Fouad Kehilangan Ibu dan Nenek, Duka Keluarga Kristen di Gaza Kembali Pecah
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Dua perempuan Kristen, Maysa Abu Daoud dan putrinya Mary al-Najjar, tewas dalam serangan Israel di Gaza City. Patriark Yerusalem menyampaikan duka mendalam. (AFP/ Omar al-Qattaa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Gaza, ReportaseNews – Kematian dua perempuan Kristen dalam serangan Israel di Gaza City kembali menyisakan duka bagi komunitas Kristen Palestina. Maysa Abu Daoud dan putrinya, Mary al-Najjar, tewas setelah serangan udara menghantam lantai dasar sebuah bangunan di kawasan Remal, Gaza City, Sabtu (3/10/2026).
Keduanya termasuk lima warga Palestina yang tewas dalam serangan tersebut. Peristiwa itu terjadi di tengah gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Hamas.
Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, menyampaikan belasungkawa atas kematian Maysa dan Mary. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai tragedi yang menimbulkan kesedihan mendalam.
“Dengan kesedihan dan duka yang mendalam atas pembunuhan tragis ini, kami menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga kedua korban serta komunitas Kristen di Gaza,” kata Pizzaballa dalam pernyataannya, seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (4/10/2026)
Jenazah Maysa dan Mary dimakamkan pada Sabtu di Gereja Saint Porphyrius, kawasan Kota Tua Gaza City.
Menurut Komite Tinggi Kepresidenan Palestina untuk Urusan Gereja, Maysa dan Mary merupakan warga Kristen Palestina asal Gaza City. Keduanya aktif membantu jemaat serta warga yang mengungsi dan berlindung di Gereja Holy Family.
Ketua komite tersebut, Ramzi Khoury, menyebut kematian keduanya sebagai kehilangan yang menyakitkan bagi keluarga, gereja, dan para jemaat.
Putra Mary, Fouad al-Najjar, yang berusia 14 tahun, mengatakan serangan terjadi sekitar pukul 01.30 waktu setempat. Ia kehilangan ibu dan neneknya dalam serangan tersebut.
“Nenek saya dan ibu saya meninggal. Semoga Tuhan merahmati mereka,” ujar Fouad kepada Anadolu.
Fouad juga menyerukan agar perang di Gaza dihentikan. Ia mengatakan warga Palestina terus kehilangan orang-orang yang mereka cintai akibat konflik berkepanjangan.
“Kami kelelahan karena perang ini dan telah menanggung begitu banyak penderitaan. Selama hampir tiga tahun, kami hidup dalam kehancuran, kesedihan, dan perang yang sama,” katanya.
Pendeta Lutheran Palestina Munther Isaac yang bertugas di Ramallah dan memimpin Bethlehem Institute for Peace and Justice turut menyoroti kondisi tersebut. Melalui unggahan di X, ia mengatakan, “Genosida terus berlanjut di Gaza.”
Komunitas Kristen di Jalur Gaza saat ini diperkirakan berjumlah kurang dari 1.000 orang. Jumlah tersebut telah menyusut setelah sejumlah warga Kristen menjadi korban serangan selama perang yang berlangsung sejak Oktober 2023.
Gereja dan kompleks tempat ibadah Kristen juga beberapa kali terdampak serangan. Pada 19 Oktober 2023, serangan terhadap kompleks Gereja Saint Porphyrius menewaskan sedikitnya 18 orang.
Dua bulan kemudian, Patriarkat Latin Yerusalem menyatakan seorang perempuan dan putrinya ditembak mati oleh penembak jitu Israel di dalam kompleks Gereja Holy Family di Gaza.
Pada 17 Juli 2025, serangan Israel terhadap kompleks Gereja Katolik Holy Family juga menewaskan tiga orang dan melukai sejumlah lainnya, termasuk pastor paroki, Gabriel Romanelli.
Kementerian Kesehatan di Gaza menyebut serangan Israel sejak perang berlangsung telah menewaskan sedikitnya 74.228 orang. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 1.445 orang dilaporkan tewas sejak dimulainya gencatan senjata pada Oktober 2025.
(Al Jazeera/Anadolu/RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar