Search

Pandemi Covid-19 Menjadi Tantangan Terberat Mayjen Tugas Ratmono Sebagai Kapuskes TNI

Mayjen TNI Tugas Ratmono, Kapuskes TNI selaku Koordinator Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Penulis    :  Mada Mahfud

Dunia kesehatan tengah menghadapi ujian terbesar sejak negeri ini berdiri. Hingga kini lebih dari 80 ribu penduduk Indonesia terenggut nyawanya dan nyaris semua sektor kehidupan lumpuh akibat pandemi Covid-19. TNI menjadi garda terdepan dalam melindungi negeri. Sudah tentu, siapapun yang menjabat Kepala Pusat Kesehatan TNI di era pandemi Covid-19 menghadapi tantangan terberat sepanjang sejarah.

Sebagai garda terdepan di tataran operasional, sungguh menarik untuk menyimak langkah konkret Kepala Pusat Kesehatan TNI dalam penanganan pandemi Covid-19. Sepak terjangnya adalah catatan penting dalam sejarah penyelamatan bangsa. Catatan tersebut akan menjadi warisan ilmu berharga bagi generasi mendatang dalam menghadapi ancaman biologi seperti Covid-19.

Tanpa penanganan yang baik, bisa dipastikan Covid-19 akan menjadi bencana kemanusiaan yang jauh lebih mengerikan.

Mayjen Tugas Ratmono saat memberikan pengarahan kepada relawan tenaga kesehatan di RSDC Wisma Atlet, Kemayoran.

Kemampuan belajar dari pencapaian masa kini merupakan point penting agar dampak ancaman biologi bisa diminimalkan di masa depan. Ancaman biologi seperti Covid-19 diperkirakan akan terus menjadi hantu mematikan. Dalam beberapa dekade terakhir ini sejumlah virus sudah menebar ancaman bagi manusia seperti SARS, flu burung, dan flu babi. Puncaknya seperti kita alami sekarang ini, Covid-19.

Mayjen TNI Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.S, MARS, MH menjadi Kepala Pusat Kesehatan TNI sejak 30 Juni 2020. Hingga kini sudah lebih dari setahun berurusan secara langsung dalam manajemen penanganan Covid-19. Tentu Mayjen Tugas Ratmono sudah terlibat sejak awal kemunculan pandemi Covid-19 karena ia sebelumnya menjabat Kepala Pusat Kesehatan TNI Angkatan Darat.

Posisi sebagai Kepala Pusat Kesehatan TNI membuatnya menjadi Koordinator Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran. Rumah sakit darurat yang diresmikan Presiden RI Joko Widodo pada 2 Maret 2020 ini adalah fasilitas kesehatan bagi perawatan pasien Covid-19 terbesar di dunia. Ini karena negeri ini memiliki Wisma Atlet Kemayoran yang terdiri dari 7 tower dan kosong pada saat itu dan kemudian disulap menjadi RSDC Wisma Atlet Kemayoran. Bangunan menjulang sebanyak 7 tower dan berada di satu kompleks dan kosong pada saat Covid-19 merebak, tak dimiliki negara lain.

Mayjen TNI Tugas Ratmono, Koordinator Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat. (Foto. Didik W)

Tentu penunjukkan Koordinator RSDC Wisma Atlet Kemayoran dari unsur pucuk pimpinan Kesehatan TNI bukan tanpa alasan. TNI memiliki kemampuan organisasi dan sanggup mengerahkan personel terlatihnya dalam waktu singkat, sesuatu yang nyaris tidak dimiliki organisasi lain. Apalagi TNI secara keseluruhan memiliki ratusan ribu personel.

TNI memang memiliki doktrin operasi militer non perang yang tercantum dalam UU TNI No 34 Tahun 2004. Dengan ini, TNI bisa mengerahkan personelnya seperti terlihat dalam penanganan Covid-19.

Leadership juga menjadi nilai penting yang menjadi latar seorang Kepala Pusat Kesehatan TNI menjadi Koordinator RSDC Wisma Atlet Kemayoran. Dengan ribuan tenaga kesehatan yang berasal dari unsur TNI, Polri dan Sipil, kepemimpinan adalah hal mutlak.

Peran RSDC Wisma Atlet Kemayoran begitu signifikan dalam mengerem laju pandemi Covid-19. Di tempat inilah, sudah ratusan ribu pasien Covid-19 dirawat dan sembuh. Perannya begitu vital dalam memutus rantai-rantai penularan Covid-19.

