Menu

Mode Gelap

Hukum · 8 Nov 2016 20:01 WIB ·

Penyusupan Kaum Jihadis di Aksi 4 November


					Bendera Palestina terlihat dibawa massa pada demo 4 Novemeber lalu. Perlu diwaspadai masuknya kauh jihadis merekrut kader baru. (foto. Budi Tanjung) Perbesar

Bendera Palestina terlihat dibawa massa pada demo 4 Novemeber lalu. Perlu diwaspadai masuknya kauh jihadis merekrut kader baru. (foto. Budi Tanjung)

JAKARTA, REPORTASE-Koordinator Setara Institut Hendardi menduga aksi demo 4 November lalu, digunakan oleh kaum radikal jihadis menjadi medan perekrutan  baru. Para aktor jihadis lokal ini, bukan tak mungkin masuk dalam kerumunan massa.

Menurut Setara Institute, para jihadis kehilangan arena recovery atau radikalisasi sejak terjadinya perdamaian di Poso dan Ambon. Mereka kehilangan kesempatan untuk merekrut kader-kader baru maupun untuk menghimpun dukungan publik.

Indikasi keterlibatan kelompok jihadis dalam aksi 4 November lalu juga terdeteksi lewat para tokoh kuncinya. Pertama, Bachtiar Nasir yang merupakan pendakwah Wahabi. Kemudian Abu Jibril sebagai aktivis Majelis Mujahidin Indonesia. Dan, M. Zaitun berasal dari organisasi Wahdah Islamiyah yang disponsori Wahabi dan gemar mengkafirkan kelompok lain.

“Tiga tokoh kunci tersebut secara ideologis membenarkan segala cara untuk mencapai tujuannya,” tegas Hendardi kepada pers di Jakarta, Selasa (8/11).

Sejak 2010 kelompok jihadis beralih menggunakan isu penodaan agama, penyesatan, anti kristenisasi, dan solidaritas atas segala peristiwa di Timur Tengah, sebagai medium kampanyenya. Peristiwa di Cikeusik 6 Februari 2011, dan di Temanggung 9 Februari 2011, adalah dua peristiwa yang secara nyata ditunggangi kelompok jihadis.

Dia beberkan, salah satu aktor lapangan peristiwa penyerangan jemaaat Ahmadiyah di Cikeusik adalah aktor yang aktif melakukan pembantaian di Poso. Sedangkan di Temanggung, operator lapangan dari pembakaran gereja adalah salah satu tokoh yang bertugas memasok amunisi untuk kelompok Islam pada masa konflik di Ambon.

Aksi-aksi massa selalu mengundang aneka kepentingan. Karena itu, jika praktik-praktik intoleransi dengan aksi kekerasan dan penyebaran kebencian dibiarkan, maka sama saja publik menyediakan arena “pemulihan” bagi kelompok-kelompok jihadis untuk terus memupuk semangat pengikut dan simpatisannya.

Bagi Setara Institute, intoleransi adalah titik awal dari terorisme. Sebaliknya, terorisme adalah puncak intoleransi,” ujar Hendardi.

Dengan demikian di mata Setara Institute, aksi 4 November bukan hanya terkait Pilkada Jakarta dan dugaan penodaan agama yang menjerat Gubernur DKI Jakarta (non aktif), Basuki Purnama alias Ahok.

Aksi 4 November juga ruang yang kondusif bagi radikalisasi publik, serta memperluas dukungan terhadap agenda-agenda jihad yang bertentangan dengan hukum dan dasar kebangsaan Indonesia. (tat/pr)

Komentar

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Mesin Perahun Mati, Nelayan Situbondo Terombang-ambing di Perairan Madura

18 Juli 2024 - 11:44 WIB

Polda Kalsel Ungkap 14 Kasus Tambang Ilegal Dalam Operasi Peti Intan 2024

17 Juli 2024 - 16:27 WIB

Kapolri Pastikan Hasil Pengusutan Kasus Vina Cirebon akan Disampaikan Secara Transparan

17 Juli 2024 - 16:04 WIB

Satgas Pamtas RI Gagalkan Penyeludupan 35,9 Kilogram Sabu dan 35 Ribu Butir Pil Ekstasi di Sambas-Pontianak

17 Juli 2024 - 15:38 WIB

Usai Dilantik, AKBP Rezi Dharmawan Resmi Jabat Kapolres Situbondo

17 Juli 2024 - 15:06 WIB

Cegah Penyalahgunaan Narkoba, Pejabat Pemprov Jambi di Tes Urine Secara Mendadak

17 Juli 2024 - 14:52 WIB

Trending di Daerah