Jakarta, Reportasenews – Unit Riset Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran tengah melakukan riset deteksi dini Covid-19 dengan observasi dan swab mata.
Hipotesa penelitian ini adalah virus Corona (SARS CoV-2) juga menyebar ke mata. Ini terjadi karena mata dan rongga hidung terhubung lewat sebuah saluran. Itulah sebabnya saat orang menangis, hidungnya juga turut basah. Dan di era pandemi Covid-19, orang dilarang mengucek mata dengan tangan karena mata menjadi salah satu pintu masuk virus Corona ke tubuh manusia.
dr. Rina La Distia Nora, SpM (K), PhD, peneliti utama RSDC-19 Wisma Atlet Kemayoran dan sejumlah peneliti antara lainnya telah melakukan langkah konkret dengan melakukan penelitian berjudul ‘Potensi Deteksi Dini Infeksi SARS-CoV-2 dari Swab Sampel Konjungtiva Melalui Pemeriksaan RT-PCR’.
Konjungtiva merupakan selaput bening yang melapisi seluruh bagian terdepan mata dan menjadi pelindung mata. Maka dengan judul penelitian seperti itu, harapannya swab Covid-19, bisa dilakukan hanya dengan membuka kelopak mata bagian bawah agar stik swab bisa menyentuh selaput konjungtiva mata. Sampel swab nanti akan diperiksa melalui RT-PCR (reverse-transcriptase polymerase chain reaction) seperti halnya swab hidung dan tenggorokan.
Mayjen Tugas Ratmono selaku Koordinator RSDC Wisma Atlet menyambut hangat penelitian tersebut.
“Ini bisa menjadi skrining yang cepat dan murah untuk mengetahui siapa yang terinfeksi Covid-19 sehingga mempercepat penanganan pandemi Covid,” kata Mayjen Tugas yang juga Kepala Pusat Kesehatan TNI.
Skrining (screening) atau testing dalam era pandemi Covid-19 adalah salah satu kunci untuk mencegah penyebaran Covid-19. Dengan cara ini, orang terinfeksi Covid-19, bisa sesegera mungkin menjalani perawatan atau isolasi mandiri guna memutus rantai Covid-19.
Mayjen Tugas mendukung penuh penelitian dr Rina agar bisa diterapkan.
“Penelitian ini sangat penting untuk explor keilmuan, bukan hanya soal Covid, tetapi langkah strategis ke depan dalam penanggulangan ancaman kesehatan,” jelas Mayjen Tugas.
Dukungan juga mengalir dari dr. RM Tjahja Nurrobi, Sp. OT (K) HAND, MKes, Kepala Sekretariat RSDC Wisma Atlet Kemayoran. Ia menyatakan sebagai rumah sakit yang merawat pasien Covid dalam jumlah paling banyak di Indonesia, RSDC Wisma Atlet Kemayoran menjadi sumber data untuk berbagai penelitian tentang Covid.
“Sekarang sudah ada 70 riset tentang penanganan, pencegahan, dan manajemen penanggulangan Covid. Salah satu riset yang tengah dilakukan adalah mengidentifikasi Covid dari pemeriksaan mata yang dilakukan dr. Rina,” kata dr Nurrobi.
Bagaimana latar belakang dan cara dr. Rina melakukan penelitian identifikasi mata untuk deteksi Covid-19? Dokter dari Divisi Infeksi Imunologi Departemen Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini mengacu pada penelitian di China dan di Jerman. Bahwa di China, 27 persen orang yang terinfeksi Covid-19, mengalami keluhan mata seperti mata kering, terasa berpasir, dan merah. Sedangkan di Jerman, angkanya jauh lebih tinggi yaitu 69 persen.
Penelitian di China dan Jerman, sifatnya retrospektif artinya menanyakan pada eks pasien Covid-19 yang telah telah selesai menjalani perawatan.
“Sedangkan penelitian yang kita lakukan, sifatnya prospektif, yaitu meneliti pada saat orang terinfeksi Covid-19. Itulah kenapa penelitian dilakukan di RSDC Wisma Atlet ini sebagai rumah sakit Covid terbesar di Indonesia. Kita akan meneliti saat orang mulai pertama dirawat hingga 7-14 hari setelah menjalani perawatan,” kata dr Nora.
Sebanyak 144 orang terinfeksi Covid-19 di RSDC Wisma Atlet diikutsertakan dalam riset ini. Sang peneliti melibatkan para dokter di RSDC Wisma Atlet untuk menanyakan berbagai keluhan mata. Kuesoner dibuat sedemikian rupa sehingga terukur dalam hubungan antara keluhan mata dan infeksi Covid-19.
“Kita harapkan pada Maret-April, penelitian ini sudah selesai dan bisa dilaporkan,” ujar dr Rina.
Bukan hanya kuesioner, dr Rina juga meneliti sampel secara obyektif. Sampel penelitian diperiksa matanya dengan alat keratograph. Alat ini bisa mendeteksi kekeringan mata, mata merah, dan ketinggian air mata.
“Kita akan meneliti apakah pasien mengalami kekeringan mata atau tidak. Dengan metode statistik nanti akan terlihat seberapa hubungan kekeringan mata dengan infeksi Covid-19,” kata dr Rina.
Orang normal dalam deteksi menggunakan alat keratograph, matanya kering setelah 10 detik dari saat mata mengedip. Jika kering lebih cepat dari itu 10 detik, mata tergolong mengalami keluhan.
Dua indikator lain yang dibaca alat keratograph adalah ketinggian air mata dengan standar minimal 0,2 mm dan tingkat kemerahan mata. Jika tidak sesuai standar, maka berarti mata mengalami keluhan.
“Setiap sampel penelitian, maksudnya 144 pasien di RSDC akan diuji alat keratograph ini untuk melihat data obyektif kekeringan mata, ketinggian air mata, dan tingkat kemerahan mata,” lanjut dr. Rina.
Data obyektif berikutnya adalah pasien akan di-swab mata. Ini untuk mengetahui apakah virus Corona juga ada di mata atau tidak. Tentu dr. Rina tidak asal membuat hipotesa, dia mengantongi sejumlah penelitian.
“Pada pandemi SARS 2004, peneliti di Singapura menemukan virus SARS-CoV-1 ditemukan di permukaan mata,” bebernya.
Pandemi SARS tahun 2004 dan pandemi Covid-19 memiliki hubungan erat. Jika SARS ditimbulkan virus SARS CoV-1, maka biang keladi pandemi Covid-19, adalah virus SARS CoV-2.
Ujung dari penelitian ini, harap dr Rina, mata bisa menjadi salah satu alat deteksi seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak. Mengingat posisi mata lebih mudah dilihat dan dilakukan swab, maka deteksi Covid-19 akan lebih mudah dan lebih cepat.
Keberadaan RSDC Wisma Atlet yang dikomandani Mayjen TNI Dr. dr. Tugas Ratmono, SpS, MARS, MH sebagai pusat riset Covid-19 patut mandapat dukungan luas. Tujuannya agar negeri ini jauh lebih siap menghadapi ancaman pandemi sejenis di masa mendatang. (Tjg)
