Ulas Strategi Timnas :  Mencari Formasi Paling Pas

Coach Alfred Ridel pastilah telah menentukan strategi dan konsep bermain Timnas pada leg 2 final Piala AFF 2016 ini. Mungkin sekali sang Coach memilih strategi main bertahan, tapi sangat mungkin pula Timnas disiapkannya untuk bermain normal bahkan offensive.

Dipastikan pula, Coach Riedl telah mengantongi formasi yang diyakininya terbaik bagi Timnas guna menaklukkan Thailand di hadapan para pendukung mereka sendiri.

Kita saksikan bahwa Coach Riedl terbukti fleksibel terkait formasi Timnas sekalipun pada dasarnya selalu 4-2-3-1 tetapi dalam aplikasinya, sesuai dinamika pertandingan, formasi itu sering bertransformasi cepat ke 4-4-2 atau bahkan 4-3-3. Coach Riedl sangat hebat dalam membaca jalannya laga, dan membuktikan dirinya sangat piawai dalam melakukan penyesuaian formasi dan taktik.

Kita percaya pada pilihan terbaik Coach Riedl. Namun, sekedar usul, sekarang ada kesempatan (bahkan keniscayaan) untuk menurunkan formasi dan komposisi pemain yang akan memperkuat The Winning Team Indonesia.

Opportunity untuk membuat Timnas semakin tangguh sejak awal laga nanti dimulai dengan penunjukkan pemain yang paling pas untuk menempati posisi Andik Vermansah yang harus absen karena cedera.

Opsi yang tersedia, secara normal, adalah memainkan Zulham Zamrun di sayap kanan. Tetapi, kali ini, ada pilihan strategi lain yang bisa lebih menguntungkan Timnas, tapi justru sangat tak diinginkan lawan.

Timnas ditakuti lawan, antara lain, karena memiliki pemain-pemain sayap yang sangat cepat, lincah, jago dalam penetrasi dengan dribble, bahkan mampu mencetak gol.

Rizky Pora, seperti biasa menempati posisi gelandang sayap kiri. Namun, kini Rizky Pora akan mengirim bola crossing, passing dan umpan ke kotak pinalti lawan bukan lagi untuk Boaz Solossa melainkan ke Lerby Eliandri sebagai ujung tombak.

Boaz Solossa sendiri akan menyerang dari sayap kanan, dengan support Stefano Lilipaly sebagai gelandang kanan. Jelas, Boaz punya kemampuan hebat dalam dribbling, dan itu sangat dikhawatirkan Thailand.

Tapi, tugas Boaz tak sekedar melepas umpan dan crossing, namun juga menusuk ke tengah pertahanan lawan. Boaz, dengan segala kapabilitas dan tekniknya, sangat mampu untuk melakukan penetrasi ke dalam kotak pinalti Thailand.

Dari situ, Boaz bisa memilih untuk bermain one-two dengan Lerby, atau shooting dengan kaki kirinya (kaki terkuatnya) atau men-delay sampai bek lawan terpaksa menjatuhkannya.

Bola crossing tinggi dari Rizky Pora dan Boaz Solossa akan membuka peluang gol melalui Lerby Eliandri yang punya kelebihan dalam sundulan. Apalagi kalau Bayu Pradana lebih berani masuk dari secondline untuk menyambut bola tinggi dari kedua sayap Timnas.