Hotspurs juga menang besar pekan lalu dan kini mengumpulkan 27 poin atau tiga poin di bawah Liverpool dan Manchester City.
Manchester United? The Red Devils masih belum beranjak dari posisi enam dengan jumlah poin 21, berbeda hanya satu poin saja dibanding Everton klub yang menahan Manchester United bermain imbang 1-1 pada Minggu lalu.
Sementara, juara musim lalu, Leicester City semakin tercecer, kini berada di posisi ke-16 atau dua tangga saja dari zona degradasi.
Akankah Chelsea bisa terus pamer kekuatan dan mempermanenkan posisi pemuncak hingga akhir musim kompetisi? Sebaliknya, mungkinkah Manchester United bangkit atau justru semakin keteteran? Hasil laga masing-masing pada pekan ke-15 Sabtu dan Minggu ini, secara psikologis, akan sangat menentukan bagi mereka.
Beda Nasib Conte dan Mourinho
Sungguh sangat kontras peruntungan Antonio Conte dan Jose Mourinho!
Chelsea semakin moncer, mencatat kemenangan kedelapan secara beruntun, setelah mempermalukan tuan rumah Manchester City, 1-3, di Stadion Etihad pada Sabtu lalu. Benar-benar hasil yang mengejutkan terutama bagi para fans The Citizens.
Sebaliknya, bagi Chelsea, torehan ini meneguhkan keunggulan Coach Antonio Conte dan pasukannya atas Coach Pep Guardiola dan asuhannya, dalam banyak aspek. Paling mencolok, tentu saja, dalam hal hasil dan taktik permainan.
Di kubu Manchester United, hasil seri kontra Everton memang berarti satu poin. Namun, dalam konteks persaingan menuju perburuan jatah ke Liga Champions, dan pertaruhan gengsi antara Mou dengan Conte, hasil itu masuk kategori buruk. Catatan imbang itu merupakan yang kelima secara beruntun bagi Man U, empat diantaranya di kandang sendiri.
Jika Coach Antonio Conte berhak pamer, maka, on the contrary, Coach Jose Mourinho mesti mengelus dada menyaksikan langkah Manchester United tambah berat. Bahkan, highly probable, posisi Man U di klasemen bisa makin tercecer. Dan, itu sangat mungkin terjadi.
Coach Conte terus membuktikan bahwa keputusan mengusung formasi 3-4-3 adalah option paling logis dan pas buat komposisi skuad Chelsea saat ini. Kini, Chelsea telah membukukan delapan kemenangan beruntun. Hebatnya, itu dilakukan di rumah sendiri maupun di kandang lawan.
Di sisi lain, catatan Coach Jose Mourinho bukan cuma negatif tapi juga masih terus struggling, berjuang keras bahkan sekedar menemukan pola atau formasi yang pakem dan komposisi tim Man U yang ajeg seperti yang dicapai oleh pengganti dirinya di Chelsea itu.
Tampil lagi di depan pendukung sendiri pada hari Sabtu ini Manchester United punya kesempatan untuk meyakinkan fans mereka yang sangat demanding, bahwa klub kesayangan mereka memang layak diberi dukungan.
Tapi, bila gagal lagi meraup poin penuh, maka Man U tak cuma makin tercecer, malah nasib Coach Jose Mourinho boleh jadi bakal terancam. Apalagi lawan yang bakal dihadapi adalah Tottenham Hotspur yang tengah on fire usai membantai Swansea City 5-0 pekan lalu.
Menyoroti Kinerja Mou di Man U
Kritik pedas mulai gencar diarahkan oleh penggemar Man U dan para pundit sepakbola Inggris yang sangar dalam dua minggu belakangan ini. Hampir semua komentator ahli sepakbola itu menyerang taktik dan komposisi pemain Man U yang tak pernah sama dari laga ke laga. Setidaknya ini tampak jelas di lini tengah mereka.
Coach Mourinho, menuurut mereka, tak pernah mempertahankan formasi gelandang yang sama untuk setidaknya tiga partai berturut-turut.
Pada satu pertandingan, yang skor akhirnya lagi-lagi bukan menjadi keberuntungan Man U, Mou memainkan Paul Pogba bersama Michael Carrick dan Juan Mata, misalnya. Lalu, pada laga berikut, komposisi berubah. Manager yang temperamental itu mengganti Carrick dengan Ander Herrera atau Marruone Fellaini.
