Menu

Mode Gelap

News Feed · 6 Agu 2020 08:55 WIB ·

Surat Terbuka Untuk Ketua Umum PSSI – Iwan Bule (Bagian 3)


					Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan. (foto. Ist) Perbesar

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan. (foto. Ist)

DISUAP, DIRAYU Dan JADI CALO

Penulis : Cocomeo

Ada peristiwa yang menggelikan buat mBah Coco dan Yon Moeis, selama menulis artikel sepak bola, sejak tahun 1980-an, hingga sampai bulan  Juli 2020. Bahkan, sejak ada medsos, tulisannya bisa kesebar dimana-mana. Tanpa bisa dikontrol oleh siapa pun. Mereka nggak tahu, kalau mBah Coco dan Yon Moeis itu “syelon” alias tidak butuh di-backing”, dan tak butuh dibela.

Selama bulan April, Mei  dan Juni 2020, ada sekitar 10 orang, yang mencoba mempertemukan mBah Coco – Yon Moeis dengan Iwan Bule. Ada kawan lawyer, ada temen deketnya Ibul, ada intelejen BIA, ada wartawan, dan ada konsultanya Iwan Bule. Itung-itung, ada 10 atau 11 orang, mBah Coco agak lupa. Maklum, sudah sepuh. Tapi, dari semua yang baik hati, ingin mempertemukan itu, ada tiga yang sangat terngiang-ngiang dan berkesan.

Adi Windoro, wartawan veteran asal KOMPAS yang sudah pensiun, dan tinggal di Kuningan, Cirebon di hari tuanya. Pengakuannya, sudah berteman dengan Ibul, sejak pangkat AKBP, saat bertugas sebagai jurnalis di lingkungan kepolisian.. Siang itu, ujug-ujug telepon Yon Moeis, untuk minta nomor rekening, karena segera akan ditransfer oleh Iwan Bule.

Ilustrasi (foto.Ist)

Ilustrasi (foto.Ist)

Yon Moeis telepon mBah Coco, dan merasa binggung. Karena sudah dijawab, bahwa dirinya tak punya rekening apap pun di semua bank di Indonesia. Windoro, sepertinya juga binggung. Lantas dijawab oleh Yon Moeis, daripada ngomong transferan. Bilang ke Iwan Bule, mendingan diajak ketemuan saja.

Esoknya, ternyata Adi Windoro sudah dijemput Patwal Polisi, dari Kuningan ke Jakarta. Karena, ada PSBB, masuk Jakarta sepertinya wajib dikawal. Tujuannya, sore itu, pukul 16.00 diajak ketemuan di rumah Iwan bule, di Jl. Ciomas III, No 20, Jakarta Selatan.  Windoro, kembali mendesak Yon Moeis, bahwa Iwan Bule, ingin segera transfer uang ke Yon Moeis. Padahal, sudah dijelaskan, bahwa dirinya tak punya kartu banking.

Apakah ini, bertujuan untuk membungkam, atau apa motifnya? Semuanya abu-abu.

Limabelas menit sebelum pukul empat sore, Iwab Bule japri Adi Windoro, bahwa pertemuan dengan mBah Coco dan Yon Moeis, mendadak batal. Alasannya, Iwan Bule dipanggil Wapres Amin Ma’ruf. mBah Coco tersentak kaget. Lha mikiran bola 24 jam saja, pusing 7 keliling, kok sekarang sebagai ketum PSSI, masih “melaut” ke Wapres?

Pertengahan bulan Puasa awal Mei 2020, mBah Coco ditelepon Yon Moeis, bahwa Eddy Sofyan ngajak ketemuan, di sekitar hotel kawasan Matraman, pukul 17.00. Katanya, mau silahturahmi dan diskusi kecil-kecilan, dengan Yon dan mBah Coco.

Yang tersirat dari diskusi kecil-kecilan itu, mBah Coco diminta untuk ngomong ke Cucu Somantri, agar jangan membuat gerakan sendiri di PSSI. Karena, para pensiunan sepak bola nasional, seperti Nugraha Besoes, Nirwan Bakrie, lagi ngrumpiin sepak terjang Cucu Somantri. Bahkan, Iwan Bule yang sering ketemu dengan Eddy Sofyan berpesan. Mohon Cucu Somantri jangan ndableg – keras kepala.

Artinya, gosip, isu dan informasi kacangan yang beredar di lingkungan dan di kuping Iwan Bule, menandaskan bahwa mBah Coco dan Yon Moeis, sedang melahirkan persekongkolan busuk, bersama Cucu Somantri. Busyet daghhhhh, begitu gawatnya sepak terjang mBah Coco dan Yon Moeis, sampai-sampai Iwan Bule, sangat “baperan” gitu, coy !!!

Setelah berpamitan dengan Eddy Sofyan. Ada japri sari Tommy Arief. Isinya kira-kira begini. Eddy Sofyan minta tolong, agar menulis artikel, tentang posisi Sekjen PSSI. Jika Eddy Sofyan, bisa jadi Sekjen, dengan argumantasi bla…bla…bla. Maka, atau, bisa menyakinkan Iwan Bule, lewat jaringan mBah Coco dan Yon Moeis. Ada kompensasi succes fee, untuk mBah Coco dan Yon Moeis, sebesar Rp 150 juta.

