Search

Merawat Tradisi Berbagi di Lubuk Larangan

Warga Sabagarabaki, Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara menjala ikan saat lLubuk Larngan dibuka. (Foto. Didik Wiratno)

Kotanopan, Reportasenews – Pagi ini warga Sabagarabaki, Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara berbondong-bondong mendatangi anak sungai Batang Gadis yang berada di pinggir kampung mereka.

Ratusan warga dari dari anak-anak, remaja, hingga orang tua antusias menanti hari yang telah lama mereka tunggu. Ya…hari dimana lubuk larangan dibuka.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun turut meramaikan pesta ikan di Lubuk Larangan. (Foto. Didik Wiratno)

Lubuk larangan adalah sungai yang dirawat sebagai kolam ikan warga. Selama setahun tidak seorang pun tanpa kecuali diizinkan menangkap ikan di aliran sungai di sepanjang desa tersebut.

Alat penangkap ikan yang boleh digunakan warga adalah jaring lempar, namun bagi mereka yang tidak mempunyai alat tersebut  bisa menangkap ikan dengan tangan kosong.

Setelah warga berkumpul di bibir sungai, pesta pun dimulai. Ratusan warga serentak turun ke sungai dan bebas melempar jaring untuk mendapatkan ikan sasaran.

Antusias warga tak terbendung setelah menunggu setahun Lubuk Larangan dibuka.
(Foto. Didik Wiratno)

Meski sungainya tidak terlalu lebar tapi arus airnya cukup deras dan berbatu sehingga cocok untuk berkembang biak ikan  Garing atau ikan Mera, yang lebih polpuler dengan sebutan ikan Dewa. Tak ada ikan lain, sungai ini memang habitatnya ikan Dewa.

Untuk memudahkan menangkap ikan, warga biasanya membuat kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang. 2 orang turun ke sungai menebar jala, 1 orang lainnya di pinggir sungai mengumpulkan ikan tangkapan.

Selain peserta,  tak sedikit warga yang sengaja datang hanya untuk menonton keseruan pesta tangkap ikan ini, salah satunya Abdul Karim Nasution.

Karim adalah salah satu warga setempat yang telah lama merantau. Ia sengaja pulang kampung dan selalu datang setiap ada  pesta lubuk larangan. 

Abdul Karim Nasution saat membeli ikan tangkapan warga di pesta Lubuk Larangan.
(Foto. Didik Wiratno)

Pria yang menjadi pengusaha kelapa sawit di Pasaman Barat, Sumatera Barat ini memang tidak ikut menangkap ikan. Ia hanya membeli ikan hasil tangkapan warga, terutama dari warga yang masih kanak-kanak dan mereka yang sudah terbilang tua.

Harganyanya pun sesuai kesepakatan, yang pasti diatas harga pasar karena niat Karim memang untuk berbagi. Pagi itu hampir 5 juta rupiah ia belanjakan.

“Kita sengaja beli ikan di sini selain untuk dimakan bersama-sama juga untuk di bagi-bagikan ke warga yang lain” ujar Karim.

Usai mengumpulkan ikan yang dibeli dari warga, Karim menyisihkan beberapa ikan untuk dibakar di tepi sungai. Ia  juga mengajak warga yang melintas turut menikmati ikan bakar segar hasil tangkapan warga.

Selain dibawa pulang  Karim juga membagikan ikan segar ke warga lainnya. Tak hanya mendatangi pembukaan lubuk larangan di desa Sabagarabaki, Karim juga  melakukan hal serupa di pembukaan lubuk larangan di berbagai desa lainnya. Ia berharap agar warga senantiasa terus menjaga keberadaan Lubuk larangan.

“Sebenarnya kita jangan hanya mengambil saja, lebih bagus kita lepas juga bibit ikan, dan yang lebih penting kita harus terus menjaganya agar tradisi ini bisa terus berlangsung” harap Karim.

Momen dibukanya lubuk larangan selain menjadi ajang silaturahmi antar warga yang tinggal di kampung dengan warga perantauan, sekaligus sebagai tempat berbagi.

Di Mandailing Natal  biasanya lubuk larangan dibuka setelah perayaan idul fitri hingga akhir bulan. Peserta lubuk larangan diwajibkan membeli tiket. Uang hasil tiket akan disalurkan ke fakir miskin dan rumah ibadah yang ada di desa tersebut.

Tradisi lubuk larangan harus terus dirawat karena turut  berkontribusi pada pendapatan desa setidaknya menjadi pemasukan desa sekali setahun.(IK/DW)




Loading Facebook Comments ...