Malang,reportasenews.com – Pengaruh perubahan cuaca yang cukup ekstrim selama sekitar tiga tahun terakhir ternyata mempengaruhi produksi tanaman perkebunan di PT Perkebunan Nusantara XII. Hasil produksi tanaman berupa kopi, teh, serta tebu, belum memenuhi target produksi.

Direktur Komersil PTPN XII Hudi Prihmono Minggu(20/8) kepada wartawan mengemukakan produksi kopi di perkebunan saat ini masih belum optimal. Hujan ternyata membuat bunga kopi rontok, sehingga gagal berbuah.

Ia mengatakan, mayoritas jenis kopi di perkebunan adalah robusta. Saat ini, produksi kopi arabika masih belum sesuai dengan rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP).

“Cuaca ekstrim, hujan berkepanjangan berdampak pada merosotnya produksi kopi arabika. Saat pembungaan seharusnya tidak hujan, tapi justru hujan sehingga bunganya rontok,” ujarnya.

Selain kopi, produksi tanaman kebun lain seperti teh dan tebu juga kurang optimal. Hujan memicu terjadinya penyakit cacar pada tanaman. Untuk tanaman teh, sebetulnya bisa produksi lebih baik ketika hujan, tapi jika tidak terkena cukup sinar matahari justru berdampak buruk. Penyakit cacar menyerang bagian pucuk tanaman, sehingga berdampak pada kualitas.

Saat ini, tambah dia, produksi teh di Kebun Teh Wonosari, Malang, mencapai 10 ton per hari. Namun, produksi teh di Kebun Kertowono, Lumajang, justru lebih sedikit, hanya 3-4 ton. Hal ini dikarenakan, di daerah tersebut intensitas hujan lebih tinggi.

Sementara itu, untuk produksi karet, Hudi saat ini masih cukup bagus. Produksi karet dipastikan meningkat 30 persen di atas prognosa tahun ini yang dipatok 14.000 ton dari luas lahan hingga 16.000 hektare.

“Prognosa karet 14.000 ton setahun. Ini sudah tercapai. Meningkat sedikit dibandingkan tahun lalu yang hanya 13 ribu ton sekian,” katanya.

Hudi menjelaskan areal kebun karet seluas 16.000 hektare itu berada di wilayah perkebunan Kabupaten Ngawi hingga Banyuwangi. Hujan tidak terlalu berpengaruh pada produksi getah. Namun, berbagai upaya dilakukan mengantisipasi produksi yang kurang optimal, misalnya melakukan perawatan, pemupukan dan pemberantasan hama secara baik.

Selain itu, juga ditopang penerapan teknologi penyadapan yang mendorong getah karet agar optimal. Teknik menyadap dengan sistem pendorong getah itu untuk mempercepat penderesan pada tanaman berusia 13 tahun ke atas.(dif)