Alhamdulillah…, bangsa Indonesia bersyukur. Timnas Indonesia melangkah ke final Piala AFF 2016 dengan cara yang heroik dan membanggakan Indonesia!”
Timnas Perkasa, Indonesia Bangga
Oleh: Iwan Ahmad Sudirwan, mantan Producer/Penyiar BBCÂ
Begitu wasit asal China Fu Ming meniupkan peluit panjang, usailah pertandingan semifinal leg 2 Indonesia melawan Vietnam dengan kedudukan akhir 2-2, di kandang Vietnam, Stadion My Dinh, Hanoi. Agregat 4-3. Seketika, meledaklah sukacita masyarakat khususnya penggemar sepakbola Indonesia.
Tiba-tiba Timnas menjadi the darling, pujaan masyarakat Indonesia. Mendadak, orang-orang bangga (ada juga yang lebih bangga) menjadi Indonesia…! Sungguh suasana yang luar biasa!
Tak ada kata-kata yang dapat mewakili rasa haru sekaligus rasa bangga yang overwhelming kepada Timnas.
Ya, kepada semua pemain yang bertarung dengan gagah berani, juga para official dan kepada, khususnya, Coach Alfred Riedl dan Assistant Coach Wolfgang Pikal. Anda semua telah sangat berjasa bagi Indonesia! Atau, saya balik statement itu…masyarakat bangsa Indonesia berutang besar kepada Anda semua!
Sejak awal, secara intuitive saya merasa yakin Timnas akan melaju, membuktikan bahwa mereka tak pantas diremehkan. Ingat, betapa banyak kalangan, bahkan media nasional, yang memandang mereka sebelah mata sebelum Piala AFF 2016 digelar.
Tapi, penulis merasa yakin Timnas akan melangkah jauh di kejuaraan paling bergengsi di Asia Tenggara ini dan, sejak laga penentuan di fase grup lalu, dengan sadar memilih angle positif dan analisis optimistis terhadap Timnas.
Psikologis Timnas :Â Pembuktian Petarung
Kini, Tim Garuda telah memberi bukti!
Apa yang mendasari optimisme penulis sejak Timnas menantang Filipina dan Singapura di laga penentuan fase grup lalu?
Sederhana saja. Biasanya, siapapun yang merasa sudah terlalu lama dipandang sebelah mata oleh lingkungan internal dan eksternalnya pasti menyimpan motivasi yang sungguh besar untuk membuktikan dirinya!
Apalagi jika kesempatan untuk pembuktian itu tersaji di kancah yang lebih besar dan lebih tinggi level maupun gengsinya. Mereka (Timnas) dipastikan akan mengerahkan lebih dari 100 persen kemampuan mereka. Psikologi yang simple sebenarnya.
Faktor pelatih dan staf jelas crucial. Coach Alfred Riedl dan tim stafnya, tentu termasuk Wolfgang Pikal, muncul sebagai sosok yang meyakinkan di mata para pemain. Para pemain menaruh respect karena Coach, Assistant dan staf tim memang credible.
Di kolom ini, awal minggu lalu, penulis membayangkan para pemain bertanding di Stadion My Dinh sebagai petarung dan, ternyata, semua pemain Timnas membuktikannya!
Tapi, jangan terjebak dalam euphoria! Mengapa? Perjuangan Timnas belum tuntas.
Pasukan Coach Alfred Riedl harus mampu mengatasi Thailand dalam dua leg final Piala AFF ini. Leg pertama dilangsungkan di Stadion Pakansari, Bogor, pada Rabu 14 Desember 2016. Sementara leg 2, dimainkan di Bangkok, 17 Desember 2016.
Â
Aktualisasi Nasionalisme Berbuah Prestasi
Harus diakui, para atlit negara ini terbukti paling depan dalam soal nasionalisme dan cara mengaktualisasikannya di panggung internasional. Kini, di ajang sepakbola paling bergengsi di Asia Tenggara, Timnas membuktikannya!
Dalam ulasan terdahulu penulis mengungkapkan tentang betapa sepakbola (dan bahasanya) telah menjadi sesuatu yang sangat penting (dan paling bergengsi!) bagi seluruh negara di dunia ini. Tak ada seorangpun bisa membantah ini!
