Site icon Reportase News

Tingginya Fragmentasi Habitat, Penetapan Kawasan Ekosistem Esensial Menjadi Sangat Penting

Seminar semiloka perlindungan Biodiversitas dan Ekosistem. (foto:das)

Pontianak, reportaseneews.com – Produksi minyak kelapa sawit, masih menjadi komoditas penting penghasil devisa yang saat ini kisaran produksinya mencapai 2,9 juta ton dan salahsatu penyumbangnya adalah perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat yang mencapai luas 1,5 juta hektar atau sekitar 10 persen luas perkebunan kelapa sawit  nasional yang mencapai 14,03 hektar.

Untuk menjaga ekosistem hutan dan produksi perkebunan kelapa sawit yang berkesinambungan, maka perlindungan biodiversitas dan ekosistem esensial yang berada di luar Kawasan konservasi menjadi salahsatu upaya penting untuk menjaga konektivitas koridor dan keutuhan habitat yang terfragmentasi akibat pemanfaatan tata ruang untuk perkebunan kelapa sawit.

“Ada nilai yang lebih penting, tidak sekedar menginventarisir dari biodiversity yang ada, tetapi bagaimana di wilayah di luar Kawasan hutan, seperti areal penggunaan lain atau wilayah perkebunan namun ada Kawasan hutan yang masih terjaga, maka perlunya melihat dan menetapkan Kawasan ini dengan wilayah hutan sebagai koridor penyelamatan satwa serta koridor masyarakat menjaga sistem lingkungan yang dapat bermanfaat bagi masyarakat atau satwa tertentu untuk menjaga kelestarian satwa termasuk kelangsungan hidup masyarakat,” kata dekan Fakultas Kehutanan Gusti Hardianysah, dalam semiloka Perlindungan Biodiversitas dan Ekosistem Penting  Lanskap Fragmentasi Kalimantan Barat, Selasa (8/5).

Fragmentasi habitat atau lanskap selama ini telah menyebabkan berkurangnya jumlah atau luasan hutan, terputusnya alur migrasi dan penyebaran jenis yang merupakan proses penting dalam mempertahankan populasi dan keberadaan jenis.

Hasil studi menyebutkan sekitar 80 persen biodiversitas yang  bernilai penting dan 60 persen populasi satwa di lindungi di Kalimantan Barat berada di luar Kawasan konservasi seperti di hutan produksi atau perkebunan kelapa sawit.

“Menjadi sangat krusial Kawasan hutan ini menjadi pentng untuk diidentifikasi dan ditetapkan sebagai Kawasan ekositem esensial untuk menjaga fungsi ekologis dan fungsi lindungnya bagi biodiversitas di dalam ekosistem hutan,” jelas dia.

Di Kalimantan Barat, salahsatu model untuk pengembangan Kawasan ekosistem esensial yang telah ditetapkan menjadi areal indikatif seluas kurang lebih 1,9 juta hektar yang diperuntukan sebagai Kawasan ekosistem esensial.

“Di kabupaten Kapuas Hulu, salahsatu Kawasan ekosistem esensial ini adalah Labian Leboyan yang menjadi Kawasan strategis kabupaten karena menghubungkan dua taman nasional yakni Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman Nasional Betung Kerihun yang merupakan koridor lanskap orangutan,” terang Kepala Bappeda Kabupaten Kapuas Hulu, Indra Kumala.

Indra mengatakan pihaknya mendorong penetapan Kawasan ekosistem esensial sehingga menjadi penting untuk kelangsungan hidup masyarakat sekaligus menjadi nilai konservasi yang menghubungkan konektivitas antar areal sebagai tambahan insentif jasa lingkungan bagi kabupaten.

Dalam beberapa tahun terakhir, CIFOR melakukan penelitian tentang biodiversitas di berbagai lanskap di Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Kapuas Hulu. Penelitian ini telah menghasilkan data biodiversitas berupa komposisi pohon, burung, fauna, dan tanah di berbagai lanskap seperti hutan alam, hutan sekunder, kebun campuran, agroforestry, lading berpindah dan perkebunan kelapa sawit. (das)

Exit mobile version