Yang nggak habis pikir. EddySofyan itu konsultan Iwan Bule. Sering jalan bareng Iwan bule. Tapi, kok minta bantuan mBah Coco dan Yon Moeis, dan siap kasih upah, jika sukses jadi Sekjen PSSI.

Masuk akal nggak ya? Apa bener mBah Coco dan Yon Moeis, bisa menyakinkan Iwan Bule? Lha, setiap tulisan artikel mBah Coco dan quote-quote Yon Moeis dibenci dan disumpahin Iwan Bule dan kroni-kroninya. Mana mungkin, gagasan, usulan dan saran mBah Coco didengar Iwan Bule? Bahkan, sampai hari ini pun, nggak kenal face to feca. Mana mungkin bisa bantu Eddy Sofyan?

Ada peristiwa terkesan bujuk rayu, agar mBah Coco dan Yon Moeis takluk dan nurut dengan PSSI. Alkisah, masih di pertengahan bulan Puasa Mei 2020. Eko Rachmanto, wartawan Media Indonesia, yang saat ini, sebagai Media Officer FIFA U-20 World Cup 2021. Kebetulan, doi juniornya Yon Moeis dan mBah Coco, di kawasan sepak bola nasional.

Inti pertemuan sore itu, ngajak buka puasa. Karena, Jakarta sedang menjalani PSBB, maka diarahkan Yon Moeis, di kawasan Selatan Jakarta. Nemulah, kawasan Bulungan. Banyak sekali jajanan dan jualan berbuka puasa di pinggir jalan. Eko, Yon dan mBah Coco ngobrol sebelum buka puasa, hingga kira-kira 3 jam lamanya.

Sebelum bertemu dengan Eko Rachmanto, mBah Coco sempet nanya ke Yon Moeis, apa agenda ketemuannya? Yon Moeis pun, nggak bisa menjawab. Yang kita ketahui, Eko Rachmanto itu, dari kecil sekolah bareng Iwan Budianto, di kota Malang.

Setelah ngobrol, soal situasi sepak bola saat itu. Baik, perseteruan Iwan Bule dan Cucu Somantri, soal Ratu Tisha, soal Piala Dunia, soal semua yang terkait dengan sepakbola. Termasuk soal kondisi terkini Joko Driyono. Saking nikmatnya ngobrol bola, tak terasa sudah pukul delapan, siap-siap pulang.

Eko Rachmanto, coba buru-buru ke mobilnya, untuk ngambil sesuatu. Yang ternyata, amplop berisi uang. Maaf nggak perlu disebut jumlahnya. Ntar pada minta uang denger. Eko hanya pesen singkat, “Ini untuk THR.”. Padahal, mBah Coco kafir….heheheheh !

Sambil nyeletuk, “Ko, iki duwite soko NDB, Ibul opo IB? Tanya mBah Coco. Jawaban Eko Rachmanto, sambil senyum-senyum, “Dari salah satunya, mas,” jawab Eko. Tapi, ada yang sangat berkesan, sebelum berpisah di Taman Bulungan, Jakarta Selatan malam itu.

“Mas Yon dan mas Toro, habis puasa, berdua gajian di PSSI,” demikian ucapan Eko, samar-samar lirih. Dari hasil pesan Eko tersebut, semuanya bertiga ketawa-letawa ngekek. “Ya silahkan diatur, kalau PSSI masih mikirin gue dan Yon, dapat gaji bulanan,” demikian jawaban mBah Coco.

Di dalam mobil, mBah Coco dan Yon Moeis, saling menebak. Mengapa PSSI mau memberi gaji bulanan? Mengapa mereka merasa takut dengan kedua jurnalis “bodrex” ini? Apa motivasi PSSI merayu berdua, agar mau gajian? Semuanya tidak terjawab, sampai hari ini. Padahal, sejak 1999, mBah Coco sudah tak pernah berpikir dapat gaji. EEEEEeeeeee, tahun 2020, ditawari gajian. Busyetttt daghhhhhh !!!

Ilustrasi (foto.Ist)

Ilustrasi (foto.Ist)

KESIMPULANNYA

Pesan mBah Coco, terhadap surat terbuka, kepada Iwan Bule. Mulai besok-besok, nggak usah “baperan” lagi, jangan kuping panas lagi. Lembaga yang dipimpin di PSSI itu, dasar dan filosofnya, sebagai olahragawan. Artinya, wajib bersikap sportif, fair play dan respect.

Dulu Kardono, Azwar Anas, Agum Gumelar, juga merasa benci, “baperan” dan kuping tipis, setiap dikritik secara kejam, sadis dan membabi-buta oleh “Kuli Tinta Senayan”. Tapi, ketika bertemu dan berdiskusi, semua cair, berteman dan guyon.