Oleh sebab itu, negara-negara terus berlomba untuk menyiapkan tim nasional sepakbola masing-masing dengan cara yang semaksimal mungkin. Termasuk bangsa-bangsa di Asia Tenggara, tak terkecuali Vietnam dan Thailand yang kini sangat maju sepakbolanya.
Maksud saya, keberhasilan Indonesia mencapai partai puncak Piala AFF 2016 dan menantang Thailand, dalam konteks persaingan dewasa ini, sungguh suatu prestasi yang sangat luar biasa!
Ini mengingat berbagai kendala yang ada sejak awal, utamanya dampak sanksi FIFA dan minimnya waktu persiapan serta support dari para stakeholder bola nasional.
Bayangkan para pemain dengan lambang Garuda di dada mereka bertarung habis-habisan di kandang lawan, tanpa kenal takut terhadap lawan yang lebih superior dalam skills dan teknik. Sejak awal kita pun paham sekali bahwa tim-tim lawan, termasuk Vietnam, unggul dalam stamina tapi Timnas tak kenal menyerah.
Timnas menang dan maju ke final berkat do’a rakyat Indonesia, karena semangat, tekad baja dan nasionalisme!
Formasi Tepat dan Lini Belakang Kuat
Pragmatis! Itulah approach yang dipilih Coach Alfred Riedl saat Timnas tampil di Hanoi, Rabu lalu.
Coach Riedl hanya mau Indonesia lolos ke final. Maka, cara paling efektif untuk mencapai tujuan itu adalah mempertahankan keunggulan agregat (2-1) dengan menahan Vietnam, sambil berusaha mencetak gol. Lantas, bagaimana formasi disusun untuk merealisasikannya?
Pada tulisan terdahulu, penulis berharap Coach Riedl menduetkan Fachruddin Aryanto dengan Hansamu Yama Pranata di jantung pertahanan. Ternyata, kebetulan, Coach Alfred Riedl melakukan hal itu.
Penulis juga membayangkan Manahati Lestusen jadi starter, karena kualitasnya dalam semua aspek permainan bertahan dan, secara kebetulan lagi, Coach Riedl memainkan Manahati sebagai starter.
Ketiga pemain tersebut, bersama seluruh rekan mereka termasuk penjaga gawang Kurnia Meiga tampil sangat cemerlang! Terlepas dari taktik yang cenderung defensif dari Timnas, kita tak pantas menuntut lebih banyak lagi!
Bahkan, Timnas mampu mencetak dua gol. Visi permainan sekaligus teknik yang hebat diperlihatkan oleh kapten Boaz Solossa dalam proses lahirnya gol pertama Timnas oleh gelandang serang Stefano Lilipaly.
Lalu, gol kedua di babak pertama perpanjangan waktu. Coba kita rewind lagi, bagaimana tenang dan matangnya seorang Manahati Lestusen mengeksekusi pinalti. Poinnya, formasi dan komposisi pemain yang tepat adalah kunci!
Formasi dan komposisi ini disiapkan sesuai dengan situasi dan target tertentu. Jika di Hanoi targetnya adalah lolos dengan strategi main imbang dengan mencetak satu gol atau dua gol, dst, maka partai kandang melawan Thailand nanti jelas sebuah situasi berbeda. Yang pasti, lini belakang harus lebih tangguh. Tapi, itu saja belumlah cukup!
Meningkatkan Fokus Dan Stamina
Thailand lebih kuat daripada Vietnam. Itulah mengapa Timnas harus lebih tangguh!
Fakta, Timnas hebat dalam menyerang dan berhasil mencatat dua gol per pertandingan hingga semifinal Piala AFF. Mencetak total sepuluh gol, tapi juga kebobolan sepuluh gol!
Coach Alfred Riedl dan timnya pasti telah memikirkan jawaban atas pertanyaan terkait pendekatan taktis kali ini, karena issue soal strategi sudah terjawab: bahwa Indonesia akan bermain normal bahkan offensive kontra Thailand karena harus mencetak gol agar menang!
Kita asumsikan Timnas kini terus melakukan evaluasi, menganalisis permainan lawan, dan mematangkan berbagai pilihan konsep bermain lawan Thailand nanti.
