Iran Balas Serangan, Pangkalan Militer AS di Qatar dan Bahrain Jadi Sasaran
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Iran menarget pangkalan AS di Bahrain dan Qatar. (Foto: X/@TonySeruga)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teheran, ReportaseNews – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Iran resmi menghapus ‘garis merah’ dalam strategi militernya. Teheran menegaskan serangan rudal yang mereka luncurkan tidak lagi terbatas pada wilayah Israel, melainkan meluas dengan menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di negara-negara Teluk, termasuk Qatar dan Bahrain.
Langkah berani itu menandai pergeseran radikal dalam peta konflik kawasan. Di Qatar, Kementerian Pertahanan setempat mengonfirmasi sistem pertahanan Patriot harus bekerja keras mencegat rudal Iran yang masuk ke wilayah udara mereka.
Seorang pejabat Qatar menyebutkan setidaknya ada dua proyektil yang berhasil dilumpuhkan sebelum menghantam sasaran. Namun, situasi berbeda dilaporkan terjadi di Bahrain. Ledakan besar mengguncang wilayah tersebut setelah kantor berita Fars melaporkan serangan langsung terhadap fasilitas vital Amerika Serikat.
Target utama di Bahrain adalah pusat layanan Armada Kelima Angkatan Laut AS yang bermarkas permanen di Manama. Mengingat posisi Bahrain sebagai sekutu utama Washington di Teluk Persia, serangan ini menjadi pesan keras bagi negara-negara yang menampung kekuatan militer Barat.
Pihak berwewenang Bahrain telah mengonfirmasi bahwa pangkalan strategis tersebut memang menjadi sasaran tembak dalam gelombang serangan terbaru ini.
Seorang pejabat senior Iran menegaskan kepada Al Jazeera bahwa pihaknya tidak akan lagi memberikan toleransi terhadap keberadaan militer asing yang dianggap berkolaborasi dengan Israel.
Pejabat tersebut menyatakan semua aset dan kepentingan Amerika serta Israel di Timur Tengah kini menjadi target yang sah bagi militer Iran.
Menurut dia, tidak ada lagi batasan atau protokol keamanan yang akan dipatuhi setelah agresi gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
“Semua aset dan kepentingan Amerika dan Israel di Timur Tengah telah menjadi target yang sah. Tidak ada garis merah setelah agresi ini, dan semuanya mungkin terjadi, termasuk skenario yang sebelumnya tidak dipertimbangkan,” tegas pejabat senior tersebut dalam pernyataannya.
Lebih lanjut, pihak Teheran menepis segala seruan internasional yang meminta mereka untuk menahan diri. Mereka menganggap tuntutan agar Iran menunjukkan pengekangan diri adalah sesuatu yang tidak masuk akal dan hanya sekadar angan-angan belaka di tengah situasi perang yang sudah terbuka.
Pihak Iran mengklaim telah menyiapkan tanggapan yang jauh lebih kompleks dan berjangka panjang sebagai balasan atas apa yang mereka sebut sebagai agresi kriminal terhadap kedaulatan Republik Islam.
“Amerika Serikat dan Israel telah memulai agresi dan perang yang akan memiliki dampak luas dan jangka panjang. Kami tidak terkejut dengan agresi gabungan Amerika-Israel dan kami memiliki tanggapan yang kompleks tanpa batas waktu,” tambah pejabat tersebut menutup pernyataannya.
Kondisi ini dipicu oleh pengumuman Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran yang mengonfirmasi peluncuran gelombang besar rudal dan drone. Serangan ini diklaim sebagai pembalasan langsung atas tindakan musuh yang dinilai telah melampaui batas di wilayah-wilayah pendudukan. (DBS/RN-03)
- Penulis: Saparuddin Siregar


Saat ini belum ada komentar