Search

Mantra Lubuk Larangan dan Alam Berkelanjutan

Masakan ikan Merah atau ikan Dewa bumbu asam pade di Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Mandailing Natal, Reportasenews – Sebuah obyek memiliki banyak wajah: terkadang manis, di lain waktu bisa jadi menyeramkan. Demikian juga modernitas, ia sering menampilkan wajah perusak alam. Sebaliknya lubuk larangan dengan mantra-mantranya, banyak yang mengangapnya kuno dan menyeramkan. Namun lubuk larangan sesungguhnya menyimpan sisi humanis dan mendukung alam berkelanjutan.

Di sebuah desa di Panyabungan Mandailing Natal, Sumatera Utara dalam perjalanan “Ekspedisi Jakarta-Aceh ada aneka kuliner tradisional salah satunya masakan ikan dari lubuk larangan.

Menikmati masakan ikan Merah atau ikan Dewa bumbu asam pade di Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Lubuk larangan adalah lubuk atau ceruk sungai yang diberi mantra oleh pawang ikan. Dengan mantra, ikan tidak akan melintas pada garis yang diberi jampi-jampi atau doa.

Dengan mantra muncul konsekuensi positif. Ikan akan tumbuh besar tanpa ada yang menganggu. Masyarakat setempat percaya, mengambil ikan dari lubuk larangan akan memunculkan celaka.

Masyarakat hanya bisa mengambil ikan saat sang pawang mencabut mantranya. Sang pawang bisa memberlakukan mantranya satu hingga dua tahun.

Maka wajar di lubuk larangan, ikan melimpah dan masyarakat bisa mendapat ikan dengan mudah. Dan itulah sisi humanis mantra lubuk larangan yaitu ikan yang disuguhkan.

Salah satu ikan spesial penghuni lubuk larangan adalah ikan merah atau orang di pulau jawa sering menyebutnya ikan Dewa. Ikan ini begitu nikmat saat disajikan setelah diolah dengan bunbu asam padeh.

Masakan ikan Merah atau ikan Dewa bumbu asam pade di Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Pada umumnya pembukaan Lubuk Laranga di Mandailing Natal dilakukan 3 hingga 10 hari usai perayaan Idul Fitri. Di sini warga setempat akan berpesta menikmati limpahan ikan dari lubuk larangan.

Sesungguhnya kearifan lokal ini tersebar di Nusantara sejak tempo dulu. Sayangnya kearifan lokal ini terus tergerus zaman. Semoga masyarakat Mandailing Natal tetap mempertahankan kearifan lokal yang menawarkan banyak sisi humanis ini. (MM)





Loading Facebook Comments ...