Nah, kita mau sharing lagi. Kelemahan paling mencolok dalam tubuh Timnas adalah stamina yang kurang prima. Rata-rata pemain cuma sanggup bermain dalam intensitas tinggi selama 70 menit saja.
Sesudah itu, kentara sekali mereka kedodoran. Bahkan, sebagian, hampir tak kuasa lagi untuk berlari. Sangat disayangkan kendala stamina ini juga dihadapi Andik Vermansah, penyerang sayap andalan Timnas, saat laga di Hanoi.
Coach Alfred Riedl sempat memaksakan Andik terus bermain, tetapi akhirnya digantikan juga. Terlihat betapa Andik sangat kepayahan. Saya pikir, mestinya Andik sudah ditarik sebelum menit ke-70.
Memulihkan kondisi dan memaksimalkan kebugaran para pemain pasti menjadi prioritas Timnas. Kemudian, menjaga level itu agar mencapai peak pada waktu pertandingan final nanti.
Coach Alfred Riedl dan tim pasti tahu cara terbaik untuk mencapai target tersebut, termasuk bagaimana memperbaiki fokus para pemain karena Timnas sering kecolongan pada sepuluh menit awal pertandingan dan di 15 menit terakhir.
Petarung Lini Tengah, Tak Boleh Lengah
Untuk mengatasi Thailand, maka Timnas harus menurunkan pemain-pemain berkarakter petarung terkuat, terbaik dan paling mobile di lini tengah yang vital. Komposisinya adalah Manahati Lestusen, Bayu Pradana dan Rizky Pora.
Kenapa mereka? Kali ini, berbeda dari sebelumnya, taktik di lini tengah haruslah, pertama, rebut bola dari pemain Thailand sesegera mungkin atau potong aliran bola lawan.
Kedua, kuasai bola seefektif mungkin dengan cara menjauhkan bola dari lawan lewat passing tepat kepada rekan di sayap maupun striker, dan lewat kombinasi one-two dengan pemain sayap sambil merangsek ke dalam pertahanan Thailand. Tapi, tak boleh lagi salah oper.
Manahati Lestusen sangat dapat diandalkan untuk urusan yang pertama. Walaupun masih muda, berusia 23 tahun, Manahati tangguh dalam sliding untuk memotong bola dan pergerakan lawan, selain andal dalam duel udara.
Kualitas yang hampir sama dimiliki oleh Bayu Pradana. Ditambah posturnya yang jangkung, Bayu Pradana mampu mengganggu lawan bahkan merusak permainan lawan. Keduanya ideal sebagai double pivot atau gelandang jangkar ganda.
Mereka bertugas menutup celah dan melumpuhkan gelandang Thailand, Charyl Chappuis dan Chanathip Songkrasin yang gesit dan cepat. Sekaligus, itu akan menutup supply bagi Teerasil Dangda striker andalan Thailand.
Duet bek tengah Fachruddin Aryanto dan, mungkin, Hansamu Yama Pranata tak boleh lengah sedikitpun, harus bergantian mengawal rapat Dangda yang cepat, oportunis, punya tendangan volley kencang serta sundulan.
Peran Rizky Pora dalam skema atau formasi tiga gelandang Timnas adalah menjadi gelandang sayap kiri, mirip peran Andres Iniesta di Barcelona. Cuma, Rizky Pora punya modal dribble dengan pacing sangat tinggi yang menggetarkan bek-bek lawan. Bayangkan saat dia berkombinasi apik dengan Boaz Solossa penyerang sayap kiri Timnas.
Didukung overlapping M. Abduh Lestaluhu, maka mereka akan konstan menekan sisi kanan pertahanan Thailand, membuat bek-bek lawan akan kewalahan dan bingung siapa yang mesti dikawal. Karena, para pemain belakang Thailand harus pula mengawasi Stefano Lilipaly yang, layaknya seorang false nine, bisa muncul dari belakang secara tiba-tiba.
Sayap Menekan Konstan, Gol Dari Secondline
Rancangan skema serangan serupa juga harus dilakukan di sayap kanan!
Nah, bila Andik Vermansah berada dalam kondisi top form, terutama menyangkut stamina, maka dia adalah pilihan pertama di sayap kanan. Andik akan didukung Manahati Lestusen yang kali ini agak digeser ke kanan.
