Menu

Mode Gelap

Internasional · 25 Mei 2017 13:00 WIB ·

Pelaku Bom Manchester Penggemar Ganja dan Vodka


					Salman Abedi Perbesar

Salman Abedi "Dumbo" (lingkaran) pelaku bom Manchester yang gemar mabuk Vodka dan penggemar ganja

Inggris, reportasenews.com – Pelaku serangan bom di indoor stadium Manchester, Salman Abedi digambarkan oleh mantan teman sekolahnya sebagai remaja yang gemar minum vodka, suka menghisap ganja dan temperamental, demikian Daily Mail menyusur masa lalu Abedi diantara teman lamanya.

Di sekolah Abedi dipanggil dengan nama alias Dumbo karena bentuk telinga besarnya, Abedi mengaku pernah punya masalah mengatasi letupan kemarahan’ setelah dia meninju wajah seorang gadis.

Dia tidak lulus di sekolahnya dan kemudian keluar dari universitas.

Tapi saat dia benar-benar mulai keluar dari rel, kata teman, ketika ayahnya Ramadan Abedi kembali ke Libya pada tahun 2011 untuk bergabung dengan pemberontak melawan Kolonel Gaddafi setelah peristiwa pemberontakan disana.

Abedi dan istrinya Samia Tabbal, seorang insinyur yang lulus di kelasnya dari universitas Tripoli, telah melarikan diri dari rezim diktator pada tahun 1993, dan diizinkan masuk ke Inggris sebagai pengungsi politik.

Abedi dan ketiga saudara kandungnya lahir di sini, bersama keluarganya pindah ke London, lalu Manchester.

Tapi mereka sepertinya menghindari budaya Inggris, teman sekelasnya mengingat bahasa Inggris dia disebut sangat buruk.

Seorang teman keluarga berkata, menurut orang yang mengenal Salman Abedi, dia tidak terlalu pintar, malahan dia sedikit dibawah standar level IQ nya.

“Tapi ayahnya orang yang baik. Kurasa dia tidak terlibat atau tahu tentang ini sama sekali karena dia pasti akan mencegahnya. “

Foto menunjukkan Abedi sebagai remaja biasa yang normal, sedang bersantai di pantai bersama teman-temannya di Libya saat pergi pergi kesana usia 15 tahun, dan bergaul dengan teman-temannya di dekat rumah bertingkat bata merah keluarga di selatan Manchester.

Tapi sisi gelap Abedi muncul saat mabuk, kata teman-temannya. Seseorang yang mengenalnya selama tujuh tahun mengatakan, “Dia kuat minum terutama vodka dan gemar lintingan ganja”.

“Dia selalu clubbing atau di pesta rumah. Dia populer dengan wanita di pesta. Dia yakin, jadi dia selalu punya cewek di sekitarnya. Dia mencintai musik rap”.

“Abedi sering mengalami masalah cukup banyak karena dia akan bertengkar. Dia seperti preman jalanan. Kami pada suatu malam di Liverpool tahun lalu ketika seseorang mendekatinya dan Abedi meninju dia.”

“Dia pasti bertengkar tanpa alasan. Dua tahun yang lalu kami berada di taman bersama bermain sepak bola, ketika dua orang berjalan melewatinya, mengurus urusan mereka sendiri dan mengobrol. Salman langsung saja mendekati mereka dan mulai menghantam wajah mereka”.

“Dia agak aneh, dia punya kepribadian tersendiri. Satu menit dia baik-baik saja dan satu menit dia berkelahi, menjadi agresif. Dia agak temperamental”.

Abedi, 22, lahir di Manchester pada malam tahun baru tahun 1994, dan pernah masuk di beberapa sekolah.

Di Akademi Wellacre, sebuah sekolah khusus anak laki di pinggiran kota yang rimbun, seorang mantan teman sekelas bercerita: “Abedi mendapatkan bantuan khusus dari guru bimbingan”.

“Saya tidak tahu apakah ada yang salah dengan dia. Dia seperti memiliki masalah sosial. Saya pikir dia bermasalah. Ia biasa memakai kacamata dan agak konyol. Ada banyak intimidasi yang terjadi. ‘

Antara tahun 2009 dan 2011, dia pergi ke Burnage Academy, sebuah sekolah anak laki-laki yang melayani sebagian besar komunitas asia di Manchester, dan merupakan pemain sepak bola yang lumayan jago, sering bermain di Whalley Range High School tempat Manchester United Foundation mengadakan sesi latihan.

Seorang teman mengatakan jika Abedi biasa bermain banyak sepakbola. Dia mencintai Manchester United dan sebenarnya cukup bagus.

Pada tahun terakhirnya di sekolah ini, dia kembali ke Libya, saat itu Kolonel Gaddafi digulingkan.

Seorang tetangga mengatakan bahwa ayah Abedi merayakan kematian Gaddafi tersebut dengan mengangkat sebuah bendera besar di atap rumah mereka di Fallowfield sampai dia diperintahkan untuk menurunkannya.

Setelah ayahnya kembali ke Tripoli, Abedi menjadi ‘trauma, marah dan tidak tenang’, menurut seorang tetangga.

Situasi tersebut tidak terbantu oleh beberapa koneksi keluarga di Manchester, termasuk pembangkang Gaddafi yang telah menjadi anggota Kelompok Perjuangan Islam Libya, yang terkait dengan Al Qaeda.

Diantaranya adalah Abd al-Baset Azzouz, yang kemudian disidik Polisi sebagai pembuat bom utama. Azzouz tinggal di Wilbraham Road pada saat bersamaan dengan Abedi sekitar tahun 2000, dan bahkan setelah pindah rumah tidak jauh dari sana.

Azzouz, 50, diidentifikasi oleh AS sebagai salah satu teroris paling berbahaya di dunia setelah dia mendirikan sebuah kamp pelatihan di Libya dan polisi menilai apakah Abedi diberi salah satu bomnya atau diajari bagaimana membuatnya. (Hsg)

Komentar

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Mantan Kabid Prasarana Distan Kabulaten Merangin Jadi Tersangka Korupsi Bansos

19 Juli 2024 - 16:08 WIB

Tiga Desa di Tanjab Barat Jadi Percontohan Desa Anti Korupsi

19 Juli 2024 - 15:43 WIB

Buntut Ikut Temui Presiden Israel, Bupati Kudus Pecat Staf Khususnya

18 Juli 2024 - 14:28 WIB

Polres Sarolangun Musnahkan 2 Kilogram Narkotika Jenis Sabu

18 Juli 2024 - 14:04 WIB

4 ASN Terafiliasi Jaringan Teroris, Kesbangpol Tanjabbar Minta Masyarakat Segera Lapor Bila Temukan Aliran Tak Wajar

18 Juli 2024 - 13:45 WIB

Mesin Perahun Mati, Nelayan Situbondo Terombang-ambing di Perairan Madura

18 Juli 2024 - 11:44 WIB

Trending di Daerah