Aktivitas Tambang Emas Ilegal di Hutabargot Masih Masif
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Madina, ReportaseNews – Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Kilometer 2, Desa Hutabargot Nauli, Kecamatan Hutabargot, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), hingga kini masih terus berlangsung secara masif.
Meski telah berulang kali memakan korban jiwa akibat tertimbun longsor dan sering dirazia oleh tim gabungan Polres serta TNI, para penambang seolah tidak gentar dan terus mengoperasikan lahan yang telah rusak secara lingkungan tersebut.
Para pemilik lahan masih memberikan izin kepada penmabang untuk melakukan aktivitas berisiko tinggi ini. Sejumlah nama pemilik lahan yang cukup dikenal masyarakat seperti K, I, dan Ko. Sementara para taukenya berinisial N, F, S, dan lainnya.
Berdasarkan hasil penelusuran awak media di lapangan, warga menyebutkan salah satu pemilik lahan di lokasi tambnag emas ilegal berinisial K alias Kilam.
“Kalau pemilik lahan tambang di Kilometer 2 itu namanya Kilam, Pak. Gelundungnya (mesin penggiling batuan emas) sudah banyak sekarang, ada ratusan itu,” ujar seorang warga Desa Hutabargot Nauli yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Atas temuan tersebut, Aparat Penegak Hukum (APH) didesak segera menyelidiki keterlibatan Kilam yang diduga menjadi dalang di balik masifnya penambangan ilegal di kawasan tersebut agar hukum tidak terkesan diam dan membiarkan kerusakan terus berlanjut.
Pantauan di lokasi baru-baru ini menunjukkan ratusan pekerja masih memadati area tambang. Sebagian besar dari mereka terlihat sedang sibuk memperkuat struktur lubang tambang dengan memasang tiang penyangga atau ram pada dinding dan atap lubang yang kedalamannya mencapai 50 meter.
Cara itu dilakukan guna mengantisipasi longsor mengingat cuaca sering hujan lebat mengguyur wilayah perbukitan Hutabargot.
Salah seorang penambang menjelaskan aktivitas penggalian batuan akan normal setelah faktor keamanan lubang dirasa cukup memadai. “Kalau ram sudah selesai dibuat dan situasinya diperkirakan sudah aman, penambangan akan dilanjutkan,” ungkapnya.
Namun, di tengah risiko longsor yang menghantui, muncul persoalan baru yang meresahkan para pekerja. Sejumlah penambang mengaku mencium aroma busuk yang sangat menyengat dari dalam lubang tambang di perbukitan Kilo 2 tersebut. Bau yang belum diketahui asalnya ini diduga bersumber dari salah satu lubang milik tauke tambang di kawasan tersebut.
“Tadi malam kami kerja di lubang, kami mulai mencium bau busuk yang menyengat,” katanya. (RN-01/03)
- Penulis: Saparuddin Siregar


Saat ini belum ada komentar