Site icon Reportase News

Tiga tewas dalam wabah Ebola baru di Kongo

Virus Ebola meletup kembali di Kongo

Kongo, reportasenews.com – Wabah Ebola pertama meletup kembali sejak krisis di Afrika Barat yang menewaskan 11.300 orang telah dinyatakan muncul di timur laut Republik Demokratik Kongo, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada hari Jumat, setelah virus tersebut menyebabkan tiga kematian di daerah tersebut.

Dalam sebuah pidato di televisi, Menteri Kesehatan Oly Ilunga membenarkan kasus tersebut sambil mendesak penduduk “tidak panik”.

Negara “telah mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk merespon dengan cepat dan efisien terhadap wabah baru ini,” katanya.

Tim spesialis menuju ke daerah tersebut dan berharap bisa tiba dalam waktu 48 jam. Wabah di Kongo adalah yang pertama ada dalam tiga tahun. Ketiga kematian tersebut semuanya terjadi sejak 22 April.

WHO mengatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan pemerintah Kongo untuk membantu petugas kesehatan dan peralatan pelindung di wilayah tersebut, yang sulit dilakukan oleh tim karena “berada dalam zona yang sangat terpencil, sangat berhutan,” untuk “mengendalikan dengan cepat Wabah.”

Organisasi tersebut menggarisbawahi pentingnya menelusuri orang-orang yang memiliki kontak dengan korban yang telah dikonfirmasi untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Penderita disarankan untuk tetap mengisolasi diri saat menunggu pengobatan untuk penyakit yang masa inkubasinya 21 hari.

WHO mengatakan wabah tersebut, yang kedelapan sampai saat ini di Kongo, telah mempengaruhi wilayah hutan khatulistiwa yang sulit diakses di Propinsi Bas-Uele, yang berbatasan dengan Republik Afrika Tengah.

Contoh terakhir Ebola di Kongo pada 2014 berlangsung selama tiga bulan. Dengan tidak ada kaitannya dengan wabah di negara-negara tetangga pada saat itu, wabah tersebut dengan cepat terkontaminasi namun masih membunuh 49 orang menurut data resmi. Pada tahun 2013, sebuah krisis Ebola dimulai di Guinea, Sierra Leone dan Liberia.

Liberia adalah yang terakhir dari negara-negara tersebut dinyatakan jelas pada bulan Januari 2016. Wabah Kongo telah berada di daerah yang tidak terkait dengan kasus Afrika Barat.
Pekan lalu, WHO mengatakan hampir 12.000 orang telah berpartisipasi dalam percobaan vaksin ground-breaking yang diselenggarakan di ibukota Guinea Conakry sampai Januari tahun lalu.

Hasil akhir dari uji coba yang dipublikasikan di The Lancet yang dirilis pada bulan Desember lalu menunjukkan bahwa vaksin eksperimental tersebut menawarkan perlindungan terhadap virus tersebut dan akan membantu untuk menunjang respons awal terhadap wabah di masa depan. Vaksin tersebut kini sedang menunggu izin perizinan formal. (Hsg)

Exit mobile version