Menu

Mode Gelap

Feature · 29 Okt 2016 16:31 WIB ·

Topeng untuk Berekspresi, Bukan untuk Menutup Diri


					Topeng-topeng  yang dipamerkan di Festival Topeng Internasional di Solo / foto. Elias Widhi Perbesar

Topeng-topeng yang dipamerkan di Festival Topeng Internasional di Solo / foto. Elias Widhi

SOLO, REPORTASE – Selama ini, topeng sering dikaitkan dengan kepalsuan. Seringai dan tatapannya kerap dianggap sebagai usaha keras sang pemakai untuk memalsukan guratan wajah aslinya. Itu tak salah, karena topeng memang menyimpan misteri. Misteri tentang kesedihan, kegembiraan, kegundahan, dan berbagai ekspresi lain yang menghiasi hidup manusia.

Misteri ekspresi inilah yang hendak diungkapkan dalam Festival Topeng Internasional, yang dimulai Jumat (28/10), di Pendapa Prangwedanan Mangkunegaran, Solo.

Beberapa seniman tari topeng dari Indonesia dan mancanegara turut tampil memeriahkan acara yang dijadwalkan akan diadakan hingga Sabtu (29/10) ini. Beberapa di antaranya adalah Didik Nini Thowok dari Yogyakarta, Wangi Indriya dari Indramayu, penari Suku Wahea dari Kalimantan Timur, Yang Yani dari Tiongkok, serta beberapa seniman dari Jepang dan Hongaria.

Para penari topeng Suku Wahea, Kalimantan Timur, tampil di pembukaan Festival Topeng Internasional Solo / foto Elias Widhi

Para penari topeng Suku Wahea, Kalimantan Timur, tampil di pembukaan Festival Topeng Internasional Solo / foto Elias Widhi.

Selain pertunjukan, festival ini juga diisi dengan bengkel kerja tentang topeng dan pameran topeng. Di sini, pengunjung akan disuguhi edukasi tentang topeng dan beragam fungsinya, mulai dari karya seni hingga topeng sihir.

Panitia, dalam siaran persnya (28/10), menyebut, acara ini juga bertujuan menunjukkan keberagaman budaya Indonesia dalam berbagai bentuk topeng, sehingga terwujud sikap saling menghormati dan menghargai.

Rob Wagner, 30 tahun, wisatawan dari Australia, mengaku menikmati dan mengagumi beragam wujud topeng yang ada. Katanya, ini pertama kalinya dia melihat langsung topeng-topeng Indonesia ditampilkan dalam tarian.

Antusiasme warga lokal, yang didominasi kaum muda, dalam menyaksikan berbagai jenis pertunjukan dan topeng tradisional ini menunjukkan bahwa budaya lokal belum habis. Mereka tampak penasaran dengan berbagai wujud topeng yang juga turut dipamerkan, di antaranya topeng dari Solo dan Malang, serta berfoto mandiri, alias “selfie” bersama para penari topeng Suku Wahea dan Hongaria.

Mungkin, mereka melihat bahwa di sini, topeng bukanlah media untuk menutup diri, tetapi menjadi media untuk mengekspresikan diri. (EW)

 

Komentar

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Masa Jabatan Kades Jadi 8 Tahun, Apdesi Situbondo Gelar Syukuran

13 Juli 2024 - 16:23 WIB

Keroyok Seorang Perempuan, Bapak dan Anak di Situbondo Dipolisikan

12 Juli 2024 - 22:10 WIB

Bawa Sajam Saat Konvoi, Puluhan Anggota PSHT Diamankan

12 Juli 2024 - 17:16 WIB

Warga Usir Truck Tangki Bermuatan Limbah

12 Juli 2024 - 17:11 WIB

Andri Tedjadharma : Bukan Centris Pengemplang BLBI tapi Bank Indonesia Mengemplang Centris !!!

11 Juli 2024 - 20:48 WIB

Gerebek Rumah Warga, Tim Opsnal Polres Situbondo Amankan 348 Botol Miras

11 Juli 2024 - 20:47 WIB

Trending di Daerah