Sebagai pemain multi fungsi, Manahati Lestusen diyakini mampu berfungsi maksimal di posisi itu walaupun dia tidak akan dituntut melakukan banyak dribble.
Tapi, yang pasti, Manahati harus meng-cover sektor tengah kanan yang sering ditinggalkan oleh Andik. Jika hanya berharap kepada Benny Wahyudi untuk melakukan tugas tersebut maka dikhawatirkan Timnas gampang berbalik tertekan di sektor belakang kanan.
Komunikasi dan koordinasi mutlak dibutuhkan antara Benny Wahyudi, Manahati dan Andik Vermansah. Kalau ini tercapai maka gelombang serangan Timnas akan lebih dahsyat, memperbesar peluang gol ke gawang Thailand.
Pelapis Andik adalah Bayu Gatra. Memang belum pernah turun, tapi dia punya kecepatan dan nyali besar!
Formasi di atas, jelas 4-3-3, dan sangat offensive. Namun disitu juga ada kedalaman, depth, karena kehadiran pemain-pemain multi fungsi khususnya Manahati Lestusen, Bayu Pradana dan Stefano Lilipaly.
Kita tahu, selain mampu berfungsi sebagai gelandang bertahan, Bayu Pradana juga memiliki modal heading dan tendangan jarak jauh, cannon ball yang keras! Ini bisa sangat dibutuhkan saat rekan-rekannya di sayap memberikan umpan tarik yang pas.
Stefano Lilipaly memang bukan seorang striker. Tapi, dia sudah mencetak dua gol di ajang Piala AFF 2016, dan, kedua golnya lahir dari dalam kotak pinalti.
Lilipaly sering muncul dari belakang, melakukan shooting (gol kemenangan versus Singapura) dan melakukan dash layaknya striker guna menyergap bola liar di garis gawang, mengatasi kecepatan kiper Vietnam.
Stefano Lilipaly dan Bayu Pradana kini layak diandalkan sebagai goalgetter dari secondline!
Â
Faktor Kapten Boaz Dan Hadiah Dari Timnas
Last but least, Timnas beruntung punya Boaz Solossa.
Sebagai kapten tim, Kakak Boaz sukses memimpin rekan-rekannya di lapangan. Boaz sangat hebat dalam memotivasi tim, melalui contoh, yakni berjuang gigih tak kenal lelah.
Boaz Solossa memimpin Timnas pada saat yang tepat, usianya matang. Teknik tinggi dan visi permainannya sungguh mengagumkan sekaligus dibutuhkan. Sekarang Boaz sangat dewasa, dihormati rekan dan disegani lawan.
Pasti, Indonesia bikin Thailand gentar. Thailand ngeri sama Timnas, karena barisan penyerang Timnas yang dipimpin Boaz paham cara menembus pertahanan mereka.
Pada partai pertama fase grup, Timnas sempat dua kali menjebol gawang Thailand untuk menyamakan kedudukan jadi 2-2, walaupun akhirnya dipaksa menyerah 2-4 lewat dua gol lawan di menit-menit akhir akibat lengah.
Timnas harus main lepas, tapi bertarung total! Mencetak gol-gol dan menang secara meyakinkan atas Thailand, dan, tanpa kebobolan demi keunggulan agregat.
Bagi Timnas, setelah kemenangan dramatis atas Vietnam, inilah momentum tepat untuk kembali menghadiahi rakyat Indonesia, khususnya saudara-saudara kita di Aceh yang baru ditimpa musibah gempa bumi, dengan kemenangan dan kebanggaan!
Ingat, Timnas kini tampil di partai puncak…Final Piala AFF 2016. Sesungguhnya ini final kelima bagi Indonesia sepanjang sejarah. Semoga, ini menjadi kesempatan pertama Indonesia menjadi juara! Seluruh rakyat Indonesia berdo’a untuk Timnas..!
Di Stadion Pakansari Bogor, Rabu, hampir seratus ribu supporter Timnas akan menyemangati Boaz Solossa dan kawan-kawan secara luar biasa, menggelorakan dukungan dengan yel-yel, nyanyian patriotik, serta terus mengibarkan bendera Merah Putih…!
Ayo, Timnas bermain total…, ini Final Piala AFF 2016!
