Jayapura, reportasenews.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua mengungkapkan kelompok pengeluaran bahan makanan menjadi pemicu utama terjadinya deflasi di Kota Jayapura pada September 2017, yaitu sebesar 0,64 persen.
Dalam konfrensi pers yang digelar Badan Pusat Statistik Provinsi Papua, Senin (02/09), Kepala BPS Papua Simon Sapari menjelaskan faktor pendorong terjadinya deflasi di Kota Jayapura adalah penurunan harga yang cukup signifikan pada beberapa komoditi, diantaranya ikan ekor kuning (Perikanan) , mujair, cakalang, cabai rawit, bawag merah, bawang putih, angkutan udara, dan lain-lainnya. “Sementara beberapa komoditi yang mengalami kenaikan harga diantaranya, daging sapi, celana pendek, telur ayam ras, kangkung, teri, tomat sayur, sawi hijau, dan lainnya,”ungkapnya.
Menurutnya deflasi yang terjadi di Kota Jayapura adalah hal yang baik buat masyarakat karena beban pengeluaran mereka sedikit berkurang. Simon pun mengimbau pemerintah daerah untuk bisa mempertahankan situasi ini.
Sementara itu pada periode september, indeks kelompok bahan makanan turun 2,06 persen, dan transportasi, komunikasi serta jasa keuangan turun 0,43 persen, kelompok kesehatan 0,35 persen.
Sandang menjadi satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks, yaitu sebesar 0,49 persen. Sedangkan indeks harga konsumen (IHK) Kota Jayapura pada periode tersebut mengalami perubahan, dari sebelumnya 129,87 menjadi 129,04.
Sebagai informasi, Pada September 2017, dari 82 kota IHK di Indonesia, BPS mencatat 50 kota mengalami inflasi, sedangkan 32 lainnya deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 1,59 persen, dan deflasi tertinggi di Manado, yaitu 1,04 persen. (riy)

