Biadab! Serangan Drone Israel Tewaskan Ayah dan Anak di Gaza
- calendar_month 8 menit yang lalu
- print Cetak

Serangan drone Israel di Khan Younis menewaskan ayah dan anak. Kekerasan di Gaza dan Tepi Barat terus meningkat meski ada gencatan senjata. (Getty Images)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Gaza, ReportaseNews – Seorang ayah dan anak perempuannya dilaporkan tewas akibat serangan drone Israel di wilayah Khan Younis, Gaza selatan, pada Sabtu (8/3/2026) dini hari.
Dilansir dari Al-Jazeera, Sabtu (7/3/2026), serangan tersebut terjadi di wilayah Gaza bagian tengah Khan Younis ketika warga sipil masih berada di area permukiman. Kedua korban meninggal di lokasi kejadian.
Beberapa jam setelah serangan pertama, serangan lain kembali terjadi di wilayah yang sama. Dalam insiden itu, satu orang dilaporkan tewas dan seorang anak perempuan mengalami luka-luka.
Serangan udara Israel ke Jalur Gaza dilaporkan masih berlangsung hampir setiap hari. Operasi militer tersebut mencakup pemboman udara, tembakan artileri, hingga serangan dari kapal perang di perairan Gaza.
Situasi kemanusiaan di Gaza dan wilayah Tepi Barat dilaporkan semakin memburuk, terlebih ketika perhatian internasional saat ini lebih banyak tertuju pada konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Kementerian Kesehatan Palestina menyebutkan dalam 48 jam terakhir sedikitnya dua orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan militer.
Selain serangan udara, kelompok milisi yang berafiliasi dengan militer Israel juga dilaporkan bergerak ke arah timur Kota Gaza. Warga setempat melaporkan adanya tembakan senjata berat di kawasan tersebut. Laporan awal juga menyebut seorang anggota polisi Palestina diduga diculik.
Pesawat tempur Israel juga dilaporkan menyerang sejumlah lokasi di timur lingkungan Tuffah, dekat Kota Gaza. Pada saat bersamaan, kapal angkatan laut Israel menembakkan senapan mesin berat dan peluru artileri ke arah pesisir kota.
Sementara itu, perlintasan perbatasan Rafah hingga kini masih ditutup. Israel menutup jalur tersebut di tengah meningkatnya serangan yang berkaitan dengan konflik dengan Iran.
Padahal, perlintasan Rafah di perbatasan selatan Gaza baru dibuka kembali bulan lalu secara terbatas. Jalur tersebut sebelumnya memungkinkan sejumlah warga Palestina keluar untuk mendapatkan perawatan medis mendesak.
Namun hingga kini, ribuan warga dilaporkan masih tertahan dan belum bisa meninggalkan Gaza untuk menjalani pengobatan.
Di sisi lain, perlintasan Karem Abu Salem—yang oleh Israel dikenal sebagai Kerem Shalom—hanya dibuka sebagian untuk masuknya bantuan kemanusiaan dengan pembatasan ketat.
Lebih dari dua juta penduduk Gaza sebagian besar telah mengungsi sejak perang pecah pada Oktober 2023. Wilayah tersebut kini sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Dalam laporan Februari lalu, Human Rights Watch menyebut pembatasan yang diberlakukan Israel menyebabkan kekurangan obat-obatan, bahan pembangunan kembali, makanan, dan air di Gaza.
Sejak gencatan senjata diumumkan, Kementerian Kesehatan Palestina mencatat sedikitnya 640 warga Palestina tewas dan lebih dari 1.700 orang terluka.
Secara keseluruhan, sejak Oktober 2023 setidaknya 72.123 warga Palestina dilaporkan tewas dan 171.805 lainnya mengalami luka-luka.
Kekerasan juga terjadi di wilayah Tepi Barat. Palang Merah Palestina melaporkan tim medis mereka menangani seorang warga Palestina yang terluka akibat tembakan peluru tajam di dekat permukiman ilegal Karmei Tzur, di utara Hebron.
Selain itu, tiga warga Palestina dilaporkan mengalami luka-luka setelah diserang oleh pemukim Israel di wilayah Ras al-Ahmar, selatan Tubas.
Sumber medis dari Palang Merah Palestina mengatakan, “Tim kami menangani tiga orang yang mengalami luka akibat penyerangan fisik,” kepada Al-Jazeera.
Militer Israel juga dilaporkan melakukan penggerebekan di kota Qaffin dan Kafr al-Labad, di utara Tulkarem, pada Sabtu dini hari.
Insiden lain terjadi di dekat desa Azmut, timur Kota Nablus, ketika seorang warga Palestina dilaporkan terluka setelah dipukuli oleh tentara Israel.
Sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023, kekerasan militer dan serangan pemukim Israel di wilayah Tepi Barat meningkat tajam.
Data terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat sedikitnya 1.094 warga Palestina tewas akibat tindakan militer Israel dan pemukim sejak Oktober 2023. (RN-07)
- Penulis: Tama



Saat ini belum ada komentar