KAI Rawat Tradisi Pelayanan di Kereta, dari Restorka hingga Prama-Prami
- calendar_month 23 menit yang lalu
- print Cetak

Sejarah pelayanan KAI di dalam kereta bermula sejak era 1930-an. Dari Restorka, pelayan restorasi, hingga prama-prami dan kereta makan modern. (Foto: ReportaseNews/Tama)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Pelayanan makanan dan minuman di dalam kereta api telah menjadi bagian dari perjalanan perkeretaapian Indonesia selama hampir satu abad. Berawal dari kebutuhan sederhana penumpang yang menempuh perjalanan antarkota selama berjam-jam, layanan tersebut terus berkembang mengikuti perubahan sarana, organisasi, hingga pola pelayanan kepada pelanggan.
Catatan sejarah resmi KAI Services menyebut restoran kereta api mulai dibentuk pada rentang 1930-an, ketika Pemerintah Hindia Belanda menyediakan layanan makan dan minum bagi pelanggan selama perjalanan. Pada masa itu, pelayanan berpusat pada kereta restorasi atau kereta makan dengan petugas yang dikenal sebagai pelayan restorasi.
Seiring perkembangan perjalanan kereta api, pelayanan kemudian semakin dekat dengan pelanggan di sepanjang rangkaian.

Sejarah pelayanan KAI di dalam kereta bermula sejak era 1930-an. Dari Restorka, pelayan restorasi, hingga prama-prami dan kereta makan modern. (Dok. KAI)
Dari perubahan tersebut, profesi pramugara dan pramugari kereta api berkembang hingga kini dikenal dengan istilah prama dan prami.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan perkembangan pelayanan berjalan beriringan dengan perubahan kereta api dan kebutuhan masyarakat.
“Pelayanan di dalam kereta memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Bermula dari kebutuhan menyediakan makanan dan minuman selama perjalanan, bentuk pelayanan terus berkembang bersama perubahan sarana dan kebutuhan pelanggan. Kereta makan serta petugas yang melayani pelanggan menjadi bagian dari pengalaman perjalanan dari generasi ke generasi,” ujar Anne, dalam keterangannya seperti dikutip, Selasa (29/9/2026).
Jejak Restorka dan Menu Legendaris
Pengelolaan pelayanan restorasi kemudian semakin terstruktur pada era Perusahaan Jawatan Kereta Api atau PJKA. KAI mencatat perubahan kelembagaan perkeretaapian dari Perusahaan Nasional Kereta Api atau PNKA pada 1963 menjadi PJKA pada 1971.
Pada periode tersebut, RESTORKA tercatat menjadi bagian dari lingkungan PJKA dan berkantor di Jalan Stasiun Timur Nomor 6 Bandung. Salah satu minuman yang dikenal pada masa awal RESTORKA adalah Es Siripit.
Berdasarkan Surat Keputusan Direksi PJKA Nomor 4805/SK/72 tanggal 5 Desember 1972, RESTORKA kemudian ditempatkan sebagai unit khusus dalam struktur organisasi PJKA. Langkah tersebut menjadi bagian dari penataan pengelolaan restoran kereta api.
Periode RESTORKA juga meninggalkan sejumlah cerita kuliner yang melekat dalam perjalanan kereta api, salah satunya Nasi Goreng Parahyangan yang kemudian dikenal sebagai salah satu menu legendaris.

Pramugari KAI. (Foto: ReportaseNews/Tama)
“Kalau kita melihat perjalanan tersebut, makanan ternyata mempunyai tempat tersendiri dalam sejarah kereta api. Ada pelanggan yang mengingat perjalanan melalui keretanya, pemandangan yang dilewati, hingga makanan yang dinikmati selama berada di atas kereta. Pengalaman-pengalaman seperti inilah yang ikut membentuk memori perjalanan dari masa ke masa,” kata Anne.
Perubahan tidak hanya terjadi pada organisasi dan menu, tetapi juga pada petugas yang berinteraksi langsung dengan pelanggan. Jika pada masa awal pelayanan berpusat pada kereta restorasi, pramugara dan pramugari kemudian hadir lebih dekat dengan pelanggan hingga istilah prama dan prami semakin dikenal.
Penampilan petugas pun berubah mengikuti perkembangan identitas perusahaan dan standar pelayanan. Dokumentasi perkeretaapian menunjukkan perubahan seragam seiring perjalanan kelembagaan dari PJKA, Perumka, PT Kereta Api hingga KAI.
Pada momentum tertentu, unsur budaya Indonesia juga turut ditampilkan. Dalam peringatan Hari Batik Nasional 2025, misalnya, prama-prami KAI Services mengenakan batik karya Anne Avantie dengan motif Sawunggaling dan Truntum.

Pramugari KAI dengan model baju batik karya Anne Avantie. (Foto: ReportaseNews/Tama)
Kereta Makan Beradaptasi dengan Zaman
Hampir satu abad sejak layanan restoran kereta api mulai dikenal, kereta makan masih menjadi bagian dari perjalanan kereta api jarak jauh.
Namun, sarana yang digunakan pelanggan saat ini berasal dari berbagai generasi. KAI masih mengoperasikan kereta makan eksisting, melakukan modifikasi terhadap sarana yang masih laik, serta menerima kereta makan baru secara bertahap.
Salah satu modernisasi dilakukan melalui kemampuan internal KAI di Balai Yasa Tegal. Sepanjang 2024 hingga 2025, sebanyak 17 Kereta Makan M1 selesai dimodifikasi. Rinciannya, empat unit pada 2024 dan 13 unit pada 2025.
Program tersebut berlanjut pada 2026 dengan 10 Kereta Makan M1 yang masuk dalam program modifikasi.
Pekerjaan meliputi pemeriksaan rangka dasar, sistem roda, pengereman dan kelistrikan, hingga peningkatan pencahayaan, tata ruang serta fasilitas pelanggan. Setelah proses tersebut, setiap sarana menjalani pemeriksaan kualitas dan pengujian fungsi sebelum kembali dioperasikan.
Kereta makan hasil modifikasi juga telah digunakan dalam perjalanan di luar Jawa. Salah satunya pada KA Sindang Marga relasi Kertapati–Lubuklinggau pulang-pergi di Sumatera Selatan.
“Modernisasi tidak selalu berarti mengganti sarana lama dengan yang baru. KAI juga meningkatkan sarana yang masih laik melalui program modifikasi. Dengan demikian, peningkatan kualitas pelayanan dapat dilakukan melalui regenerasi sarana baru sekaligus optimalisasi kereta eksisting,” ujar Anne.
Regenerasi juga dilakukan melalui pengadaan kereta baru produksi PT INKA. Dalam kontrak pengadaan 612 kereta periode 2023–2027, terdapat 57 kereta makan, selain 297 kereta eksekutif, 199 kereta ekonomi, 57 kereta pembangkit, dan dua kereta bagasi.
Jumlah 57 kereta makan tersebut merupakan komposisi dalam kontrak pengadaan dan tidak menunjukkan jumlah keseluruhan kereta makan KAI maupun jumlah unit baru yang telah beroperasi. Produksi, serah terima, dan pengoperasiannya berlangsung secara bertahap.
Kereta makan baru mulai hadir dalam sejumlah rangkaian Stainless Steel New Generation. Sarana tersebut melengkapi kereta makan generasi sebelumnya dan kereta makan hasil modifikasi yang masih digunakan.

Pramugari KAI. (Foto: ReportaseNews/Tama)
“Setiap generasi sarana mempunyai perjalanan sendiri. Saat ini kereta makan lama yang masih andal, kereta hasil modifikasi, serta kereta baru dapat berada dalam ekosistem operasi yang sama. Regenerasi kami lakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan keselamatan, keandalan, dan kenyamanan pelanggan,” kata Anne.
Dari Kereta Makan ke Pelayanan Langsung
Perubahan juga terlihat pada pilihan makanan dan cara pelanggan mendapatkannya. Saat ini layanan konsumsi dikelola KAI Services melalui Kuliner Kereta dengan beragam menu, antara lain Nasi Goreng Parahyangan Legend, Nasi Sei Sapi, dan Nasi Sapi Lada Hitam, serta berbagai makanan ringan dan minuman.
Pilihan konsumsi juga dapat disesuaikan dengan momentum perjalanan. Selama Ramadan 2026, misalnya, tersedia Buko Pandan, Bubur Kacang Hijau, Kolak Pisang, kurma, dan gorengan.
Pelanggan tidak selalu harus mendatangi kereta makan. Prama dan prami juga melayani kebutuhan makanan dan minuman di sepanjang rangkaian.
Perubahan tersebut menunjukkan pergeseran pola pelayanan dari masa ketika pelanggan mendatangi kereta restorasi menuju layanan yang kini dapat hadir langsung di dekat tempat duduk pelanggan. Sementara itu, kereta makan tetap berfungsi sebagai ruang untuk menyiapkan, menyajikan, sekaligus menikmati makanan dan minuman selama perjalanan.
Fungsi kereta makan juga berkembang menjadi ruang interaksi. Pada kesempatan tertentu, ruang tersebut dapat digunakan pelanggan untuk berbincang dan menikmati suasana perjalanan yang berbeda dari tempat duduk reguler. KAI Services juga pernah menghadirkan aktivasi tematik dengan penyesuaian dekorasi dan busana petugas pada momentum tertentu.
Menurut Anne, perubahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang pelayanan kereta api yang terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Pramugari KAI. (Foto: ReportaseNews/Tama)
“Banyak hal telah berubah. Sarana semakin modern, seragam petugas berkembang, pilihan makanan semakin beragam, dan cara pelanggan mendapatkan pelayanan juga semakin mudah. Namun, ada satu benang yang tetap sama sejak puluhan tahun lalu, yaitu menghadirkan pelayanan selama pelanggan menjalani perjalanan dengan kereta api,” ujar Anne.
Ia mengatakan sejarah pelayanan di dalam kereta juga memperlihatkan sisi manusia di balik perkembangan teknologi dan sarana perkeretaapian.
“Ketika membicarakan sejarah kereta api, kita sering mengingat lokomotif, stasiun, atau jalurnya. Padahal, di dalam setiap rangkaian juga terdapat orang-orang yang selama puluhan tahun melayani perjalanan pelanggan. Dari pelayan restorasi pada masa lalu hingga prama-prami hari ini, mereka menjadi bagian dari cerita panjang pelayanan kereta api Indonesia,” tutup Anne.
(RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar