Filipina, repotasenews.com: Negara anggota ASEAN melihat instalasi sistem senjata Cina di Laut Cina Selatan sebagai “sangat mengganggu” dan mendesak untuk diadakan dialog agar menghentikan eskalasi “perkembangan terakhir”. Pernyataan ini keluar dari pertemuan Menlu sesama anggota ASEAN di Boracay Filipina, Selasa kemarin.
Menteri luar negeri di kawasan ASEAN dengan suara bulat menyuarakan keprihatinan mereka atas militerisasi Cina atas pulau-pulau buatan, tetapi yakin kerangka kerja untuk kode etik maritim bisa disepakati dengan Beijing pada bulan Juni, kata Menteri Luar Negeri Filipina Perfecto Yasay.
Yasay tidak mengatakan perkembangan apa memicu naiknya kekhawatiran, namun mengatakan 10 anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) berharap Cina dan Amerika Serikat mampu menjamin perdamaian dan stabilitas kawasan.
Dia mengatakan demiliterisasi akan menjadi komponen kunci dari kode etik ASEAN-China, tapi itu terlalu dini untuk mengatakan apakah Beijing perlu didesak untuk membongkar instalasi senjata sebagai prasyarat penting.
“Para anggota ASEAN telah sepakat menyuarakan kekhawatiran tentang apa yang mereka lihat sebagai militerisasi dikawasan ini,” kata Yasay kepada wartawan setelah acara pertemuan di pulau Boracay, Filipina.
Mengacu ke pulau-pulau buatan manusia Cina di kepulauan Spratly, Yasay mengatakan negara-negara ASEAN telah “melihat bahwa sangat meresahkan, bahwa Cina telah melakukan instalasi sistem senjata di fasilitas ini, dan mereka telah menyatakan keprihatinan yang kuat tentang hal ini.”
Situasi geopolitik daerah telah menjadi tidak pasti sejak terpilihnya Presiden AS Donald Trump, khususnya atas peran pemerintahannya dikawasn sejak perpindahan kekuasaan Washington dari pendahulunya Barack Obama.
Gesekan antara Amerika Serikat dan Cina atas perdagangan dan wilayah di bawah Trump telah memicu kekhawatiran bahwa Laut Cina Selatan bisa menjadi titik nyala api.
Cina mengklaim sebagian besar perairan, di mana sekitar US $ 5 trilyun dalam perdagangan kapal angkut melewati wilayah ini setiap tahun. Pun demikian juga dengan Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam juga memiliki klaim sama.
China pada Jumat menyelesaikan latihan perang dengan sebuah kapal induk yang membuat tetangga cemas. Sehari kemudian angkatan laut AS mengirmkan kapal induknya yang sudah mulai patroli rutin di Laut Cina Selatan, langkah China telah dihadang oleh AS.
Yasay mengatakan negara-negara ASEAN menunggu bagaimana sikap Trump yang masih berkembang, tapi mereka berharap bisa dalam beberapa bulan memperoleh “gambaran yang lebih konkret dan jelas”, terutama mengenai Cina.
“Kami tidak tahu gambaran lengkap tentang apa kebijakan luar negeri ini, sejauh hubungannya dengan Cina. Kami, bagaimanapun, berharap bahwa kebijakan yang akan keluar akan positif.”
Ketika ditanya apakah Cina berkomitmen untuk membuat aturan main di Laut China Selatan, kata dia, Beijing menunjukan sinyal tertarik. (HSG/Channel News Asia)
