Mataram, Reportasenews.com – Menyambut perayaan hari raya nyepi umat hindu di pulau Lombok Tahun Baru Saka 1939 yang jatuh pada tanggal 28 Maret 2017. Rangkaian acara menyambut perayaan ini diisi dengan berbagai upacara keagamaan umat Hindu.
Selain Parade Ogoh-ogoh, perayaan Nyepi yang digelar di pulau Lombok adalah ritual perang api yang dilaksanakan oleh dua banjar di pulau Lombok kota Mataram tepatnya dikelurahan Cakranegara dan Banjar Grosakah.
“Kami menggelar acara perang api ini sudah lama dan dilaksanakan turun temurun”, ujar Igusti Bagus Mariane, pemangku adat umat hindu Cakranegara.
Digelarnya perang api menurut penuturan mangku I Gusti Bagus Mariane dahulunya dua lingkungan di distrik Mayure zaman kerajaan Karang Asem Bali berkuasa di pualu Lombok ditimpa penyakit yang sangat membahayakan sehingga setiap hari banyak warga setempat meninggal.
Oleh pemangku adat berdasarkan dari wahyu yang diterima para tokoh agama Hindu waktu itu untuk memgusir karme kale atau penyakit itu harus diadakan perang api dengan menggunakan bobok atau daun kelapa kering. Karena api diyakini mampu mengusir penyakit dan roh jahat.
“Bobok ini dibakar lalu dipakai sebagai senjata mereka”, tutur Ida Bagus Mariane.
Dua banjar saling serang dengan api bobok, mereka sama-sama membela wilayah masing-masing, kobaran api bobok dari daun kelapa kering bersarang ditubuh para pemuda dan warga dua banjar itu, sehingga sekujur tubuh para peserta perang api menghitam akibat serangan kubu lain.
Tidak ada yang marah dalam ritual perang api ini karena semuanya merupakan saudara dan ritual turun temurun dilakukan.
“Tidak ada dendam diantara mereka karena bertujuan mengusir penyakit (kale)”, tegas Wayan Juet Pecalang Cakranegara.
Paska perang api pada Selasa (28/03) umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian. Dalam acara Nyepi ini umat Hindu dilarang melakukan empat aktivitas. Empat pantangan ini yaitu tidak menyalakan lampu atau api Amati Geni, tidak berpergian Amati Lelungan, tidak mengadakan hiburan atau bersenang-senang Amati Lelanguan dan tidak bekerja yang menghasilkan uang Amati Karya. (Zak )
