Sekolah Hancur, Anak-anak Gaza Tetap Belajar dari Buku yang Diselamatkan
- calendar_month 29 menit yang lalu
- print Cetak

Saad berhasil menyelamatkan sekitar 12 ribu buku. Koleksi tersebut kemudian dipindahkan ke Deir el-Balah, tempat ia mendirikan perpustakaan bernama Athar di sebuah tenda. (Al Jazeera/ Lina Ghassan Abu Zayed)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Gaza, ReportaseNews – Di tengah kehancuran akibat perang di Jalur Gaza, buku-buku yang tertimbun reruntuhan kembali menemukan pembacanya. Sejumlah warga Gaza berupaya menyelamatkan, membersihkan, dan memperbaiki buku dari bangunan yang hancur agar tetap dapat digunakan anak-anak untuk belajar.
Salah satunya dilakukan Mohammed Saad, warga Beit Lahiya yang telah mengoleksi buku selama lebih dari 35 tahun. Sebelum perang, Saad memperkirakan koleksinya mencapai 50 ribu hingga 100 ribu judul.
Perpustakaan miliknya hancur pada 7 Desember 2023. Setelah mengungsi sebanyak 16 kali, Saad kembali ke Beit Lahiya dan mencari buku-buku yang masih dapat diselamatkan dari reruntuhan rumahnya.
“Saya mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan buku-buku ini dari bawah reruntuhan,” kata Saad, seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (4/10/2026).
Saad berhasil menyelamatkan sekitar 12 ribu buku. Koleksi tersebut kemudian dipindahkan ke Deir el-Balah, tempat ia mendirikan perpustakaan bernama Athar di sebuah tenda.
Bersama putranya, Mohammed, ia membersihkan dan memperbaiki ribuan buku tersebut. Sebagian kemudian dijual dengan harga simbolis antara 5 hingga 15 shekel atau sekitar 1,63 hingga 4,89 dolar AS agar tetap dapat dijangkau masyarakat.
Bagi Saad, menyelamatkan buku bukan sekadar mempertahankan koleksi pribadi. Ia ingin buku-buku tersebut kembali dibaca, terutama oleh anak-anak Gaza yang kehilangan akses pendidikan akibat perang.
UNICEF mencatat sekitar 98 persen bangunan sekolah di Jalur Gaza mengalami kerusakan atau kehancuran. Sekitar 700 ribu anak di Gaza juga kehilangan akses terhadap pendidikan tatap muka secara rutin sejak perang dimulai pada Oktober 2023.
Kondisi tersebut membuat buku menjadi salah satu sarana penting bagi anak-anak untuk kembali terhubung dengan kegiatan belajar.
Upaya serupa dilakukan Omar Hamad (30), warga Beit Hanoon yang mengungsi. Ia bersama timnya menelusuri lokasi perpustakaan yang hancur di Gaza utara dan Gaza City, kemudian menghubungi para pemiliknya untuk menyelamatkan buku yang masih tersisa.
Hamad menyebut sekitar 3.000 buku telah berhasil mereka keluarkan dari reruntuhan. Sebagian lainnya berasal dari keluarga korban yang menyumbangkan koleksi pribadi, sementara sejumlah buku dibeli atau dicetak ulang.
Salah satu buku yang berhasil diselamatkan Hamad aadalah ‘The Catastrophe of Palestine’ yang dicetak pada 1956. Buku tersebut ditemukan di perpustakaan Islamic University of Gaza yang hancur dan tertutup reruntuhan.

Buku-buku yang selamat dari kehancuran Gaza dibersihkan dan diperbaiki untuk kembali dibaca anak-anak, sekaligus menjaga pengetahuan dan sejarah tetap hidup. (Al Jazeera/Lina Ghassan Abu Zayed)
Setelah dikeluarkan dari lokasi, buku-buku tersebut tidak langsung dapat digunakan. Hamad bersama rekannya, Ibrahim, membersihkan debu dan sisa reruntuhan, menyusun kembali halaman, serta memperbaiki bagian yang rusak.
Untuk buku yang membutuhkan penanganan lebih khusus, Hamad meminta bantuan Jameel Mikdad (71), yang telah bekerja di bidang penjilidan dan perbaikan buku selama lebih dari 45 tahun.
Mikdad juga kehilangan perpustakaan dan percetakannya akibat perang. Namun, dengan peralatan terbatas, ia tetap memperbaiki buku dengan menyusun kembali halaman, merekatkan bagian yang robek, menjahit, hingga menjilid ulang buku.
Kerusakan buku menjadi tantangan tersendiri karena harga bahan perbaikan melonjak. Mikdad mengatakan harga wadah lem putih seberat 3 kilogram yang sebelum perang hanya sekitar 30-35 shekel kini mencapai 450-500 shekel.
Perbaikan satu buku dapat memakan waktu dua hari hingga satu pekan, tergantung tingkat kerusakannya. Bahkan, biaya perbaikan terkadang lebih mahal dibandingkan nilai buku tersebut.
Tidak semua buku berhasil diselamatkan. Hamad mengatakan sejumlah buku mengalami kerusakan hingga 80 atau 90 persen sehingga tidak mungkin diperbaiki.
Sebagian buku yang rusak parah tetap mereka bawa karena dianggap memiliki nilai sejarah sebagai saksi kehancuran yang terjadi di Gaza.
“Kami membawanya agar tetap menjadi saksi atas kejahatan ini,” ujar Hamad.
Buku-buku yang masih dapat digunakan kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat. Di Perpustakaan Phoenix, misalnya, buku dipinjamkan kepada pembaca dengan sistem uang jaminan yang dapat dikembalikan.
Koleksinya mencakup sastra, kedokteran, hukum, sejarah, ekonomi, sains, hingga buku anak-anak dan buku khusus bagi pelajar.
Hamad juga menggelar sejumlah kegiatan untuk mengantarkan buku ke sekolah-sekolah agar kembali digunakan sesuai tujuan awalnya, yakni sebagai sarana membaca dan belajar.
Salah satu penerimanya adalah Aya al-Shawa, 10 tahun, siswi kelas enam di Gaza utara. Aya menerima novel ‘The Adventure of the Empty House’ karya Sir Arthur Conan Doyle.
Bagi Aya, buku tersebut menjadi salah satu cara untuk tetap belajar ketika sekolah-sekolah di Gaza masih berjuang menjalankan kembali kegiatan pendidikan, termasuk di ruang-ruang belajar yang didirikan dalam bentuk tenda.
Perjalanan buku itu menggambarkan upaya warga Gaza mempertahankan akses terhadap pengetahuan di tengah kehancuran. Buku yang semula berada di rak rumah atau perpustakaan, tertimbun reruntuhan, diselamatkan, dibersihkan, diperbaiki, lalu kembali berada di tangan seorang anak untuk dibaca.
Di tengah kerusakan fasilitas pendidikan dan budaya, penyelamatan buku menjadi bagian dari upaya mempertahankan pengetahuan sekaligus menjaga warisan literasi masyarakat Gaza tetap hidup.
(Al Jazeera/RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar