Arak Ketupat Syawalan Durendampit Hidupkan Tradisi Kebersamaan
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banyumas, ReportaseNews – Pagi itu, suasana Dusun Durendampit, Desa Ciberung, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terasa berbeda. Di bawah langit cerah, warga berbondong-bondong membawa ketupat dan aneka hidangan, berjalan bersama dalam arak-arakan yang sarat makna.
Tradisi Syawalan pun kembali digelar, menghadirkan kehangatan, syukur, dan kebersamaan yang begitu kental.
Perayaan yang dikenal sebagai Lebaran Ketupat ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian ibadah di bulan Syawal, setelah umat Muslim menunaikan puasa sunah enam hari. Di lingkungan RW 6, Mushola An-Nur menjadi pusat berkumpulnya warga dari berbagai usia dari tua, muda, hingga anak-anak yang larut dalam semangat kebersamaan.
Iring-iringan ketupat dan makanan yang dibawa dari rumah masing-masing bergerak perlahan dari pusat dusun menuju mushola. Di sepanjang jalan, tawa dan sapaan hangat mengalir, mencerminkan eratnya ikatan sosial yang telah terjalin lama di tengah masyarakat.
Setibanya di Mushola An-Nur, suasana berubah menjadi khidmat. Warga duduk bersila, mengikuti doa bersama dan tahlil yang dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan. Dalam setiap lantunan doa, terselip harapan akan keberkahan, keselamatan, dan persatuan.
Tokoh masyarakat setempat, Siswanto, menyebut tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud nyata menjaga warisan leluhur.
“Kegiatan ini adalah Syawalan atau Lebaran Ketupat setelah puasa enam hari di bulan Syawal. Kita berkumpul, doa bersama, tahlil, lalu makan bersama sebagai wujud syukur dan kebersamaan warga,” ungkapnya.
Usai doa, suasana kembali mencair. Warga saling berbagi hidangan yang telah disiapkan dari rumah. Ketupat, sayur, dan berbagai lauk tersaji, dinikmati bersama tanpa sekat. Momen makan bersama ini menjadi simbol kuatnya rasa kekeluargaan yang terus dijaga.
Lebih dari sekadar tradisi, Syawalan di Durendampit menjadi ruang untuk merawat nilai-nilai kehidupan—dari rasa syukur kepada Sang Pencipta hingga semangat gotong royong antarwarga. Di tengah arus modernisasi yang kian deras, tradisi ini berdiri sebagai pengingat akan pentingnya menjaga jati diri budaya.
Warga pun berharap, tradisi Syawalan tidak hanya menjadi kenangan, tetapi terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang—sebagai warisan yang tak lekang oleh waktu, sekaligus perekat harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. (Kus/RN-04)
- Penulis: Didik



Saat ini belum ada komentar