Probolinggo, reportasenews.com – Bingung cari kue untuk Lebaran, jangan bingung! bila rumah anda dekat dengan tanaman mangrove yang biasa tumbuh di pantai, bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam makanan termasuk kue untuk Lebaran.

Seperti dilakukan oleh para ibu di Probolinggo ini, memanfaatkaan daun dan biji mangrove untuk kue Lebaran.

Pohon baku mangrove, selain berfungsi sebagai pencegah abrasi dan pemecah ombak, juga buahnya yang dikenal beracun, selain dimanfaatkan sebagai obat, ternyata juga disulap menjadi stick jeruju serta kue kering untuk Lebaran.

Buah dan daun mangrove jenis jeruju menjadi inovasi pangan yang dilakoni oleh ibu-ibu Kelompok Duta Harapan, di Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Mereka membuat stick jeruju dan kue kering yang berbahan dasar dari mangrove.

Stick Mangrove salah satu makanan dari bahan mangrove hasil karya ibu-ibu dari Probolinggo. (foto: dic)
Stick Mangrove salah satu makanan dari bahan mangrove hasil karya ibu-ibu dari Probolinggo. (foto: dic)

Ibu-ibu ini memanfaatkan lahan mangrove yang ada di sekitar rumahnya, yang berada di daerah Pesisir Pantai Utara Probolinggo. Jelang Lebaran ini, mereka tiap hari disibukkan dengan membuat kue dan stick yang berbahan dari pohon baku mangrove tersebut.

Proses pembuatannya terbilang mudah, buah atau biji mangrove yang beracun dikupas dan diambil bagian dalamnya. Kemudian dicuci bersih dan direbus. Setelah itu, untuk membuang racunnya, biji mangrove direndam memakai air garam selama 1 hari, kemudian dijemur hingga mengering, selanjutnya diselep hingga jadi tepung.

Sedangkan daun mangrove jeruju dibersihkan, memisahkan pucuk daun-daun jeruju ini dari duri. Kemudian daun mangrove dicuci bersih, lalu dibelender.

Setelah itu direbus hingga berubah warna menjadi hijau kecoklatan. Baru kemudian didinginkan, lalu dicampur dengan bajan-bahan lain, seperti tepung terigu, telur, bawang putih, bawang merah, gula dan garam, mantega, serta dicampur dengan tepung dari buah mangrove tadi.

Semua bahan campuran tersebut, dijadikan adonan, kemudian dicetak lalu digoreng. Setelah matang dan mengering, kerupuk mangrove dikemas. Untuk kue keringnya juga dicetak, dipercantik kemudian dioven selama 20 menit.

“Kami memanfaatkan daun mangrove jenis jeruju itu diolah menjadi kerupuk sehingga mempunyai nilai jual, begitu dengan buahnya menjadi kue kering. Ada tujuh jenis kue yang kami buat dari mangrove, untuk kue Lebaran, dengan harga bervariasi perbungkusnya,” kata Wiwit Homsiatun, Ketua Kelompok Duta Harapan, Selasa (14/6).

Wiwit menjalaskan, jelang Lebaran ini permintaan kerupuk dan kue mangrove semakin meningkat, dari dalam dan luar Probolinggo. Jenis kue mangrove yang laris dipesan kata Wiwit, adalah kerupuk dengan harga Rp 4.000 per bungkus, stick jeruju Rp 7.000 per bungkus, kue ulat sutra Rp 8.000 per bungkus, koro sembunyi Rp 10.000 per bungkus, koro mangrove dan kue kering sumprit Rp 15.000 per bungkusnya.

Membuat kue berbahan mangrove, kata Wiwit, punya keunikan dan harus benar-benar teliti. Belajarnya pun menempuh waktu selama dua bulan untuk memahami cara membuat kue dan kerupuk berbahan baku mangrove.(dic)