Situbondo,reportasenews.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Situbondo, Jawa Timur, memanfaatkan areal tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Kota Situbondo, untuk melakukan budi daya cacing tanah. Pasalnya, cacing tanah memiliki nilai ekonomi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Situbondo Kholil mengatakan, selain dapat  menghasilkan gas metan  yang digunakan sebagai pengganti  LPG oleh 10 keluarga di sekitar TPA.”Namun, dari sampah pasar yang sudah mulai  membusuk tersebut, kami juga  manfaatkan sebagai pakan cacing tanah,” ujar Kholil, Rabu (17/5).

Menurutnya, Dinas Lingkungan Hidup Pemkab Situbondo sengaja memanfaatkan areal TPA  sampah untuk melakukan budidaya cacing tanah.”Selain memiliki nilai ekonomi, cacing juga dapat mereduksi sampah-sampah pasar. Ini merupakan pertama kali areal TPA digunakan untuk budidaya cacing tanah,”bebernya.

Khalil menambahkan, dari  sampah-sampah yang sudah membusuk  itu akan menjadi  makanan utama cacing, sisanya dapat dijadikan pupuk kompos. Sedangkan tanah bercampur kotoran cacing yang menjadi tempat berkembang biaknya bisa menjadi pupuk kascing yang baik untuk tanaman.

Untuk sementara budi daya cacing tanah ini, lanjut dia, jumlahnya dalam hitungan satuan sebanyak 20 kilogram benih cacing atau kisarannya ada ribuan ekor cacing tanah yang ada saat ini.

“Kalau sudah memasuki masa panen selama empat bulanan nilai ekonominya lumayan, yakni Rp. 65 ribu per kilogram. Akan tetapi untuk sementara kami tidak akan menjualnya dulu, karena akan terus kami kembangkan sehingga berfungsi mereduksi sampah-sampah pasar yang busuk,” katanya.

Khalil menegaskan, di TPA sampah yang lokasinya berada di Desa Seliwung, Kecamatan Panji, Situbondo, selama ini telah mengelola sampah seperti daun-daun menjadi pupuk kompos, sedangkan sampah residu diolah menjadi gas metan yang dapat dinikmati   sebanyak 10 keluarga sekitar TPA sampah. ”Gas metan  dari TPA itu digunakan untuk kepentingan memasak puluhan keluarga di sekitar TPA sampah,”pungkasnya.(fat)