Sesuai judul di atas, bahwa mBah Coco dituduh dan isunya mau kudeta. Itu jauh dari pemikiran, kelakuan serta taktik strategi mBah Coco. Saat mengumpulkan para legenda sepak bola nasional. mBah Coco itu takdirnya, pekerjaan tetapnya mengarang, mencetak ide, gagasan, aplikasi dan eksekusi. Hobinya, nulis bola, musik dan politik.

Jika para pembisik, seperti Nigara, Akmal, Muchlis, Alief,  serta Eddy Sofyan ditambah Umuh Mochtar, mau dan mengerti serta paham sebuah organisasi. Paham cara-cara berorganisasi. Dan, berpengalaman di dunia politik sepak bola nasional. Harusnya, bisa menjelaskan dan memberi saran yang baik kepada Iwan Bule.

Namun, ternyata, mereka-mereka itu hanya pecudang, tak pantas jadi berteman dengan Iwan Bule, sebagai pembisik. Saran mBah Coco, buang saja mereka jauh-jauh !!!

Bayangkan, mBah Coco, tak punya duwit. Tak punya kekuatan dan kekuasaan. Tak punya kenalan pemilik voters anggota PSSI, kecuali Iwan Budianto dan Yoyok Sukawi dari Liga 1. Serta Gede Widiade, Presiden Persiba Balikpapan dan Mimi Alqamar, CEO Persis Solo, dari Liga 2.

Pertanyaannya, darimana kekuatan mBah Coco, bisa membeli suara-suara klub?  Mana mungkin, mBah Coco bisa membius para pemilik suara?  Dan, ngapain mBah Coco kudeta Iwan Bule? Emang mBah Coco haus kekuasaan, seperti para jurnalis veteran temennya Ibul?

Bahkan, mBah Coco, bukan presiden Republik Indonesia, yang bisa kapan saja membekukan PSSI, seperti tahun 2015. Darimana alasan, bahwa mBah Coco punya kekuatan untuk mengkudeta “kursi panas” Iwan Bule?

Sepertinya, para pembisik Iwan bule. Terkait dengan judul dan cerita di atas. Maka, menurut mBah Coco,  mereka adalah adalah manusia-manusia kerdil, busuk dan bau amis. Yang mengeherankan mBah Coco, mengapa Iwan Bule, kok mau berteman dengan para gendruwo?

Pesan terakhir mBah Coco, untuk surat terbuka Iwan Bule.

Yang bisa mengkudeta Iwan Bule, kapan saja dan dimana saja itu. Ada tujuh (7) anggota gank kartel, di dalam tubuh EXCO PSSI dari 15 anggotanya. Yaitu, Iwan Budianto, Pieter Tanuri, Haruna Sumitro, Dirk Soplanit, Yoyok Sukawi, Hasnuryadi Sulaeman, dan Vivien Cahyani. Mereka amat sangat mudah “mengubur” Iwan Bule, kapan saja.

Gank kartel itu, caranya cukup membeli satu suara lagi, dari delapan anggota EXCO PSSI lainnya. Maka, rapat EXCO PSSI, langsung bisa ,menurunkan Iwan Bule, dari “kursi panas” PSSI.

Diibaratkan mBah Coco, pilot pesawat yang dikemudikan Iwan Bule. Saat ini, mesinnya mati satu. Posisinya masih jauh dari landasan. Kondisinya, oleng kiri-kanan, dan entah kecebur dasar laut…berantakan, atau mampu mendarat mulus?

Oleh sebab itu, dari hati yang paling dalam dari mBah Coco. Jika, ada kata-kata yang menyakitkan, sadis dan sangat menjengkalkan dari artikel mBah Coco, yang selalu dibaca Iwan bule. Mohon maaf,……karena dari sononya, karakter mBah Coco itu selalu “syelon”, tak butuh diback-up oleh siapa pun. Dan, nggak butuh dilindungi.

Karena, Anda sudah terlanjur disekelilingi oleh kartel, mafioso, dan jurnalis veteran yang busuk, serta bau amis banget. Silahkan merenung nanti malam. Dan, kemudian putuskan…..

Salam hangat buat keluarga pak ketum. Jangan lupa selalu sehat, dan bahagia !!!

Komentar
Artikel ini telah dibaca 24 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Pasutri Asal Balaikarangan Jual Narkoba di Pontianak, Dibekuk Polisi

29 November 2021 - 20:56 WIB

Propam Polres Situbondo, Akan Lakukan Penyelidikan Mobil Patroli Tabrak Bocah 7 Tahun 

29 November 2021 - 16:07 WIB

Polda Banten akan Gelar Swab Test di Pos Pengamanan Nataru

29 November 2021 - 13:40 WIB

Kemenkes: Penerapan PPKM Level III untuk Lindungi Masyarakat dari Ancaman Gelombang Ketiga

29 November 2021 - 12:42 WIB

Antisipasi Varian Baru Omicron Masuk, Pemerintah Perketat Pintu Masuk Internasional

29 November 2021 - 12:25 WIB

Putra Almarhum Arifin Ilham Muhammad Ameer Meninggal Dunia

29 November 2021 - 11:00 WIB

Trending di Nasional