Search

Reparasi Tanpa Sensasi

Jimbot, ahli reparasi saxophone yang juga penghobi motor klasik. (Foto. Joko Dolok)

Jakarta, Reportasenews – Jimbot hanyalah seorang lelaki biasa. Keunggulannya selain berjanggut lebat,  ia adalah lelaki yang tampil apa adanya. Ia mengaku lahir di Jakarta 51 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1970, dan sudah mulai otak atik motor klasik sejak usianya masih 14 Tahun.

(Foto. Joko Dolok)

Tahun 1984 adalah tahun awal buat Jimbot ketitipan motor BSA (BIRMINGHAM SMALL ARMS)  WM 20,4 TAK 500 CC Tahun 1941 dari pemiliknya Wayan, sahabat karib ayahnya.

“Ketitipan motor BSA saat itu karena istri Pak Wayan sedang hamil muda, tidak suka bau oli motor BSA. Jadilah motor ini nginep di rumah,” kenang Jimbot yang berdomisili di Cipinang Raya RT 09 RW 06 No.7.

Awalnya Jimbot  cuma berani otak-atik gak jelas, kemudian tanya sana sini. Jimbot juga bergabung dengan berbagai komunitas motor.

“Di komunitas inilah Jimbot banyak dapat ilmu,  dari sana sini tentang kekurangan atau kerusakan motor BSA, ” ujar lelaki berjanggut lebat yang sebagian berwarna putih.

Selang 8 tahun tepatnya 1992, Jimbot punya uang dan ingin memiliki secara syah motor BSA Pak Wayan. 

(Foto. Joko Dolok)

“Alhamdulillah beliau hanya minta 1.5 juta rupiah. Jadilah BSA ini resmi gw pemiliknya.” Ujarnya bangga.

Selain kesukaannya pada motor klasik, ada cerita lain pada sekitar tahun 90 an, kala itu Jimbot kedatangan tamu yang tak lain adalah musisi Jazz ternama.  Peniup saxophone kenamaan Indonesia Embong Raharjo.

Kedatangan Embong ke rumahnya tak lain untuk memperbaiki saxophone koleksinya pada ayahnya.  Sedangkan ayahnya saat itu sedang terbaring sakit. Ayah Jimbot adalah seorang musisi yang berkiprah pada tahun 1980-90, namanya Murtadji. Pak Murtadji ini dikenal para musisi jazz memiliki keahlian memperbaiki saxophone yang rusak.

“Saat mas Embong akan memperbaiki 6 buah saxophone nya. Kondisi bokap lagi sakit,” kata Jimbot sambil matanya nanar mengenang kejadian tersebut. 

(Foto. Joko Dolok)

Embong Raharjo menginspirasi dirinya untuk berani mencoba jejak orang meneruskan reparasi saxophone. Jimbot tak akan melupakan kata-kata Embong Raharjo kala itu.

“Sampean nggak usah jadi player atau seniman tiup tapi jadi dokternya karena Player tiup sudah banyak.” Kenang Jimbot tentang wejangan Embong Raharjo.

Kembimbangan mulai bergelut dalan jiwanya.  Pekerjaannya sebagai seorang maintanance pada sebuah perusahaan di wilayah Tanjung Priok. Setiap bulan Jimbot dapat penghasilan 250 ribu.

Singkat cerita 6 saxophone koleksi Embong Raharjo selesai diperbaikinya, dalam waktu dua minggu.  Dan Jimbot menerima bayarab Bayaran 900 ribu.

“Wah senang dan haru gue terima uang sebesar itu.  Bayangin aja,  gue kerja sebulan cuma digaji 250 ribu,” kata Jimbot bersemangat. 

Akhirnya Jimbot memutuskan berhenti bekerja dan menekuni servise saxophone hingga kini. 

“Mas Embong Raharjo pun sambil membayar berucap Nikmat kan Mboet sambil duduk otak atik saxophone, bisa tekun merawat bapak yang sakit,  sambil mandangi motor semua bisa dilakukan.” Kenangnya.

Kepiawaian mereparasi saxophone mulai viral dari mulut ke mulut musisi jazz Indonesia hingga mancanegara. Bahkan manajer Kenny G, maestro saxophone dunia menyerahkan saxophone kesayangab Kenny G untuk rawat si dokter Jimbot.

Dokter alat tiup pun hingga saat ini masih juga merawat motor BSA yang ia kasih nama mbah Slamet.

Nama mbah Selamt ini karena BSA Jimbot selalu memberikan banyak keselamatan dalam membantu sesama pemotor klasik.

Cerita yang dibagikan ke kami yaitu saat  Touring MACI yaitu MOTOR ANTIK CLUB INDONESIA ke Yogya tahun 1997,yaitu saat dimana teman teman sesama turing membutuhkan tali rem, amplas dan lainnya,  semua tersedia di bagasi BSA mbah Slamet.

Tak jarang saat sedang jalan jalan keliling kota Jakarta menjadi pusat perhatian penyuka motor klasik, bahkan anak pertama Jimbot yang belum genap setahun pun bila mendengar bunyi motor BSA nya dinyalakan kepala buah hatinnya ikut geleng geleng  dan tersenyum seirama bunyi mesinBSA.

Amat banyak cerita dibalik kisah Jimbot seorang yg sederhana namun multi talenta tapi selalu menerima siapapun yg bertamu dan ingin berbincang.

Walaupun Jimbot telah lama memiliki BSA ini,  ia tak pernah mau melepas ke tangan orang lain. 

Mbah Slamet pernah ditawar 300 juta plus surat tanah. Gue tolak karena masih pengen naik motor bukan naik surat tanah, ” katanya singkat.

Selain Mbah Slamet, ada juga Mbah Muda julukan buat motor MEGURO KAWASAKI 4 TAK 500 CC TAHUN 1974. Selain itu Jimbot juga punya koleksi  MOTOR PUCH buatan AUSTRIA 2 TAK, TWIN PORT 150 CC Tahun 1952.

“Inilah harta tak ternilai yang gue jaga dan rawat hingga kapanpun….karena kecintaan dan nilai sejarahnya yang jadi penguat untuk selalu dihati,” tutup Jimbot sambil melempar pandangannnya jauh ke depan. (dolok) 




Loading Facebook Comments ...