Pendek kata, di RSDC Wisma Atlet Kemayoran inilah, Indonesia membangun pertahanan dari infeksi Covid-19 yang juga melumpuhkan dunia. Posisi RSDC Wisma Atlet Kemayoran begitu strategis sebagai perwujudan treating atau perawatan pasien Covid-19.

Peran RSDC Wisma Atlet semakin signifikan di bulan Juni-Juli 2021. Dalam periode ini, Indonesia sempat menjadi pusat episentrum Covid-19 di dunia. Dan pada periode inilah, RSDC Wisma Atlet Kemayoran secara manajemen melebarkan sayapnya guna merawat pasien Covid-19 dengan tempat perawatan baru seperti Rusun Nagrak Cilincing Jakarta Utara dan Rusun Pasar Rumput Jakarta Selatan.

RSDC Wisma Atlet Kemayoran sempat menampung pasien Covid-19 sebanyak 7.216 pasien pada 29 Juni 2021. Angka ini adalah tertinggi selama pandemi Covid-19 per 25 Juli 2021. Kapasitas RSDC Wisma Atlet Kemayoran sebenarnya bisa ditingkatkan hingga kisaran 15 ribu bed dengan memfungsikan seluruh tower untuk perawatan pasien.

Namun Indonesia memiliki rusun lain yang bisa difungsikan untuk perawatan pasien Covid-19. Pada puncak pandemi Juni-Juli 2021, Rusun Nagrak Cilincing dan Rusun Pasar Rumput dialihfungsikan untuk merawat pasien Covid-19. Manajamen penanganannya berpusat ke RSDC Wisma Atlet Kemayoran yang sudah berpengalaman.

Mayjen TNI Tugas Ratmono, saat mengevaluasi data di ruang kerjanya di Tower 2  Rumah Sakit Darurat Covid (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta. (Foto. Budi Tanjung)

Tentu peran signifikan RSDC Wisma Atlet Kemayoran sebagai benteng pertahanan bagi negara dalam perang Covid-19 tak bisa lepas dari sosok Mayjen Tugas Ratmono. Koordinator RSDC Wisma Atlet Kemayoran menjawab tantangan berat itu dengan tuntas.

Karakter kuat yang tertanam di Mayjen Tugas Ratmono adalah kesiagaan menghadapi kemungkinan terburuk. Ia selalu membuat berbagai analisa berbasis data lapangan untuk merespon dan mempersiapkan institusi yang dipimpinnya selalu siaga menghadapi kemungkinan terburuk.

Bulan Mei 2021 adalah periode yang bisa membuat semua orang terlena. Namun tidak dengan Mayjen Tugas Ratmono, ia menyimpan kekhawatiran besar dan itu kemudian terbukti.

Pada saat itu, tepatnya tanggal 17 Mei 2021 jumlah pasien Covid RSDC Wisma Atlet Kemayoran sebanyak 878 pasien yang berarti angka hunian di bawah 20 persen. Angka ini jauh dibawah puncak sebelumnya tanggal 24 Januari 2021 sebanyak 5.036 pasien.

Rendahnya pasien membuat banyak kalangan mendesak Rumah Sakit Daruat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran mengurangi jumlah tenaga kesehatan secara signifikan. Namun desakan tersebut ditolak dengan tegas oleh Mayjen Tugas.

Dokter militer asal Kebumen Jawa Tengah tersebut bersikukuh bahwa jika RDSC Wisma Atlet mengumumkan bahwa daya tampung mereka pada saat itu sebanyak 5.994 bed, maka tenaga kesehatannya pun harus siaga untuk kapasitas tersebut. Ia juga memahami betul dinamika pandemi Covid-19 yang bisa melesat secara tiba-tiba.

“Banyak permintaan agar tenaga kesehatan di sini dikurangi, tetapi permintaan itu kita tolak. Kita harus siaga menghadapi kemungkinan terburuk karena bulan Mei terjadi arus mudik. Seperti sebelumnya, setelah hari libur panjang, kasus Covid naik. Kita tidak ingin tidak siap jika kasus tiba-tiba naik,” kata Mayjen Tugas Ratmono dalam wawancara di bulan Mei 2021.

Sebagai seorang dokter militer yang nyaris seluruh hidupnya berkutat pada penanganan kesehatan, Mayjen Tugas melihat potensi ledakan-ledakan kasus Covid-19. Ia memang berpengalaman panjang dalam manajemen rumah sakit. Sebelum menjadi Kepala Pusat Kesehatan TNI, alumnus Fakultas Kedokteran UGM tahun 1990 tersebut berkutat selama 14 tahun di RSPAD Gatot Subroto.

