Menu

Mode Gelap
Arus Mudik Lebaran di Pelabuhan Dwikora Pontianak Mulai Padat

Nasional · 28 Okt 2016 21:31 WIB ·

Antara Sumpah dan Disumpahi Pemuda


					Foto ilustrasi / jogjakartanews Perbesar

Foto ilustrasi / jogjakartanews

JAKARTA, REPORTASE – Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 melahirkan semangat persatuan dan kesatuan yang luar biasa. Para pemuda mengikrarkan semangat persatuan yang menyentak semua orang yang membaca dan mendengarnya. Dan terbukti, Sumpah Pemuda 1928 itu menggelorakan semangat persatuan dan kesatuan, yang menyentak rakyat Indonesia untuk keluar dari benteng-benteng kesukuan dan golongan.

Semangat para pemuda itu turut mengantar rakyat Indonesia meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sekarang, akankah semangat persatuan dan kesatuan itu masih menjadi semangat kaum muda? Atau, para pemuda sekarang ini tidak lagi tertarik pada kata ”Sumpah“, tetapi lebih bersemangat “menyumpahi” orang?

Semangat menyumpahi itu terlihat dari berbagai komentar kaum muda di media sosial, terutama kepada orang-orang yang dianggap tidak sejalan. Sangat jarang ditemukan perbedaan pendapat yang dikelola dengan baik, dalam semangat kebersamaan. Yang sering terjadi, kaum muda begitu mudah bereaksi, mengejek, dan menyumpahi siapa saja. Ini semakin tampak saat mendekati masa pemilu dan pilkada.

Kaum muda sekarang—semoga saja salah—sebagian besar lemah dalam visi kebangsaan sebagaimana semangat kaum muda pada masa Sumpah Pemuda 1928. Ini sungguh mengkhawatirkan keberadaan NKRI pada masa depan. Bukan saja kaum muda, anak-anak juga terancam untuk tidak lagi memiliki jiwa cinta Tanah Air.

Mengapa bisa? Lihatlah anak-anak yang diperlakukan tidak adil dan mendapatkan berbagai bentuk kekerasan baik di keluarga maupun lingkungan. Juga ketidakpedulian orang dengan aktivitas anak-anak, sehingga banyak yang kecanduan games bermuatan kekerasan dan kecanduan situs-situs porno.

Kaum muda juga tak lagi peduli dengan etika dan kehidupan seksual mereka, bahkan banyak yang terlibat bisnis prostitusi terselubung. Narkoba dan kehidupan malam pun menjadi pelampiasan mereka. Untuk kaum muda terpelajar, sangat sedikit yang mengembangkan wawasan kebangsaan.

Orientasi mereka pada nilai ekonomi yang akan mereka dapat setelah lulus kuliah. Ini membuat banyak motivator menawarkan cara mudah untuk berpenghasilan besar, tanpa kerja keras. Hasilnya, banyak kaum muda yang terlibat korupsi ketika mereka mendapatkan peluang dan kekuasaan.

Meskipun ada yang memiliki perhatian pada bangsa dan negara ini, jumlah mereka masih terbatas dan lebih terfokus pada komunitas yang mereka bangun lewat media sosial. Itulah mengapa berbagai organisasi kepemudaan sekarang ini dirasakan mati suri. Kalaupun ada yang “bergerak“, biasanya karena ada pesanan terkait isu-isu sesaat untuk kepentingan golongan tertentu.(Syarif Oppusunggu)

 

 

 

Komentar
Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Liburan Lebaran, Polres Situbondo Siagakan Kapal Patroli di Wisata Pantai

13 April 2024 - 14:10 WIB

Nelayan Hamili Anak Kandung Dilaporkan ke Polisi

12 April 2024 - 21:05 WIB

Dua Rumah Milik Bapak dan Anak di Situbondo Ludes Terbakar

12 April 2024 - 19:09 WIB

Kapal Klotok Tenggelam di Sungai Kapuas,  Enam Penumpang Selamat

12 April 2024 - 13:19 WIB

Roda Depan Bermasalah, Bus Masuk Saluran Irigasi di Jalur Pantura Situbondo

11 April 2024 - 17:45 WIB

Pria Paruh Baya di Diserang Buaya Saat Mengambil Wudhu di Parit Tanjung Saleh Kubu Raya

11 April 2024 - 15:29 WIB

Trending di Daerah