Jakarta, reportasenews.com – Dugaan punahnya Panthera Tigris Sondaica atau lebih yang lebih dikenal dengan Harimau Jawa belum terbukti. Hal ini dengan ditemukannya gambar Harimau Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, provinsi Banten
Menurut Ketua Ikatan Alumni Sabhawana (IAS), Asgar Sjafri makin menipisnya populasi Harimau Jawa dikarenakan makin berkurangnya lahan hutan.
Saat ini banyak alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan. Belum lagi pemburuan liar di hutan Indonesia juga menjadi ancaman serius. “Belum lama ini di Taman Nasional Ujung Kulon, Harimau Jawa terlihat,” kata Asgar Sjafri.
Menurutnya perlu dilakukan ekspedisi ilmiah untuk mengetahui keberadaan Harimau Jawa. Diediek Haryono mengaku telah melakukan beberapa kali ekspedisi ilmiah terkait Harimau Jawa.
Didik Haryanto mengatakan berkurangnya populasi Harimau Jawa adalah akibat korban dari adanya perambahan hutan.

Sebenarnya banyak penyebab menipisnya populasi Harimau Jawa, namun perpindahan penduduk, dan meledaknya populasi manusia menjadi ancaman utama. “Ada juga yang mati karena sakit, karena perubahan iklim,” kata Didik Haryanto.
Dilain pihak, Sofyan Eyank mengatakan menipisnya populasi satwa liar karena ulah manusia. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Gunung Slamet, Perusahaan tambang emas di Gunung Tumpang Pitu, dan pembangunan infrastruktur publik Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen membuat populasi satwa liar berubah.
“Satwa langka seperti Harimau Jawa pasti kena dampak. Apalagi sempat dinyatakan punah.,” kata Sofyan Eyang.
Dia mengatakan, pernyataan punah malah akan mempercepat hilangnya populasi Harimau Jawa. “Kalau sudah dinyatakan punah sudah tidak ada lagi protect dari segi hukum,” kata Sofyan Eyang.(ltf)

