Amerika, reportasenews.com: Para pejabat senior pemerintah mengatakan teroris berupaya secara ‘agresif mengejar’ cara baru untuk melakukan serangan, seperti penyelundupan bahan peledak di barang-barang konsumen elektronik.

Pihak berwenang AS untuk sementara melarang wisatawan membawa gadget elektronik kedalam kabin pesawat pada penerbangan bepergian ke AS dari delapan negara Timur Tengah dan Afrika.

Pejabat Homeland Security, keamanan dalam negeri, mengkonfirmasi berita pada Senin, beberapa jam sebelum peraturan keamanan yang ditingkatkan akan mulai dijalankan pekan ini. Peraturan keamanan tersebut akan berlaku Jumat dini hari.

Peraturan baru akan mengharuskan penumpang untuk tidak membawa gadget elektronik apapun yang lebih besar dari telepon, diantaranya seperti kamera, gadget tablet dan ebooks, DVD player portabel, dan laptop, kedalam bagasi.

Peraturan keamanan ditingkatkan hanya akan berlaku untuk penumpang yang bepergian pada semua penerbangan menuju AS dari 10 bandara di delapan negara di Timur Tengah dan Afrika, termasuk Mesir, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Jadi memang hanya khusus penumpang pesawat dari negara mayoritas muslim yang menjadi target.

Di antara operator yang kena dampak larangan adalah Turkish Airlines, Qatar Airways, Emirates, dan Kuwait Airways, yang semuanya memberikan penerbangan langsung ke AS dari bandara yang namanya masuk dalam daftar.

Royal Jordanian Airlines juga disebutkan dalam list, mereka yang pertama memberitahukan kepada penumpang dari perubahan peraturan yang akan datang pada hari Senin. Dalam tweet yang kemudian dihapus, maskapai ini mengatakan mereka menerima arahan dari “departemen AS terkait,” kemudian dikonfirmasi sebagai unit Keamanan Dalam Negeri.

Sekitar 50 penerbangan per hari dari bandara yang ada dalam list akan dipengaruhi oleh aturan baru ini, dan akan berdampak kepada ribuan penumpang.

Pejabat senior pemerintah tidak mengungkapkan ancaman yang spesifik, namun mengatakan bahwa saat ini sedang berlangsung “evaluasi intelijen” menunjuk kelompok teroris yang agresif untuk melakukan serangan, seperti penyelundupan alat peledak di barang-barang konsumen elektronik.

Para pejabat tidak akan membahas “implikasi keamanan” menyimpan elektronik konsumen di kargo pesawat daripada dibawa masuk kedalam kabin pesawat.

Banyak pertanyaan di balik larangan elektronik yang tidak dijawab oleh pejabat. Seorang juru bicara untuk Homeland Security tidak menanggapi berbagai pertanyaan.

Masih belum jelas, atas dasar apa alasan ini 10 bandara yang dipilih dalam daftar itu, diluar inferensi jelas bahwa ancaman itu memang ada. Proses seleksi tidak terfokus pada satu lokasi atau negara, kata seorang pejabat, ia menambahkan bahwa pemerintah “menangani ancaman dan bagaimana hal itu disikapi kami.”

“Akan ada kerugian besar untuk penumpang yang menaruh gadget elektronik mereka di bagasi,” kata Jeffrey Price, seorang profesor di Metropolitan State University of Denver, menurut situs CBS News.

Dia menambahkan bahwa beberapa laptop “memiliki baterai yang dapat terbakar, dan ini lebih mudah untuk mendeteksi ketika laptop itu didalam kabin daripada terbakar didalam bagasi pesawat.”

Kekhawatiran serupa juga menyangkut safety pemakaian baterai lithium-ion yang dipakai sebagai standar dengan kebanyakan elektronik saat ini, bahwa gadget elektronik yang disimpan di kargo bisa menimbulkan risiko bagi keselamatan pesawat.

Federal Aviation Administration (FAA) memperingatkan tahun lalu dari potensi risiko kerugian pesawat terimbas bencana akibat kebakaran baterai lithium atau ledakan. (HSG)