Memang saat Man U kalah lagi, atau kembali hanya bermain seri, maka Coach Mourinho langsung mengubah komposisi starter timnya pada partai selanjutnya. Begitulah seterusnya, dan ini praktis sudah berlangsung sejak awal musim kompetisi.
“Saat dia membesut Chelsea, terutama di periode awalnya, Mou berhasil memaksimalkan momentum, karena dia sesungguhnya manager yang ditolong momentum. Sekarang situasi tidak lagi demikian,†kata Martin Keown dalam wawancara dengan BBC Sport minggu lalu.
Pressure is mounting. Ya, tekanan tambah hebat terhadap Mou. Apalagi, laga pekan ini dimainkan di Stadion Old Trafford. Bagi Manchester United tak ada pilihan lain kecuali menang atas Spurs. Namun, target ini bakal tak mudah. Terutama jika Coach Mourinho masih terus bongkar pasang komposisi timnya.
Tak terbayangkan kalau Man U sampai kalah nanti.
Apakah Coach Jose Mourinho masih tetap mengatakan timnya unlucky alias tak beruntung? Dipastikan, bila itu terjadi, Mou akan tambah frustrasi karena kekalahan akan semakin menjauhkan Manchester United dari peringkat empat klasemen yaitu batas terakhir untuk lolos ke Liga Champions.
Time For Mou To Behave And For Ibra To Save
Para pundit mengeritik keras Mou atas sikapnya yang cenderung kehilangan kendali menyusul hasil buruk Manchester United. Terakhir, FA menjatuhkan sanksi terhadapnya berupa larangan mendampingi timnya, setelah dia menendang botol minuman di pinggir lapangan saat Man U ditahan imbang oleh West Ham pada pekan ke-13.
“Saya dapat memahami rasa frustrasi pada dirinya, tapi Mou harus bisa membuktikan dirinya karena kinerjanya akan senantiasa dibandingkan dengan pencapaian Sir Alex Ferguson bahkan Louis van Gaal,†ungkap Martin Keown mantan pemain Arsenal yang kini menjadi pundit.
Coach Jose Mourinho mungkin bisa memulai the Man U resurrection, kebangkitan timnya, melalui konsistensi, strategi dan taktik yang jitu kontra Spurs nanti.
Dia mesti memastikan pasangan permanen buat Paul Pogba di lini tengah, dan, pemain yang dia butuhkan tak lain adalah Michael Carrick. Manchester United pun harus berani tetap bermain offensive dengan tiga penyerang yang dipimpin Zlatan Ibrahimovic.
Jika pilihan formasinya 4-2-3-1, maka dua penyerang sayap mestinya Jesse Lindgaard atau Henrikh Mkhitaryan dan Anthony Martial, sementara Wayne Rooney bermain di belakang Ibra.
Tapi, apabila Mou benar-benar mau menang maka 4-3-3 menjadi opsi yang lebih menjanjikan karena formasi ini memungkinkan fungsi Juan Mata lebih maksimal dan, yang terpenting, Pogba dapat bermain lebih dekat dengan Ibra.
Formasi dan komposisi ini menjanjikan pertahanan yang solid (karena faktor Carrick), serangan yang terancang baik dan lebih tajam, serta lebih memberi jaminan lahirnya gol lewat kombinasi Ibra bersama Pogba yang sangat padu. Bahkan, Mata jadi bisa diandalkan untuk mencetak gol dari secondline, bukan Rooney.
Martial sendiri, kalau diberi kebebasan untuk berani menusuk ke tengah dan menembak, dapat diandalkan sebagai pencetak gol, sama dengan Lingaard atau Mkhitaryan.
In any case, Ibra tetaplah andalan utama Man U di lini depan. Wajar, Coach Mourinho berharap banyak dari sang topscorer timnya ini karena Ibra sejauh ini telah menyarangkan total 12 gol di seluruh kompetisi bersama Man U pada musim ini. Catatan gol Ibra di Liga Primer, delapan gol dari 14 pertandingan, cukup impresif mengingat usianya yang kini 35 tahun.
Obviously, sangatlah gamblang, andai Ibra mendapatkan mitra yang pas dan support maksimal dari tengah maka dia berpotensi untuk, lagi-lagi, menyelamatkan Manchester United sekaligus…to save Mou!
Misi Mou vs Ambisi Tim-tim Elit
Ya, gol-gol Ibra akan bermaksa super penting bagi Mou! Perjuangan Mou untuk menyelamatkan Man U dan karirnya sendiri kini bak tanjakan panjang karena banyak klub elit siap menghadang!
Arsenal, Liverpool dan Manchester City, bahkan Tottenham Hotspur sekalipun, punya ambisi besar yang siap menghambat perjuangan Coach Mourinho untuk Man U.
Spurs berhasrat besar untuk menundukkan Man U di Old Trafford. Coach Mauricio Pocchettino dan asuhannya cukup punya modal untuk percaya diri, terlepas dari rekor Spurs yang tak terlalu positif di kandang lawannya itu.
Setidaknya, Harry Kane dan kawan-kawan dalam spirit tinggi menyusul keberhasilan menang besar atas Swansea. Gelontoran lima gol ke gawang lawan pastilah telah mengangkat confidence pasukan Lilywhites.
Barisan tengah Spurs yang akan dimotori Moussa Dembele, Delle Alli dan Christian Eriksen, dengan dukungan Eric Dier dari belakang, sangat perlu diwaspadai oleh para gelandang Manchester United. Mereka bertenaga, punya mobilitas tinggi, berani fight, juga berkarakter.
Namun, riskan bagi Spurs jika Paul Pogba dan rekan-rekannya dikasih angin di lini itu karena sekali para gelandang Man U mendapatkan momentum untuk pegang kendali maka mereka akan sulit untuk dihentikan.
Di sisi lain, barisan depan Man U butuh lebih efektif dalam penyelesaian akhir. Para penyerang dan gelandang Man U melepas banyak shooting tapi terlalu banyak yang meleset, off target. Sejumlah tembakan yang on target pun sering pula kurang cepat eksekusinya sehingga sempat diantisipasi atau ditepis kiper lawan, seperti saat ditahan Burnley, Stoke City dan West Ham.
“Para penyerang Manchester United cenderung sedikit kelamaan berpikir sebelum akhirnya melakukan shooting. Mereka harus mampu cepat memanfaatkan setiap peluang tanpa perlu buang waktu buat mikir dulu,†kritik Martin Keown lagi di BBC Sport.
Tim-tim Papan Atas Tancap Gas
Alangkah beratnya tugas Coach Jose Mourinho. Para kompetitor Man U di kelompok lima besar begitu tangguh, sementara klub-klub papan tengah terus pula memepet mereka.
Everton, WBA, bahkan Stoke City dan Bournemouth berpotensi menyalip Man U, sewaktu-waktu.
Mulai pekan ke-15 ini mereka semua, terlebih klub-klub papan atas, dipastikan akan tancap gas!
Liverpool menjanjikan penampilan yang ganas kala menjamu West Ham di Stadion Anfield. Asuhan Coach Jurgen Klopp mungkin sekali menjadikan tamu mereka sebagai sasaran pelampiasan rasa kesal dan kecewa karena dipermalukan Bournemouth pekan lalu.
The Reds masih kehilangan Phillipe Countinho yang cedera, tapi mereka punya banyak amunisi lain. Sadio Mane, Roberto Firmino dan Adam Lallana (andai telah pulih), tak terkecuali Emre Can dan sang kapten Jordan Henderson, siap menjebol gawang West Ham yang sedang terpukul secara mental usai dipermak Arsenal.
Publik The Kop ingin melihat pasukan Klopp menebus kekalahan pada pekan lalu, sambil terus menjaga persaingan dengan Manchester City, Arsenal dan, tentu saja, Chelsea.
Arsenal sendiri akan menghadapi tantangan Stoke City, bukan lawan yang mudah, di Stadion Emirates. Gaya main dan karakter Stoke City sebenarnya sering bikin pusing Coach Arsene Wenger. Tapi, kali ini, The Professor optimis Arsenal akan menang karena grafik pemain-pemain kuncinya terus menanjak, terutama Mesut Oezil, Alexis Sanchez dan Alex Oxlade-Chamberlain. Bahkan, Sanchez tengah on fire menyusul hattrick-nya pekan lalu.
Namun, semua klub elit ini tak boleh lengah. Mereka bahkan dituntut fans masing-masing untuk menang pada akhir pekan ini, termasuk Manchester City yang bertandang ke kandang Leicester City, juara bertahan yang ironisnya kini berjuang keras menghindari zona degradasi.
Bagi klub-klub papan atas itu tak ada rumusnya untuk tercecer, mereka pun tak mau Chelsea semakin berani pamer..