Kekhawatirannya adalah pada pertengahan Mei 2021, terjadi arus mudik seiring Idul Fitri. Meski pemerintah melarang, pada kenyataannya arus mudik tetap terjadi dan jutaan orang pulang kampung ke berbagai daerah terutama di Pulau Jawa.

“Dari data-data sebelumnya, setelah libur panjang, kasus Covid-19 meningkat. Kita harus siap,” tuturnya.

Mayjen Tugas juga melakukan hal sama pada 28 Oktober 2020. Kala itu angka hunian RDSC Wisma Atlet Kemayoran tinggal 17 persen. Itupun hanya di tower 5. Sedangkan tower 4 dikosongkan mengingat turunnya kasus Covid secara signifikan. Atas penurunan jumlah pasien, sejumlah petinggi Satgas Covid-19 meminta Mayjen Tugas untuk melakukan relaksasi tenaga kesehatan dengan memulangkan ke berbagai daerah.

Namun permintaan itu belum bisa dipenuhi. Mayjen Tugas melihat potensi kenaikan kasus Covid-19. Pada saat itu, pemerintah menetapkan hari libur panjang tanggal 28 Oktober-2 November 2020. Hari libur panjang tersebut membuat masyarakat berbondong-bondong mendatangi tempat wisata.

Hasilnya, kasus Covid-19 meningkat tajam setelahnya. Puncaknya pada 24 Januari 2021, RSDC Wisma Atlet Kemayoran merawat sebanyak 5.036 pasien. RSDC Wisma Atlet Kemayoran yang sudah mengantisipasi kemungkinan tersebut, tidak mengalami kepanikan sehingga mampu melaksanakan tugasnya dengan baik untuk merawat pasien Covid-19.

“Kita memang harus mengantisipasi kemungkinan terburuk. Tentu kemungkinan ini berdasarkan analisa data-data lapangan,” cetus dokter kelahiran Kalipuru Kebumen tersebut.

Seperti pada Oktober 2020, keputusan Mayjen Tugas Ratmono selaku Koordinator RSDC Wisma Atlet Kemayoran pada Mei 2021 untuk tidak mengurangi jumlah tenaga kesehatan adalah keputusan tepat. Terbukti, setelahnya pada Juni-Juli 2021, kasus Covid-19 di Indonesia melesat tajam. Bahkan Indonesia sempat menjadi episentrum Covid-19 di dunia.

Mayjen TNI Tugas Ratmono saat mengecek obat obatan yang akan didistribusikan ke pasien RSDC Wisma Atlet.

RSDC Wisma Atlet Kemayoran kemudian meningkatkan kapasitasnya sehingga mampu menampung pasien sebanyak 7.216 pasien pada 29 Juni 2021. Mayjen Tugas juga terlibat langsung dalam memimpin manajemen Rusun Nagrak dan Rusun Pasar Rumput yang dibuka untuk meningkatkan kapasitas perawatan pasien Covid-19.

Bisa dibayangkan bagaimana kepanikan yang terjadi dalam penanganan Covid-19 di Indonesia jika Mayjen Tugas menuruti desakan sejumlah kalangan untuk mengurangi jumlah tenaga kesehatan pada Mei 2021 dan Oktober 2020. Di sinilah warisan penting yang ditinggalkan Mayjen Tugas bagi generasi penerus. Seorang pemimpin di bidang kesehatan harus mampu melihat kemungkinan terburuk yang terjadi berdasarkan analisa data valid di lapangan dan menyiapkan kesiagaan untuk menghadapinya.

Tentu cerita di atas adalah sekelumit kisah kemampuan manajemen Mayjen Tugas Ratmono dalam memimpin perawatan ratusan ribu pasien di era pandemi. Kisah lainnya masih banyak yang perlu ditulis untuk menjadi inspirasi ke depan. Salah satunya adalah kemampuan Mayjen Tugas Ratmono menjaga puluhan ribu tenaga kesehatannya untuk selamat meski bertugas merawat ratusan ribu pasien Covid-19.

Dengan karakternya yang selalu siap menghadapi segala kemungkinan dan senantiasa menganalisa perkembangan dengan data-data lapangan, Mayjen TNI Tugas Ratmono sanggup menjawab tantangan terberat sebagai seorang Kepala Pusat Kesehatan TNI. Tak disangsikan lagi bahwa era sekarang adalah tantangan terberat negeri ini di bidang kesehatan sejak Indonesia merdeka.




Loading Facebook Comments ...