Inggris, reportasenews.com – Tidak ada rencana membatalkan atau menunda pemilihan umum 8 Juni besok setelah serangan teroris hari Sabtu malam di London Bridge, kata seorang menteri kabinet senior.

David Davis mengatakan dalam sebuah wawancara pada hari Minggu pagi bahwa penundaan apapun akan memerlukan perubahan hukum yang tidak mungkin dilakukan sementara Parlemen sudah dibubarkan sejak 3 Mei lalu, karena itu Pemilu tetap jalan sesuai jadwal.

Tujuh orang tewas dan puluhan lainnya cedera dalam sebuah serangan mobil van dan pisau di London Bridge and Borough Market sekitar pukul 10 malam pada Sabtu malam.

Partai-partai politik utama telah berpikir menangguhkan kampanye pemilu pada 8 Juni, sementara Perdana Menteri memimpin sebuah pertemuan COBRA untuk meninjau keamanan.

Ketika ditanya apakah pemilihan itu sendiri, yang dijadwalkan pada 8 Juni, dapat ditunda, Davis mengatakan kepada BBC: “Saya tidak yakin hal itu dapat dilakukan secara legal. Untuk melakukan ini, Anda harus memiliki beberapa perubahan hukum yang harus dipikirkan, dan siapa yang akan melakukan itu?”

Parlemen sudah dibubarkan pada tanggal 3 Mei lalu menjelang pemilihan umum. Sementara Parlemen berada dalam prorogasi  – periode vakum antara sesi legislatif – tidak ada anggota parlemen yang bekerja saat ini, dan oleh karena itu tidak ada tindakan apapun dari Parlemen atau instrumen hukum yang dapat disahkan buat melegalkan penundaan.

ScreenShot023

Ada beberapa seruan pada media sosial agar pemilihan ditunda, meski sebagian besar tokoh masyarakat dan politisi menolak gagasan tersebut.

Pemilihan umum pernah tertunda pada tahun 2001 karena krisis penyakit kaki dan mulut. Namun, pada saat itu situasinya berbeda, saat itu dan masih ada anggota parlemen bertugas aktif di Parlemen.

Davis sepakat dengan pernyataan Walikota London, Sadiq Khan, yang mengatakan bahwa kelanjutan demokrasi Inggris adalah cara terbaik untuk menunjukkan kita tindak tunduk pada rencana menebarkan ketakutan pada teroris.

“Ada keseimbangan di sini, satu satu tangan dengan jelas kita ingin menghormati orang-orang yang telah terluka dan terbunuh, kami ingin memberikan penghormatan yang benar dan kami tidak ingin meneruskannya,” kata Davis.

“Tapi di sisi lain, orang yang melakukan ini melakukan ini karena mereka membenci kebebasan yang kita miliki. Kebebasan tersebut bisa menjadi kebebasan untuk pergi keluar pada malam minggu atau kebebasan untuk memberikan suara.” (Hsg)